Prolog
Kinan berlarian di antara pengunjung restoran untuk mengejar Rayhan, suaminya. Semua mata pengunjung menatap dirinya beragam. Ada yang heran, marah, bingung, dan banyak lagi. Layaknya selebriti yang sering wara-wiri di televisi.
"Mas! Dengerin aku dulu." Panggil Kinan menarik ujung jas Rayhan. Mencegah pria itu pergi lebih jauh lagi.
Rayhan masih tidak bergeming dengan langkah kakinya yang semakin cepat. Meninggalkan Kinan lagi di belakang. Dadanya panas akan sesuatu yang membuat dirinya akan meledak.
"Mas, berhenti! Dengerin aku dulu mas." Jerit Kinan putus asa.
Rayhan menghentikan langkahnya dan menghembuskan napas kasar. Dia membalikan badanya menghadap Kinan yang sudah menahan tangis. Wajahnya mendadak menatap Kinan dingin.
"Dengerin penjelasan aku dulu Mas. Jangan buat presepsi sendiri. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama teman kamu itu. Kita nggak sengaja ketemu dan dia maksa traktir aku makan mas. Aku nggak enak nolaknya. Maafin aku." Ucap Kinan menarik tangan Rayhan kedalam genggamanya.
"Jadi ini alasan kamu sering keluar?" Tanya Rayhan sambil tertawa.
"Mas jangan kaya gini. Mas tau aku keluar buat kerja, bukan yang aneh-aneh." Kinan menatap Rayhan takut. Lebih baik Rayhan marah mengeluarkan sumpah serapahnya. Dibandingkan Rayhan yang tenang seakan tidak terjadi apa-apa.
"Oke kalau kamu lebih milih si b******k itu daripada aku sama Dea. Aku nggak maksa. Tapi hak asuh Dea aku yang ambil." Ucap Rayhan tiba-tiba lalu melepaskan pegangan Kinan pada tanganya. Dan lansung meninggalkan Kinan sendiri.
Kinan tercekat ditempatnya. Masih bingung mencerna kalimat Rayhan. Hak asuh? Apa berarti dirinya dan Rayhan akan berpisah? Menjalani hidup masing-masing dengan label mantan suami istri?
Setelah Rayhan pergi. Kinan duduk lemas disalah satu bangku. Funia.twrasa runtuh dibawah kakinya, kepalanya juga twrasa pusing sekarang.
"Nan... kamu nggak papa? Tadi aku lihat Rayhan."
Kinan mendongakan kepalanya. Dia melihat Rama sudah berdiri di hadapanya dengan raut wajah pias. Memang saat Rayhan menghampirinya. Rama sedang ke kamar kecil.
"Aku kehilangan Rayhan, Ram. Dea juga kehilangan Mamanya. Aku musti bilang apa sama Ibu?" Ucap Kinan mengingat Ibunya di Jogja. Beliau adalah orang yang paling bahagia ketika dirinya menikah dengan Rayhan. Pasti beliau akan sangat kecewa. Apalagi berkat Rayban, orang tua Kinan mentas dari lilitan hutang, dan Kinan terhindar dari dinikahi juragan yang sudah beristri tiga.
Rama menatap Kinan prihatin. Dia bukanya tidak tau kalau penyebab perkelahian antara Kinan dan Rayhan pastilah dirinya. Rayhan menganggap Rama dan Kinan memiliki hubungan spesial.
Padahal sama sekali tidak. Rayhan dan kecemburuannya benar-benar kombinasi sempurna untuk menghancurkan pernikahannya sendiri. Ini bukan yang pertama kalinya, Kinan dituduh macam-macam.
"Kamu tenang aja dulu. Nanti aku coba ngomong sama Rayhan." Rama mengelus punggung Kinan supaya wanita itu tenang.
Namun di kejauhan sana. Rayhan menyaksikan semua itu. Dia mengepalkan tanganya. Lalu benar-benar meninggalkan restoran yang digunakan istrinya menemui selingkuhanya.
Setelah ini Rayhan tidak akan membiarkan anaknya bertemu dengan Kinan. Biar bagaimanapun Kinan berselingkuh. Rayhan tidak akan memaafkan Kinan apapun alasanya.
Tukang selingkuh tidak akan pernah dia maafkan! Camkan itu, Kinan!
****