Para pengusaha besar tidak mampu membeli tanah itu karena Arsenio tidak akan pernah menjualnya. Tentu negara pun tidak mampu merenggut milik Arsenio.
Banyak pengusaha besar terheran bagaimana bisa ada orang yang memiliki lahan sebanyak itu. Bukan hanya di kota-kota kecil Amerika, Arsenio pun memiliki banyak lahan di area pelosok negeri.
Bisnis rahasia yang dilakoninya saat ini berhasil membuat dirinya menjadi seperti sekarang ini. Berkuasa, tak terkalahkan dan... ditakuti banyak kalangan.
"Kalian, pergilah. Aku tidak mungkin memaki kalian satu persatu." Arsenio kembali menuangkan minuman ke dalam gelas milik Alvian yang tinggal berisikan es batu.
Lagi-lagi Arsenio memberi isyarat agar Alvian kembali meminum minuman yang baru saja dia tuangkan dengan cara memasukan dagu sekilas.
Sungguh, pergerakan Arsenio sekecil apa pun mampu melakukan banyak hal. Termasuk membuat pak tua ini bergetar menahan ketakutan. Alvian kembali menenggak minuman itu hingga meninggalkan es batu hasil pahatan Arsenio.
"Apa ada cara untuk masalah ini? Kau tahu aku mempertaruhkan nama baikku gara-gara manusia sialan itu?" tanya Arsenio seolah mulai meredam emosinya.
"Maaf, Tuan. Sungguh saya tidak tahu menahu soal penangkapan Jordy. Anda pasti tidak percaya, tapi memang begitu adanya," jawab Alvian mulai mencoba membangun kembali nyalinya untuk menghadapi Arsenio.
Arsenio menaikkan salah satu sisi alisnya yang tebal. "Jadi menurutmu aku harus menyalahkan orang lain?" tanya Arsenio lagi meremehkan jawaban Arsenio. Arsenio bukanlah spesies yang mudah mempercayai mulut manusia.
Menurutnya, kepercayaan yang sesungguhnya hanya untuk dirinya sendiri. Bukan untuk orang lain. Dan itu harga mati bagi seorang Arsenio.
Andai dia mengiyakan kalimat orang lain, itu hanyalah untuk kepentingan, bukan berarti dia memberikan sebuah kepercayaan.
"Saya merasa ada seseorang yang sengaja melakukan ini, Tuan. Melakukan Operasi Tangkap Tangan tanpa memberi tahu saya sedikit pun sebelumnya." Alvian menggebu menyatakan bahwa dirinya benar-benar tidaklah bersalah di sini.
"Maksudmu dari tim anti korupsi itu?" tanya Arsenio mulai sedikit menurunkan egonya.
"Iya, Tuan. Pasti ada orang dari sana yang sengaja melakukan ini untuk sedikit menyentuh anda," sahut Alvian menyetujui dugaan Arsenio.
"Okey, kita lihat siapa yang berani bermain api denganku." Arsenio bermonolog dengan dirinya sendiri. Hal itu membuat Alvian akhirnya bisa bernafas lega.
"Saya akan mencari tahu sumber dari masalah ini, Tuan. Saya pastikan Jordy tidak akan melakukan kebodohan." Tidak langsung menanggapi lawan bicaranya, tiba-tiba datang seorang wanita dengan pakaian seksi berwarna hitam.
Dress press body dengan tali kecil menggantung di kedua pundaknya yang tegap. Wanita itu datang dan berusaha menempel di punggung Arsenio yang tengah duduk di balik meja bar. "Tuan, maafkan aku. Aku terlambat malam ini," bisiknya manja tepat di telinga kiri Arsenio.
Tangan wanita itu bertengger manja di pundak sang tuan yang maha menakutkan. Sementara Alvian hanya mampu pura-pura tidak melihat adegan tempel menempel di hadapannya itu.
Membuang pandangan ke seluruh ruangan yang kini hanya berisikan botol minuman dan para bodyguard andalan Arsenio.
"Urus semua ini dalam waktu satu pekan. Dan kau harus tahu apa yang harus kau lakukan kepada media, bukan?" Arsenio kini mulai bersikap sangat baik.
Menurut Alvian, itu karena wanita cantik yang berhasil mengembalikan mood Arsenio yang sempat rusak karena kabar tertangkapnya Jordy. "T-terima kasih banyak, Tuan. Terima kasih. Saya permisi." Dengan sangat senang juga gugup, Alvian memilih langsung pergi meninggalkan tempat mengerikan itu.
Tinggallah Arsenio dengan sang wanita seksi.
Diane saat ini sedang menikmati waktu istirahat di dalam kamar. Memikirkan sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan hidupnya saat ini. Kenapa semua begitu rumit hingga dia tidak mampu memikirkan hal lain lagi?
Kenapa Arsenio yang awalnya sangat menghormati Lucas, kini justru bersikap kurang ajar di hadapannya secara langsung? Kenapa banyak orang aneh di sekitar Arsenio? Siapa orang yang menjaga pintu unit ini?
Kenapa Arsenio punya banyak sekali harta? Padahal dirinya hanya tahu bahwa Arsenio hanyalah seorang supir.
Memikirkan banyak kemungkinan yang sebenarnya tidak bisa masuk ke dalam akal pikirannya. Hingga terdengar suara bel pintu apartemen membuyarkan lamunannya.
***
Diane bergegas membuka pintu itu perlahan setelah melihat dari dalam Siapa yang datang.
Meski dia tidak mengenali lelaki itu namun feelingnya mengatakan bahwa pria itu adalah utusan suaminya yang akan membawakan makan malam untuknya.
"Ya?" sambut Diane tersenyum ramah kepada lelaki yang ternyata adalah Darren, salah satu kaki tangan Arsenio.
"Ini makan malam anda, Nyonya. Maaf atas keterlambatan saya," ucap Darren membungkuk menyesali kesalahannya.
Diane mengerutkan dahi, membuka pintu sedikit lebih lebar dan memeriksa apa benar ada orang yang menjaga pintu itu. "Siapa dia?" tanya Diane pada Darren lembut.
"Ah, dia salah satu bodyguard Tuan Arsenio, Nyonya. Namanya Teddy. Dia salah satu yang terbaik untuk mengamankan anda," jawab Darren ramah.
Lelaki itu begitu senang karena Nyonya Alexander ternyata tidak seperti wanita-wanita yang pernah ditemuinya saat bersama tuannya. Angkuh, hedonistik, dan yang paling biasa adalah menor.
"Ada masalah, Nyonya?" tanya Darren saat melihat Diane tampak sedikit bingung.
"Ah, tidak. Oh iya, lalu siapa namamu?" tanya Diane ingin tahu.
"Saya Darren, Nyonya."
"Oke, Mr. Darren, tolong sampaikan kepada tuanmu yang sombong itu kalau aku berani di rumah sendiri tanpa penjagaan."
"Panggil Darren saja, Nyonya," balas Darren merasa tidak nyaman saat Diane menyebutnya Mr. Darren.
"Baiklah, tapi tolong segera katakan itu pada tuanmu."
"Tentu itu akan percuma, Nyonya," jawab Darren menundukkan kepalanya lebih rendah.
"Kenapa?"
"Oh, itu karena..."
***
"Tuan sudah lama menungguku?" tanya seorang wanita yang saat ini masih membersamai Arsenio.
"Maaf tadi aku terlambat, aku tidak tahu kalau Tuan sudah kembali," lanjut wanita itu yang sejak tadi tidak mendapatkan perhatian sedikit pun dari Arsenio.
Kini di dalam bar yang sudah kembali sepi. Hanya ada beberapa bodyguard yang masih tetap bertugas mengamankan lokasi itu.
"Kau mulai sekarang tidak perlu datang, aku tidak butuh teman minum," jawab Arsenio datar. Tidak membalas sentuhan sedikit pun dari wanita itu.
Memang bukan hal yang aneh, karena biasanya memang sang wanita lah yang gatal terus menyentuh tubuh Arsenio. Dan Arsenio tidak pernah menyentuh wanita mana pun.
Arsenio menganggap wanita yang ada di dunianya yang gelap adalah wanita-wanita yang sangat menjijikkan. Yang mana mereka akan bersedia memberikan tubuhnya kepada siapa saja yang akan membayar mereka.
Dan Arsenio tidak pernah terpikir untuk menjadi pemuas nafsu para jalang itu.
"Tapi, Tuan. Apa Tuan yakin tidak ingin sebentar saja bermain-main denganku?" tanya wanita itu lagi masih kekeh ingin mendapatkan perhatian dari tuannya yang sangat acuh.
Arsenio tidak menjawab, dia hanya mengeluarkan sebuah pistol jenis Glock Meyer 22 kemudian meletakkannya di atas meja bar dan si wanita jelas tahu apa maksud dari tuannya.
Raut wajah yang awalnya sangat menggoda dan penuh gairah itu tiba-tiba hilang dan berubah menjadi raut muka yang penuh dengan ketakutan.
"Tuan," lirih wanita itu melepaskan tangannya yang bergelayut manja di pundak sang tuan.
"Urus pembayaranmu dengan Max, dan jangan pernah datang ke sini lagi." Sambil memeriksa isi Glock Meyer 22 miliknya, apakah masih ada peluru di sana atau tidak.
"Sena!" seru seseorang yang ternyata adalah Max.
Wanita yang ternyata bernama Sena itu menoleh ke arah sumber suara dan tahu arti tatapan mata dari Max.
Sena perlahan pergi meninggalkan Arsenio dengan Glocknya. Dengan perasaan yang sangat dongkol, wanita itu berjalan menuju lelaki yang memanggil namanya.
"Ini bayaranmu malam ini. Tuan tidak menginginkan teman minum lagi, jangan pernah datang atau kau akan tahu akibatnya."
Max memberikan sebuah amplop coklat berisikan segepok uang kepada Sena. Dengan raut wajah yang sangat kesal, Sena menyahut uang itu dan segera pergi meninggalkan bar.
Sedangkan Max memilih mendekat ke arah tuannya yang saat ini seperti sedang melamun. "Tuan butuh sesuatu?" tanya Max kepada tuannya dengan sangat hati-hati.
"Aku merasa muak malam ini, Max." Arsenio mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya saat ini.
Sementara Max tentu saja bingung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh tuannya. Juga bingung bagaimana dia akan menjawabnya.
"Maaf, Tuan. Apa ada masalah lain? Saya siap menerima perintah." Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Max berusaha menempatkan dirinya sebagai lawan bicara yang tepat untuk sang Tuan yang sebenarnya tidak banyak bicara apa lagi curhat itu.