Rayhan meletakan sendoknya lalu menyerobot air mineral dingin. Bukannya hilang rasa pedasnya. Mulutnya semakin jontor dan terbakar. Rayhan rasa ini makanan cabai giling yang berkedok mie ayam. Perut Rayhan sudah terasa melilit padahal baru suapan yang ke lima. Sementara Kinan anteng saja ditempatnya. Sambil sesekali tertawa kecil melihat Rayhan kebakaran di tempatnya. Bibirnya sudah membengkak dan berwarna merah. "Udah ya? Nanti Mas sakit perut." Rayhan menggeleng tidak setuju akan usul Kinan. Ditariknya satu lembar tisu. Mengusap keningnya yang sudah bercucuran keringat. Kalau begini, lebih baik Rayhan keringetan karena nyangkul. Daripada makan mie setan ini. "Enak sih, Nan. Tapi pedes banget, berasa makan cabe. Kamu nggak kepedesan?" Huh-hah-huh-hah kepedesan tidak menghentikan Ra

