Getaran cinta tak terdengar siapa pun, hanya dapat dirasakan oleh hati yang tengah berbunga-bunga.
—Elis Sri W
***
(Adilah)
Aku sulit berkonsentrasi selama Pak Rizal menjelaskan materi di depan kelas. Kepalaku pusing, tubuh menggigil, dan irama jantung tak beraturan. Aku menurunkan kepala perlahan, membenamkan wajah di meja. Suara ketukan cukup keras menggetarkan meja. Aku sontak mengangkat kepala, gelagapan, saat Pak Rizal menatap tajam seraya menunjuk pintu.
“Keluar! Jangan kembali sebelum rasa kantukmu hilang.”
Aku menghela napas berat, enggan menuruti perintah Pak Rizal. “Tapi Pak—“
“Sekarang juga, cepat keluar!” potong Pak Rizal dengan nada tinggi.
Aku tersentak, tak berani membantah lagi. Lantas, aku bangkit dari duduk sambil memegang kening. Ketika melangkah, kaki seolah tak lagi menyentuh lantai, kedua tangan melayang mencari pegangan. Aku mencengkeram bahu seseorang yang menangkapku. Wajahnya samar-samar. Seketika dunia tampak menghitam, hingga aku hilang kesadaran.
***
Aku mencium aroma terapi dalam keadaan terpejam. Walau kepalaku masih pusing, aku memaksakan membuka mata secara perlahan. Langit-langit berwarna putih muncul di retinaku. Pandanganku bergeser ke sudut kanan ruangan, poster paru-paru seorang perokok terpajang di temboknya, dan lemari P3K berdiri tidak jauh dari poster itu. Apa yang terjadi padaku?
“Syukurlah, akhirnya kamu sadar juga,” ucap wanita berjas putih, khas petugas kesehatan yang berdiri di samping kanan brankar. Dia mengulas senyum ramah. “Bagaimana kepalamu, masih pusing?"
“Sedikit.” Aku memegang kepala sambil mendesah. Berarti aku pingsan di kelas makanya dilarikan ke sini. Kepalaku benar-benar pusing ketika hendak meninggalkan kelas, aku hampir terjatuh kalau saja tidak ada seseorang yang menangkap. Setelahnya, aku tidak mengingat apa pun lagi.
“Apa kamu merasakan sesak napas atau sakit punggung?”
Aku menggeleng pelan.
Perawat mengatakan bahwa tensi darah rendah menjadi salah satu pemicu pingsanku. Dia membantuku duduk, menempatkan kepala di antara kedua lutut. Lantas, dia memberiku jus alpukat sebagai penambah energi. Aku memang tidak sempat sarapan dan belum makan siang akibat terlalu sibuk mencari buku di perpustakaan untuk menambah referensi bahan skripsi. Jam dinding menunjukkan pukul 14:18, perutku kosong lebih dari enam jam. Astagfirullah, betapa lalainya diriku terhadap kesehatan. Aku segera meminum jus alpukat secukupnya.
Aku menyadari keberadaan Teh Aliyah. Dia terdiam kaku, tidak mengeluarkan sepatah kata, apalagi menanyakan kondisiku. Aneh sekali. Sosok di sebelah Teh Aliyah membuatku terkejut, Pak Rizal. Aku sontak mengecek jilbab, untunglah masih terpasang meski agak longgar.
Pak Rizal tersenyum seraya mengembuskan napas panjang. Dia mengusap wajah, mengucap syukur. “Maaf, saya udah lancang menggendong kamu karena terlalu panik. Maaf juga, saya menyuruh kamu keluar kelas tanpa tahu kondisi sesungguhnya.”
Aku mengangguk.
Perawat cantik mengulurkan tangan ke arahku. Dia tersenyum, lesung pipi menjadikannya semakin manis, persis Pak Rizal. “Oh, iya, aku Rizka—adik Aa Rizal.”
Aku menyambut uluran tangan dia, mengucapkan namaku, lirih. Wajar saja Rizka mirip Pak Rizal, orang dia adiknya. Kakak beradik selalu memiliki kemiripan. Banyak yang bilang aku mirip Teh Aliyah, entah dari segi apa, padahal Teh Aliyah jauh lebih cantik. Dia pandai merias wajah, kulitnya putih glowing. Sementara aku malas berurusan dengan skin care, merias wajah hanya untuk menghadiri acara tertentu. Ajaib, kan?
“Aa Rizal pernah cerita tentang kamu, Adilah. Dia bilang, kamu cantik. Memang benar sih, padahal sebelumnya, dia nggak pernah memuji wanita. Aku minta diken—“
Pak Rizal sigap berpindah posisi lalu membekap mulut Rizka. Rizka meronta-ronta, memberontak, memukul lengan Pak Rizal. Beberapa detik kemudian Pak Rizal meringis kesakitan, melepaskan Rizka, lalu mengelus telapak tangan kanan. Pak Rizal hendak meremas kepala sang adik, namun Rizka keburu menghindar.
“Sakit tahu, beraninya menggigit,” protes Pak Rizal.
Rizka menyilangkan tangan di bawah d**a. “Makanya jangan asal membekap mulut orang. Tangan Aa bikin aku sesak napas, tahu nggak, sih?”
Pak Rizal merangkul pundak Rizka, mendekatkan bibirnya ke telinga sang adik. Aku mendengar Pak Rizal berbisik, “Awas kalau ngomong lagi, kamu bikin malu Aa aja, Riz.”
Rizka terkekeh. “Ampun. Aku khilaf, A.”
Ritme jantungku menggebu-gebu, hatiku berdesir hebat, mengingat cerita Rizka barusan. Sayang, Pak Rizal langsung memotongnya. Apakah benar yang Rizka katakan, Pak Rizal pernah bilang begitu tentang diriku?
Rizka pamit keluar setelah memastikan kondisiku sudah membaik. Aku mengucapkan terima kasih kepada Rizka. Dia membalas dengan senyuman kemudian berlalu.
“Begitu spesialkah Adilah, sampai Pak Rizal menceritakannya pada Rizka?” Nada bicara Teh Aliyah meninggi. Rahang dia mengeras, sorot mata menusuk pandangan Pak Rizal.
“Maksud Bu Aliyah apa?” Alis Pak Rizal beradu. Reaksi Teh Aliyah seakan membuat Pak Rizal bingung. Aku juga tidak menyangka, Teh Aliyah bersikap demikian.
Teh Aliyah tersenyum kecut seraya menatapku sekilas. “Pak Rizal suka, kan, sama Adilah?”
Bibirku menganga. Apa aku tidak salah dengar pertanyaan mustahil Teh Aliyah?
“Itu bukan urusan Bu Aliyah!” Pak Rizal membuang muka, terlalu kentara menghindari kontak mata dengan Teh Aliyah. Jika tuduhan Teh Aliyah salah, mengapa Pak Rizal menghindar? Aku langsung menepis segala prasangka yang bergelayut memenuhi pikiran. Dia dosenku, tidak mungkin menyukaiku!
Teh Aliyah tertawa sinis. “Tentu jadi urusan saya. Adilah ini adik saya. Pak Rizal punya maksud tertentu, kan, terhadap dia?”
Wajah Pak Rizal memerah. Jemarinya menyatu, membentuk kepalan yang memunculkan otot-otot kasar pada punggung tangan. “Ibu pikir, saya berniat jahat kepada Adilah?!”
Aku menutup telinga rapat-rapat. Pandanganku berkunang-kunang mendengar perdebatan mereka. Lagi pula, tidak lucu kalau aku pingsan untuk kedua kalinya. “Cukup! Jangan berdebat di sini, kepalaku masih pusing.”
Mereka beradu tatapan, sengit. Aku tidak habis pikir Teh Aliyah mengeluarkan beragam tuduhan kepada pria yang diakui teman kuliahnya dulu. Setahuku, hubungan mereka cukup baik sebagai teman satu profesi, malahan Teh Aliyah sering menyanjung dosen muda yang terkenal paling tampan di UNSIKA . Lalu, kenapa sikap Teh Aliyah berubah drastis?
Suara ketukan pintu menghentikan perdebatan mereka. Gadis sipit berjilbab segi empat yang ujungnya dilipatkan ke belakang leher, memasuki ruangan setelah memberi salam. Sahabatku, Lisa, mengucapkan syukur atas kesadaranku.
Aku hanya tersenyum.
“Adilah, saya nggak bisa menjanjikan apa pun, hanya bukti yang bisa saya berikan.”
Aku mengernyitkan kening. “Maksud Bapak bukti apa, ya?”
“Nanti kamu akan tahu sendiri, Adilah.”
Teh Aliyah mengentakkan kaki sambil mendesis. Lantas, dia pergi begitu saja. Aku memanggilnya sekian kali, tetapi dia tidak merespons. Aku menghela napas frustrasi. Bingung, memikirkan keanehan Teh Aliyah hari ini.
“Saya permisi dulu. Kamu istirahat aja, jangan banyak pikiran,” kata Pak Rizal, kemudian meninggalkan ruangan ini.
“Aku merekam adegan romantis kamu sama Pak Rizal tahu.” Lisa antusias menyampaikan kabar itu setelah Pak Rizal benar-benar keluar.
Mataku membulat, masih sempat dia mengambil video di tengah situasi genting. Bukannya mengkhawatirkanku.
“Orang aku pingsan, romantis apanya coba? Kurang kerjaan banget kamu, Lis.”
Lisa memegang kedua pipi seraya tersenyum semringah. Wajah putih mulus dia seketika memerah. “Romantislah, persis adegan pangeran menggendong sang putri.”
Lisa menunjukkan sebuah video di ponselnya. Aku tersenyum cerah, menyaksikan Pak Rizal berjalan tergopoh-gopoh menggendongku dari kelas menuju klinik kampus. Keramaian mahasiswa tersorot dalam video yang berdurasi kurang dari satu menit.
“Tadi aku sempat ke sini sebelum kamu sadar. Pak Rizal kelihatan khawatir banget tahu, memandangi wajah kamu tanpa henti. Tapi Bu Aliyah kayak malas gitu melihat kekhawatiran Pak Rizal. Menurutku, Bu Aliyah cemburu deh.”
***
Sepulang dari kampus sore tadi, Teh Aliyah masih sudi memapahku ke kamar walau diam seribu bahasa. Dugaan Lisa tentang kecemburuan Teh Aliyah membelenggu dalam benakku. Aku ingin sekali bertanya ‘apa Teh Aliyah menyimpan perasaan kepada Pak Rizal?’, tetapi kondisiku tidak memungkinkan membahas masalah itu sekarang.
Ummi panik setelah mengetahui aku pingsan di kampus. Aku sudah menjelaskan hanya mengalami hipotensi . Ummi malah bersikeras membawaku ke dokter, akhirnya aku pasrah. Dokter memberiku fludrocortisone dan menyarankan agar aku istirahat untuk memulihkan kondisi. Malam ini aku berusaha melepaskan beban: tugas kuliah, skripsi, dan masalah Teh Aliyah. Aku memejamkan mata selepas menarik selimut.
Dering ponsel tanda panggilan masuk memecah kesunyian. Satu kali mengabaikan, dua kali menutup telinga, dan ketiga kalinya aku tidak tahan lagi. Berisik. Aku terpaksa membuka mata, namun tetap berbaring. Aku segera meraih ponsel, tidak jauh dari bantal. Foto pria berkemeja navy yang muncul di layar ponsel membuat dadaku berdebar.
Mau apa dia? Tumben menghubungiku malam-malam. Ah, kalau saja aku tahu dia yang telepon, pasti langsung diangkat.
Aku berdeham, barulah menggeser panel panggilan dengan jari bergetar. Tersambung. Dia memberi salam, aku menjawab terbata-bata. Bicara sama dosen berlesung pipi itu bikin aku gugup walau hanya lewat telepon. Apalagi face to face? Terkadang, aku salah tingkah saat menanyakan materi yang belum dipahami. Jika bukan demi nilai, aku mending jadi mahasiswa pendiam khusus jam pelajarannya.
“Maaf mengganggu. Kamu udah tidur ya, Adilah? Makanya baru mengangkat panggilan saya.”
Aku menggigit bibir. Mataku berkeliaran menyusuri kegelapan kamar, berusaha menyusun kalimat yang tepat. Aku teringat sesuatu, jangan-jangan dia menghubungiku untuk menagih tugas yang wajib dikumpulkan usai jam pelajaran. “Aku belum tidur. Pak Rizal mau menanyakan tugas, ya? Gara-gara insiden pingsan, aku terlambat mengumpulkan. Maaf ya, Pak. Aku kirim lewat email aja sekarang.”
Embusan napas Pak Rizal menembus sepiker ponselku. Bulu-bulu telingaku meremang tak keruan seakan merasakan sebuah tiupan. “Bukan itu yang ingin saya tanyakan.” Hening melanda. Beberapa detik berlalu, Pak Rizal kembali bersuara, “Bagaimana kondisi kamu? Saya nggak bisa tidur tenang sebelum tahu keadaanmu.”
Pertanyaan Pak Rizal menghantarkan getaran aneh yang mengusik relung hatiku. Aku memeluk guling seraya membekap bibir, menahan diri agar tidak berteriak girang. Apa dia dosen yang sangat memperhatikan mahasiswa?
“Adilah ... halo?”
Aku mengerjap kaget. “Eh, i-iya Pak. Alhamdulillah aku udah mendingan.”
“Alhamdulillah kalau begitu. Kamu jangan memikirkan masalah tugas dulu, lebih baik fokus istirahat,” Pak Rizal terdengar menghela napas lalu melanjutkan, “padahal saya lupa ada tugas karena terlalu panik membawa kamu ke klinik. Untung semua mahasiswa berinisiatif mengumpulkannya ke ruangan saya. Saya kasih kelonggaran buat kamu, besok harus mengumpulkan segera, kalau nggak mau dapat nilai E.”
“Kirim lewat email aja, Pak. Besok aku izin nggak masuk kuliah.” Aku mengerucutkan bibir, kecewa. Dia bilang jangan memikirkan masalah tugas, tetapi ujungnya harus mengumpulkan besok. Toleransi macam apa?
“Oke, syafakillah, Adilah.”
**********
Footnote
- UNSIKA: Universitas Negeri Singaperbangsa Karawang
- Hipotensi: tekanan darah rendah
- Fludrocortisone: obat yang berfungsi menyempitkan pembuluh darah sehingga dapat meningkatkan tekanan darah