Rayhan memasuki kamar putrinya. Jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Mungkin saja Dea sudah tertidur di dalam selimutnya.
Tapi Rayhan salah. Baru saja dia membuka pintu. Dea sudah berlari memeluknya sambil menangis. Rambutnya pun acak-acakan
"Papa, Mama kemana?" Tanya Dea masih memeluk Rayhan. "Dea kangen banget sama Mama, dari pagi udah ditinggal." Rajuk Dea manja. Kepalanya bersembunyi di bahu sang papa yang memasang raut dingin.
"Memangnya kamu nggak kangen Papa?" Tanya Rayhan mencoba biasa saja, mengangkat Dea ke gendonganya. Kemudian dia membawa putrinya ke tempat tidur.
Dea menggeleng menjawab pertanyaan Rayhan.
"Dea nggak kangen sama Papa. Papa kan selalu sibuk. Tapi Mama selalu di rumah nemenin Dea." Jawab Dea sewot, bersedekap menatap Rayhan.
"Anak papa udah makan?" Tanya Rayhan mengalihkan pembicaraan.
Dia terlalu malas jika membicarakan wanita itu. Dia tidak mau sampai melampiaskan kemarahanya kepada Dea yang tidak tau apa-apa.
"Belum Pa." Dea menggelengkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya dan memainkan jemari besar Rayhan.
"Loh emang Bi Jum nggak suapin Dea?"
Rayhan hampir saja bangun untuk menghampiri Bi Jum, pembantu rumah tangga di rumah Rayhan. Tapi tangan kecil Dea menghentikanya.
"Dea yang nggak mau Pa. Dea mau disuapin sama Mama." Ucap Dea memohon, matanya berkaca-kaca lagi. Rayhan mengetatkan rahangnya menahan geram. Sangat membenci anaknya terus mengungkit nama wanita tidak tau diuntung itu.
"Udah ya Dea, jangan manja. Sekarang kamu makan. Papa yang suapin." Rayhan mencium pipi Dea sayang.
"Dea mau Mama! Mau Mama pokoknya!" Jerit Dea memukuli bahu Rayhan.
"Dea!!!" Bentak Rayhan sampai Dea terdiam karena terkejut. Biasanya semarah apapun Papanya. Rayhan tidak pernah mengeluarkan nada tinggi.
"Kamu makan sekarang. Atau nggak sama sekali."
Dea merangkak turun dari pangkuan Papanya.
"Dea benci Papa! Jangan ngomong sama Dea lagi sebelum Papa bawa Mama pulang. Pasti Mama marah karena di bentak Papa. Makanya Mama nggak mau pulang." Dea mengubur dirinya kedalam selimut bergambar princess nya.
Rayhan mengacak rambutnya frustasi. Dia langsung pergi meninggalkan kamar Dea untuk mengambilkan makan malam untuk putrinya. Rayhan tidak akan membiarkan Dea tidur dengan perut kosong.
****
Rayhan berkutat dengan bahan-bahan masakan di dapur. Dea cukup pemilih mengenai makanan. Dia hanya makan makanan yang di masakan oleh wanita itu atau Rayhan. Dan tidak lupa masakan Bi Jum.
Dea juga sangat suka jika makan di luar. Tapi Rayhan membatasinya. Karena makanan dirumah lebih sehat. Daripada makanan di luar.
"Papa." Panggil Dea riang.
Rayhan tersenyum mendengar nada riang Dea. Masih sambil memotong hati ayam untuk campuran nasi goreng kesukaan Dea. Rayhan bertanya pada putrinya.
"Kamu udah laper? Papa bikinin nasi goreng." Ucap Rayhan, tanpa menoleh. Sibuk dengan pisau.
"Yes! Makasih Papa. I love you."
Rayhan tersenyum, meski perasaan marah masih menggelayuti. Dia tidak ingin menampakkan kemarahannya seperti tadi, dab membuat sang putri ketakutan.
"Sama-sama sayang, i love you too." Jawab Rayhan pelan.
"Mama bantuin Papa dong biar cepet selesai. Dea udah laper banget nih. Pasti masakan Papa sama Mama enak banget deh."
Rayhan menghentikan pisaunya. Dia membalikan badanya dan cukup terkejut mendapati Dea memeluk pinggang Kinan. Sedangkan Kinan terus menatap Rayhan dengan mata beningnya yang berkaca-kaca. Mata yang dulunya membuat Rayhan bertekuk lutut.
"Cepet Ma bantuin Papa. Dea tunggu di kamar aja ya. Kalau udah selesai panggil Dea."
Setelah itu Dea berlari meninggalkan Kinan dan Rayhan yang berdiri canggung.
"Mas aku bantu ya." Kinan mendekati Rayhan dan langsung mengambil blender dan menghaluskan bumbu untuk nasi goreng. Dan itu tanpa persetujuan Rayhan.
Rayhan hanya mengawasi sambil menahan napasnya. Kemudian melanjutkan memotong hati ayam tanpa memperdulikan Kinan yang sesekali melirik kearahnya.
"Mas jangan salah paham sama Mas Rama. Aku sama Mas Rama nggak sengaja ketemu. Terus Mas Rama ngajakin makan siang bareng."
"Terserah aku nggak peduli lagi!" Ucap Rayhan sambil meletakan pisaunya kesal. "Aku bakal ngurus surat perceraian kita."
Dada Kinan sesak mendengarnya. Sakit sekali ditatap sedemikian dingin oleh orang ang begitu dia cintai. Rayhan memasukan tanganya kedalam saku celana, wajahnya tampak angkuh. Sama persis seperti pertama kali bertemu. Rayhan yang hangat dan penggombal, seketika sirna. Sudut hati Kinan merasa kehilangan.
"Pikirin Dea Mas. Apa Mas nggak kasihan sama Dea? Terus aku harus bilang apa sama Ibu Mas? Ya Allah..." tanya Kinan memelas.
"Bilang aja kalau kamu selingkuh." Jawab Rayhan santai.
"Harus berapa kali aku bilang. Aku nggak selingkuh Mas!" Bantah Kinan. Dan itu kenyataanya.
"Kamu selingkuh!" Rayhan membanting barang yang berada di dekatnya. Kemudian berjalan cepat ke kamarnya.
"Mas Re!" Teriak Kinan membuntuti Rayhan yang tiba-tiba kalap dan langsung kekamar.
Sesampainya dikamar. Kinan menutup mulut tercengangnya ketika Rayhan memasukan baju-baju Kinan kedalam koper.
"Mas maksud kamu apa?" Kinan menarik bajunya yang akan di lemparkan Rayhan kedalam koper. Lalu membuangnya kesembarang arah.
"Kamu emang nggak pernah cinta sama aku Nan. Aku lepasin kamu sekarang. Kamu seneng kan?" Rayhan tertawa kecil. Tapi hatinya menangis.
Kinan meremas ujung dress yang dia kenakan. Pernikahan mereka memang bukan di awali dengan cinta. Jujur saja, Kinan menikahi Rayhan karena Rayhan membantu Ibuknya di jogja melunasi hutangnya kepada rentenir. Sehingga Kinan terpaksa menikahi Rayhan untuk balas budi. Karena Rayhan mencintainya.
Awalnya Kinan merasa risih akan kehadiran Rayhan.
Namun seiring berjalanya waktu Kinan juga mencintai Rayhan. Karena Rayhan memperlakukan Kinan dengan sangat baik.
"Besok aku ke Jogja. Aku yang bakal jelasin ke Ibu." Ucap Rayhan datar.
Rayhan menghela napasnya kasar. Menatap wajah cantik Kinan untuk yang terakhir kalinya. Kemudian pergi dari kamar. Lebih baik dia tidur di luar malam ini.
Kinan hanya bisa pasrah. Dia menyeka air matanya yang jatuh deras. Rumah tangganya benar-benar sudah hancur. Dan itu karena dirinya.
"Mama!" Suara Dea menghentikan lamunan Kinan. Dia menyeka air matanya dan langsung memeluk Dea yang berada di belakangnya.
"Maafin Mama ya sayang. Nggak seharusnya kamu denger ini. Mama salah." Lirih Kinan.
"Mama nggak salah. Nanti Dea bujuk Papa ya Ma. Mama jangan nangis, nggak boleh nangis." Kinan mengusap air mata di pipi putih Kinan. Lalu memeluk Kinan erat.
****
Keesokan harinya Kinan merasa cemas. Karena Rayhan sama sekali tidak pulang kerumah. Ataupun menghubunginya. Kinan tau kalau Rayhan tidak pulang kerumah. Pasti lelaki itu bermalam di klub. Dan berakhir dengan mabuk berat.
"Kamu dimana mas..." Kinan bolak-balik menelpon Rayhan. Tapi selalu tidak aktif.
Ponsel Kinan tiba-tia berdering. Dia melihat nama 'Mas Rama' terpampang di kayar ponselnya.
"Assalamu'alaikum Mas."
"Wa'alaikumsalam Nan. Gini... kamu jemput Rayhan ya. Dia mabuk berat Nan." Ucap Rama diseberang sana.
"Ya udah Mas. Kirim aja alamatnya. Aku jemput Mas Rayhan sambil nganter Dea sekolah."
Setelah itu Kinan memutuskan sambungan telepon. Dia berjalan tergesa menuju lantai dua. Dimana kamar putrinya berada. Ternyata Dea sudah siap dengan seragam sekolahnya.
Dea menghampiri Kinan dan langsung memeluk mamanya. Dia tau mamanya sedang bersedih, dan dia mencoba segala cara untuk membuat mamanya tidak bersedih lagi.
"Selamat pagi Mama." Sapa Dea menciumi pipi Kinan.
"Pagi juga sayang. Udah siap berangkat sekolahnya?" Tanya Kinan sambil merapikan rambut Dea yang sedikit berantakan. Maklum saja... karena Dea menyisir dan mengikat rambutnya sendiri.
Ini karena Kinan terlalu larut dalam pikiranya. Sehingga dia melupakan Dea.
"Udah dong Ma. Ma, Papa belum pulang ya?" Tanya Dea sambil menarik-narik ujung dress Kinan. Wajah Dea terlihat murung.
Kinan mengangguk dan menggandeng tangan Dea. Gadis kecil berumur 7 tahun itu mendongak menatap Kinan.
Mata Kinan membengkak. Dan hidung Kinan merah. Sudah dapat dipastikan jika Mamanya menangis semalaman.
"Dea nanti pulangnya sama Pak Wawan ya. Mama ada urusan sama Papa." Kinan mengelus rambut Dea. Dan Dea mengangguk semangat.
"Siap Ma! Tapi pulang sekolah kita makan bertiga ya Ma. Udah lama kita nggak makan siang bareng-bareng." Kinan tersenyum kecut. Dan mengangguk paksa.
Setelah itu Kinan menggendong Dea untuk masuk ke dalam mobil.
****