Kinan ragu-ragu memasuki bangunan klub yang cukup besar itu. Selama ini Kinan tidak pernah menginjakan kaki disana. Jangankan menginjakan kakinya. Memikirkanya saja Kinan tidak mau.
Dan sekarang dia harus masuk kedalam untuk menjemput Rayhan.
Kinan masuk kedalam setelah diperiksa oleh dua orang berbadan kekar. Dan berwajah datar. Kinan mengedarkan pandanganya.
Sangat sepi. Hanya ada beberapa orang dan pegawai yang berlalu lalang. Mungkin karena sudah pagi. Jadi para pengunjung sudah pergi.
"Kinan!" Rama melambaikan tanganya. Supaya Kinan mendekat.
"Mana Mas Re?" Tanya Kinan agak cemas. Dia takut kalau Rayhan kenapa-napa. Kalau Rayhan sudah mabuk. Dapat dipastikan Rayhan seperti orang mati. Belum lagi dia yang muntah-muntah dan mengeluh pusing.
"Rayhan ada di dalem Nan."
Kinan mengangguk dan mengikuti Rama memasuki sebuah ruangan yang agak remang-remang.
Di dalam keremangan. Kinan masih bisa melihat Rayhan yang tertidur di sofa dengan tidak nyaman. Kinan duduk disebelah Rayhan. Lalu menepuk-nepuk pelan pipi Rayhan. Sampai kedua mata Rayhan terbuka.
"Kamu... ngapain disini?" Tanya Rayhan begitu melihat Kinan. Dia melirik Rama yang berdiri di belakang Kinan. Dan mengalihkan pandanganya kearah lain.
Kinan tidak menjawab pertanyaan Rayhan. Dia menarik tangan Rayhan lalu Kinan meletakan tangan Rayhan di bahunya.
"Aku bisa sendiri!" Rayhan menarik tanganya dari bahu Kinan. Dan dia mencoba berdiri sendiri.
Meskipun ditolak sedemikian kerasnya. Kinan tetap membantu Rayhan yang tersungkur ke lantai yang beralaskan karpet mahal. Mengkaitkan tangannya pada bahu kekar Rayhan.
Kali ini Rayhan tidak menolak. Kepalanya sudah sangat pusing dan dia ingin segera pulang kerumah.
"Sini Nan biar aku bantu." Rayhan mengangkat tanganya mengisyaratkan Rama agar berhenti.
Kinan menatap Rama meminta maaf. Dan segera membawa Rayhan keluar dari klub. Karena tatapan Rayhan yang sangat tidak bersahabat kepada Rama. Kinan takut akan terjadi perkelahian nantinya.
****
Di dalam mobil terasa sangat hening. Bukan hening yang menenangkan. Melainkan hening yang sangat mencekam.
Kinan sampai menarik napasnya berkali-kali. Dia juga tidak berani menatap kearah Rayhan. Rayhan meletakan tanganya di atas kepala. Dan dia duduk sangat jauh dari Kinan.
"Nanti sore aku ke Jogja mau ketemu Ibu. Sekalian ngomong soal perceraian kita." Rayhan membuka suaranya setelah keheningan yang cukup lama.
Kinan menundukan kepalanya dan mengangguk. Dia akan mencoba ikhlas melepaskan Rayhan.
"Hak asuh Dea aku yang ambil. Aku tau kamu nggak akan sanggup tanggung biaya sekolahnya Dea. Sebulan sekali aku bawa Dea ketemu sama kamu. Kamu nggak usah khawatir."
Lagi-lagi Kinan mengangguk. Benar apa yang dikatakan Rayhan. Dia tidak akan mampu membiayai sekolah Dea. Dan biaya hidup Dea.
Putrinya itu sedari kecil sudah hidup dengan segala kemewahan yang Rayhan berikan. Dan Dea tidak akan ingin menjalani hidup sederhana ketika tinggal bersama Kinan.
"Aku udah siapin kamu rumah buat kamu tinggalin." Rayhan membuang pandanganya kearah jendela setelah melihat Kinan sekilas. Hatinya pun perih, tapi apa daya. Dia tidak bisa menahan Kinan untuk terus berada di sisinya. Sedangakan wanita itu tidak sedikitpun menyimpan rasa cinta untuknya.
"Nggak usah Mas. Aku bakalan tinggal sama Ibuk di Jogja." Suara Kinan tercekat. Dia menunduk dan meremas tangannya. Menyembunyikan aliran air dipipinya.
Rayhan terlihat tidak setuju. Kalau Kinan menetap di Jogja. Itu artinya Rayhan..
Rayhan menggelengkan kepalanya. Niatnya sudah bulat. Dia ingin Kinan hidup bahagia. Kebahagiaan Kinan bukan bersama dirinya.
"Yaudah kalau kamu maunya begitu." Rayhan menutup matanya yang terasa panas. Matanya terasa penuh. Demi Allah... dia ini laki-laki. Kenapa dia ingin menangis?
Pembicaraan selesai. Baik Kinan ataupun Rayhan kembali bungkam. Menyelami pikiran masing-masing. Dan menikmati tusukan-tusukan sakit yang mendiami hati keduanya.
****
"Mama kita mau kemana sih? Kok naik pesawat Ma? Kita mau liburan ya? Tapi kan sekolah Dea belum libur Ma. Nanti kalau Ibu guru Dea hukum Dea gimana? Ibu guru Dea kejam Ma. Nanti Dea dijemur dilapangan lagi. Dea kan malu Ma." Dea berceloteh panjang lebar dengan matanya yang bulat menatap Kinan lucu.
Kinan menghela napasnya lega. Setidaknya suasana mobil tidak hening dengan adanya Dea. Kinan menggoyang-goyangkan Dea yang ada di pangkuanya.
"Mama udah minta izin kok ke Ibu guru kamu. Kita kan mau ketemu sama Eyang Kakung." Jelas Kinan membuat mata Dea semakin membesar.
Kemudian Dea berteriak senang dan memeluk Kinan erat.
"Yes! Akhirnya Dea bisa ketemu Nenek sama Eyang Kakung. Berarti Dea bisa main kesawah lagi dong Ma?" Tanya Dea antusias. Kinan hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
Kinan melirik Rayhan yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara. Dia jadi sangat merindukan Rayhan yang cerewet dan humoris. Bukan Rayhan yang pendiam seperti ini.
"Ma, Papa kok diem aja sih? Papa sariawan ya?" Dea tertawa melihat Rayhan yang semakin menekuk wajahnya.
"Papa nggak sariawan tau!" Jawab Rayhan sambil menggelitiki perut Dea.
"Ampun Pa! Ampun! Iya Papa nggak sariawan deh. Cuman lagi sakit tenggorokan ya kan Ma?" Dea mendongak menatap Kinan meminta bantuan.
"Udah.. udah bercandanya. Sebentar lagi kita sampai." Sebentar lagi kita juga akan pisah... lanjut Kinan dalam hati.
"Iya nih Papa nyebelin banget. Nanti Dea aduin ke Eyang biar di tutuk kepalanya pakai tongkatnya Eyang hehe."
"Papa kan mantu kesayanganya Eyang. Jadi..." Rayhan terdiam menggantung ucapannya. Kemudian Rayhan menegakan tubuhnya kembali dan menatap keluar jendela. Seperti sebelumnya.
Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu disaat dia dan Kinan akan segera bercerai. Rayhan melirik Kinan. Dan Kinan menatapnya begitu juga dengan Dea. Bodoh banget gue, batin Rayhan.
"Jadi apa Pah? Jadi power rangers ya?" Dea terkekeh lalu menyembunyikan kepalanya keleher Kinan sebelum Rayhan menggelitikinya kembali.
Dea mengintip sedikit. Ternyata Papanya masih menatap keluar jendela tanpa menghiraukan candaanya tadi. Kenapa sih Papa! Batin Dea merutuki tingkah aneh Rayhan yang tiba-tiba diam.
Mereka pun tiba dibandara Soekarno-Hatta beberapa saat kemudian. Dea keluar dari mobil digendong oleh Rayhan. Dea terus saja mengomentari apa yang dilihatnya.
"Papa kok bandaranya namanya Soekarno-Hatta Pa. Kenapa nggak Kinan-Rayhan?" Dea mengerucutkan mulutnya.
"Papa kok orang-orang pada bawa koper sih Pa?"
"Kita kan juga bawa Dea." Rayhan mencubit pipi Dea gemas. Ada saja pertanyaan yang di lontarkan Dea. "Kenapa kamu nggak sekalian tanya kenapa orang-orang pada pakai baju."
"Ya biar nggak malu dong Pa. Masa gitu aja Papa nggak tau. Papa payah."
Wajah Rayhan menjadi cemberut. Dea tertawa kencang memeluk leher Rayhan. Tatapanya tidak sengaja melihat tangan Kinan dan Rayhan yang tidak bergandengan seperti biasa.
"Mama sama Papa kok nggak gandengan? Biasanya aja nggak mau lepas."
Kinan hanya tersenyum sedangkan Rayhan menyusun kata-kata yang pas agar Sea tidak merasa curiga.
"Kan Papa lagi gendong kesayangnya Papa."
"Nggak boleh gitu dong Pa. Kalau Mama hilang nanti gimana?"
Rayhan hampir saja menyemburkan tawanya. Tapi dia segera sadar. Dan hanya tersenyum biasa.
"Dea turun gih. Nanti Papa capek." Suruh Kinan yang diangguki oleh Dea. Rayhan menurunkan Dea dan Dea langsung menggandeng tangan Kinan. Melupakan Rayhan.
****