"Alhamdulillah. Makasih banyak udah dianterin makanan. Emang ndak ngerepotin?" "Ah itu... nggak papa kok. Umi nyuruh saya kesini buat anterin makanan buat tetangga baru. Itung-itung silaturrahmi rumah saya pas disamping rumah kamu." Rayhan yang baru saja ingin keluar rumah jadi berhenti karena mendengar suara Kinan berbicara dengan seseorang. Dengan hasrat kekepoan yang tinggi. Dia membuka tirai jendela. Hidungnya langsung kembang kempis saat dilihatnya Kinan berbincang dengan laki-laki unknow. Alias tidak dikenal. Kurang asem. Ngobrol biasa sih Rayhan bisa maklum. Tetapi ini sudah sampai tahap saling tertawa dan melempar senyum. Seketika Rayhan merasa panas, gerah, pengen minum segalon. "Sabar, lagi puasa." Rayhan mengelus dadanya sendiri sambil menormalkan detak jantungnya yang me

