Obat Penawar Asmara

1583 Kata
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan. —Salim A. Fillah ***   (Adilah) Teh Aliyah berulang kali berganti saluran televisi sambil menggerutu, tidak ada tayangan menarik. Dia menekan tombol merah seketika layar benda kotak itu menghitam tak bergambar. Bagiku akhir pekan ini membosankan, berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya yang penuh canda tawa. Sudah satu minggu kami jarang berkomunikasi, hanya bicara seperlunya saat di hadapan Abi dan Ummi. Aku merebut remote dari tangan Teh Aliyah kemudian menghidupkan televisi kembali. “Sebentar lagi, drama Korea kesukaanku tayang. Jangan dipindahkan, apalagi dimatikan.” Teh Aliyah berdecak seraya melotot. “Pantas aja wawasanmu dangkal, setiap hari menonton film nggak berbobot.” Aku menggertakkan gigi, melemparkan remote ke atas meja. Perkataannya membuatku gemas, padahal dari dulu dia tidak pernah mempermasalahkan selera tontonanku, tetapi sekarang malah terkesan menghina. “Teteh kenapa, sih? Jadi menyebalkan begini?” Aku menarik napas perlahan. Mungkin ini waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah. “Apa karena Pak Rizal?” Teh Aliyah bergeming. Aku memutar tubuh menghadap televisi, duduk menyampingi dia. “Aku udah bisa menebaknya.” “Menebak apa?!” Aku menoleh seraya menampakkan barisan gigi. Tanganku menarik kedua pojok bibir Teh Aliyah hingga melebar. Aku merindukan senyumannya, seperti biasa. “Cieee ... penasaran, ya?” Teh Aliyah menepis tanganku. Dia melemparkan bantal berbentuk hati, aku sigap menangkisnya. “Bisa nggak, sih? Bersikap lebih dewasa, jangan kekanak-kanakan!” “Teteh nggak kesambet, kan?” Aku memegang kening dia, tidak panas. Menurutku, suhunya normal. Dia menggeram. “Berhenti, Adilah! Nggak semua hal bisa dijadikan gurauan.” Aku mengembuskan napas berat. Gagal memancing Teh Aliyah tersenyum, justru membuat dia semakin kesal. “Teteh cemburu sama aku sampai bersikap kayak gini. Apa Teteh menyimpan perasaan kepada Pak Rizal?” Dia tersenyum simpul. “Harusnya kamu mengerti. Buat apa Teteh sering menyanjung dia kalau nggak mencintainya. Hargai perasaan Teteh! Teteh nggak suka, Pak Rizal sangat memperhatikanmu waktu pingsan. Apalagi sampai menceritakanmu kepada adiknya, Teteh gerah mendengar semua itu.” Aku mendesah, kecewa. Wanita mana yang tidak tertarik pada sosok pria tampan, mapan, cerdas, dan Insyaallah saleh? Aku gagal menolak perasaan kagum yang menyerang hati ini. Aku wanita normal, apakah salah mengagumi Pak Rizal, bahkan berharap lebih padanya? Teh Aliyah berdiri, mendengar bel beberapa kali berbunyi. Aku langsung berdiri lalu menarik lengannya. “Biar aku aja Teh, yang membuka pintu.” “Nggak usah.” Dia menabrak bahuku seraya berlalu. *** Pria berlesung pipi mengikuti langkah Teh Aliyah. Wajahnya semakin jelas seiring langkahnya yang mendekat. Aku mengucek mata, memastikan kebenaran. Retinaku tidak salah, dia benar-benar Pak Rizal. Ada urusan apa dia datang ke rumahku? Teh Aliyah mempersilakan dia duduk, tepat di ruang keluarga yang juga menjadi ruang tamu—tempatku berada sekarang. “Tunggu sebentar, saya panggilkan Abi dan Ummi.” “Baik, terima kasih.” Pak Rizal langsung duduk kemudian melirikku sambil tersenyum. Aku mengernyitkan kening. “Maaf, Pak Rizal ada perlu apa ya, sama Abi dan Ummi?” “Pak Rizal mau membicarakan hal penting, mungkin perihal kuliahmu.” Teh Aliyah mengambil alih menjawab pertanyaanku sebelum berlalu. Aku menggigit bibir. Walau aku yakin telah mengumpulkan semua tugas, nilai juga tidak bermasalah. Aku tetap gelisah memikirkan alasan dosen Pengendalian Hama Terpadu ingin menemui Abi dan Ummi. Pak Rizal berdiri saat Abi dan Ummi datang. Dia menyalami mereka sekaligus memperkenalkan bahwa dirinya—dosenku. “Saya senang sekali kedatangan seorang dosen muda, seperti Nak Rizal.” Abi tersenyum ramah. Ummi turut tersenyum. Aku memilih pergi ke dapur. Setidaknya bisa menenangkan diri sambil menyiapkan minum. Beberapa menit kemudian aku kembali ke ruang tamu, menghidangkan minuman dingin beserta getas—adonan tepung manis gurih yang dipotong kecil-kecil. Tanganku bergetar ketika menyimpan nampan di atas meja karena Pak Rizal terus memperhatikanku. Dia menebarkan senyum. Aku membalas canggung dan segera menundukkan pandangan. Aku terpaksa duduk bersebelahan dengan Teh Aliyah. Dia bergeser menjauhiku. Sebisa mungkin, aku mengabaikan lirikkan tak sukanya. Abi mempersilakan Pak Rizal mencicipi hidangan. Pak Rizal segera meminum cairan manis berwarna merah terang itu. “Saya ingin menyampaikan hal penting kepada Bapak dan Ibu.” Abi dan Ummi tampak bersiap-siap menyimak. Mereka menatap Pak Rizal serius, begitu juga Teh Aliyah. Aku meremas telapak tangan yang mulai panas dingin. Duduk saja tidak nyaman, berkali-kali mengubah posisi. Tak berhenti berdoa dalam hati, semoga kuliahku tidak bermasalah. Pak Rizal menata duduk, lebih tegak. Sorotan mata dia menunjukkan keseriusan. “Seorang wanita berhasil mengusik hati saya. Dia terus menghantui pikiran saya. Menurut Bapak, apa yang harus saya lakukan?” Dugaanku salah, kedatangan Pak Rizal bukan untuk membahas masalah kuliahku. Aku lega mendengarnya, tetapi siapa wanita yang Pak Rizal maksud? “Menurut saya, segera halalkan demi menghindari zina hati. Obat terbaik bagi orang yang sedang kasmaran, yaitu menikah,” begitu saran Abi. “Tapi kenapa Nak Rizal mengutarakan ini pada saya?” Abi mengernyitkan kening, memasang raut wajah bingung. “Karena wanita itu adalah putri Bapak,” jawab Pak Rizal, tegas. Abi dan Ummi saling berpandangan. Aku menganga tanpa berkedip, sungguh mengejutkan. Entah bagaimana reaksi Teh Aliyah, aku tidak menoleh ke arahnya. “Maksud Nak Rizal, putri saya Aliyah, dosen Genetika Tumbuhan?” “Putri Bapak, Adilah Annisa.” Aku tercengang, dia menyebutkan namaku dengan fasih. Benarkah ini bukan mimpi? Wajah Teh Aliyah muram. Rona kebahagiaan yang sempat muncul setelah Abi menyebut namanya seketika lenyap, berganti bulir bening yang tertahan di pelupuk mata. Dia langsung menyeka sudut mata, tidak ada yang menyadari kecuali aku. Sungguh, membuatku merasa bersalah. “Jadi Nak Rizal berniat mengkhitbah putri saya, Adilah?” Bisa kutebak dari mata Abi yang agak melebar, dia pasti terkejut putri bungsunya dilamar seorang dosen. Aku juga masih tidak percaya. Pak Rizal mengangguk. Mata dia berbinar cerah. “Insyaallah, jika Bapak dan Ibu merestui.” Teh Aliyah terdengar mengembuskan napas lalu memalingkan wajah. Dia menepis tanganku yang mengelus bahunya sekadar ingin menenangkan. Abi tersenyum lebar. “Sebagai orang tua yang berharap putrinya mendapatkan pendamping terbaik. Tentu sangat merestui, seorang dosen melamar putri saya. Insyaallah, Nak Rizal mampu menjadi imam sekaligus guru bagi Adilah. Akan tetapi, saya nggak bisa memutuskan sepihak, biarlah Adilah sendiri yang menentukan.” “Iya, kami sebagai orang tua nggak bisa memaksakan kehendak. Dia berhak memilih jalan hidupnya. Jika dia senang, kami juga turut senang,” kata Ummi. Walau Abi menyerahkan keputusan sepenuhnya kepadaku. Aku sangat yakin, Abi berharap aku menerima lamaran Pak Rizal, kelihatan dari mata Abi yang tampak menyimpan harapan besar. “Apa kamu bersedia menerima khitbah Nak Rizal, Neng?” Aku memberanikan menatap Pak Rizal. Jantungku berdegub kencang. Bibirku bergetar tak keruan, menahan gugup sekaligus bimbang. “Ak-aku ... nggak bisa, Pak.” Pak Rizal mengembuskan napas kasar. “Kamu menolak saya, Adilah?” “Bukan begitu. Izinkan aku melaksanakan salat Istikharah dulu, Pak.” Aku menunduk pasrah. Aku percaya, Allah akan memberikan jawaban terbaik. Aku harus siap menerima ketetapan-Nya. Pak Rizal tersenyum tipis. Secercah kebahagiaan menghiasi wajahnya. “Baiklah, saya memberimu kesempatan untuk memantapkan hati melalui Istikharah.” Teh Aliyah mendongakkan wajah. Matanya berkilat penuh amarah, tajam dan menusuk. “Pembicaraan macam apa ini? Saya pikir, Pak Rizal datang ke sini karena ada masalah menyangkut kuliah Adilah.” Urat leher Abi menegang, menatap Teh Aliyah tajam dengan bahu terangkat. “Teteh, jaga sikap! Nak Rizal berniat baik terhadap adikmu. Jangan merusak suasana.” Ummi menggeleng, menanggapi sikap Teh Aliyah yang kurang wajar. Dia memang tidak pernah bisa menyembunyikan amarah, selalu meluapkannya tanpa memikirkan situasi. “Teteh nggak setuju Pak Rizal mengkhitbah Adilah! Seharusnya Abi memikirkan perasaan Teteh sebagai anak sulung. Malu Bi, apa kata orang nantinya? Masa adiknya dulu yang dikhitbah.” Abi beristigfar sembari mengelus d**a yang naik turun. Ummi mengusap-usap punggung Abi, menenangkan agar tidak terbawa emosi karena Abi memiliki riwayat darah tinggi. “Maaf, bila kedatangan saya mengundang perdebatan,” ucap Pak Rizal, lirih. “Nak Rizal nggak salah. Justru, kami yang seharusnya minta maaf atas sikap Aliyah,” balas Ummi. “Dengarkan Abi, jodoh udah diatur sama Allah. Teteh nggak boleh menentang niat baik Nak Rizal. Adikmu juga belum memberi keputusan, kan?” Nada bicara Abi lebih rendah setelah emosinya stabil. Teh Aliyah bergeming. Abi dan Ummi berhak tahu perasaan Teh Aliyah. Dia bersikap demikian karena tidak terima, pria yang dicintainya mengkhitbahku. Siapa tahu orang tuaku bisa memberi solusi terbaik. “Abi, Ummi, sebenarnya Teh Al—“ “Udahlah, nggak usah dilanjutkan. Teteh permisi, ada urusan lain,” sela Teh Aliyah, sengit. *** Selepas aku melaksanakan salat Istikharah sebanyak dua rakaat dan diakhiri dengan Witir satu rakaat. Aku memanjatkan doa seraya menengadahkan tangan setinggi d**a, mencurahkan segala keluh kesah yang membebani pikiranku. “Ya Allah, Ya Tuhanku yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Hanya kepada-Mu aku memohon petunjuk terbaik. Aku menginginkan imam terbaik dari yang paling baik. Pria yang kesabarannya seluas Rasulullah saat menghadapi sifat manja Aisyah. Kesetiaannya layaknya Nabi Adam menanti pertemuan dengan Siti Hawa. Perjuangannya sedahsyat Ali bin Abi Thalib ketika menginginkan Fatimah putri Rasulullah. Kasih sayang dan perhatiannya setulus abiku. Jika Pak Rizal pilihan terbaik-Mu, maka dekatkanlah kami, satukan kami dalam takdir indah-Mu. Luluhkanlah hati Teh Aliyah agar dapat menerima dengan lapang d**a. Namun, jika Pak Rizal bukan takdirku, maka lapangkanlah hati ini agar bisa mengikhlaskannya.” Air mataku luruh. Aku terisak pilu di hadapan-Nya. Sesungguhnya aku tidak siap menyakiti dan tersakiti. Aku takut menyakiti Teh Aliyah jika menerima lamaran Pak Rizal. Tetapi, aku tidak mungkin membohongi diri sendiri, aku mengagumi Pak Rizal, aku menginginkan dia yang menjadi pendamping hidupku. Rasa kagumku telanjur menjalar luas. Aku malu di kala berjumpa, selalu memikirkan dia di kala berjauhan, dan selalu merancang harapan indah bersamanya. Aku jatuh cinta padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN