Bahkan gadis itu melupakan rasa takut akan bagaimana ngerinya Arsenio saat kesal. Yang menguasai dirinya saat ini hanyalah amarah terhadap suaminya. Tentu dia tidak akan mengingat bagaimana mengerikannya suaminya di saat marah. Bahkan Diane benar-benar tidak peduli akan hal itu lagi. Arsenio tampak sedikit aneh. Lelaki itu berjalan mendekat ke arah meja makan. Tempat di mana saat ini istrinya cemberut dengan dua botol kosong di hadapannya. Duduk tepat di samping istrinya, namun Diane justru membuang muka. "Maafkan aku." Arsenio meraih wajah Diane yang berpaling darinya. Lelaki itu tampak sangat serius saat merayu Diane agar segera melupakan kekesalannya. Diane terhenyak. Lagi-lagi sikap Arsenio membuatnya menjadi bingung. Kenapa lagi dia? Sebentar marah, sebentar mengerikan, sebentar

