Penolakan lebih bermakna sebagai jawaban. Tak membiarkan seseorang menunggu tanpa kepastian. Terluka dan bahagia mengambang di angan.
—Elis Sri W
***
(Adilah)
Walau suasana hati tengah dilema, aku berusaha menyimak penjelasan Pak Rizal sebaik mungkin, menghindari ketidakpahaman sehingga harus mengajukan pertanyaan. Jarum jam terasa berputar sangat lambat, aku melewati detik-detik yang memberatkan, menit-menit menyesakkan hingga Pak Rizal mengakhiri pelajaran.
Pak Rizal berhenti tepat di depan mejaku yang tidak jauh dari pintu. “Saya tunggu kamu di depan taman Fakultas Agama Islam. Ada hal yang perlu kita bicarakan.”
“Maaf, Pak. Mau membicarakan perihal apa, ya?” Aku mendongakkan wajah. Sebenarnya aku sudah menebak alur pembicaraan dia, pasti membahas masalah lamaran.
“Hal penting!” tegasnya. Lantas, dia meninggalkan kelas.
Lisa menghampiriku. Dia menatapku penuh selidik, layaknya polisi menginterogasi tersangka. “Mau ngapain Pak Rizal menunggu kamu di taman FAI?”
Aku mengangkat bahu sambil menggeleng. “Mana aku tahu.”
“Ya udah, cepet temui dia. Ayo, aku antar.” Lisa menarikku. Aku tak kuasa melepaskan diri. Dia membawaku ke arah taman, melewati Fakultas Ilmu Komunikasi yang posisinya berdampingan dengan Fakultas Agama Islam. Dia melepaskanku tepat di depan taman itu.
Aku mendengkus kesal seraya mengerucutkan bibir. Lisa tidak mengerti, batinku merana dilanda kebingungan. Dia seenaknya memaksaku ke sini tanpa memikirkan ketidaksiapan sahabatnya sendiri. Huh, menyebalkan!
Lisa tertawa renyah seakan puas menyiksaku. Memang salahku, pernah menceritakan tentang lamaran Pak Rizal. Lisa mendukung seratus persen kalau aku menerima lamaran dosen muda paling menawan. Dia gampang sekali bilang begitu karena tidak mengalaminya. Sementara aku perlu mengambil keputusan bijak. Pilih saudara atau cinta?
“Dasar, sahabat kejam. Kamu nggak tahu, sih, aku berusaha menghindari dia, kecuali ketemu di kelas. Sekarang kamu malah antusias banget memintaku menemui Pak Rizal,” cerocosku sambil berkacak pinggang. Aku menegaskan sorot mata agar Lisa paham—aku belum siap menemui Pak Rizal secara pribadi. “Berhenti memaksaku, Lisa! Mending kita pergi aja sebelum Pak Rizal datang.”
Lisa mengerjapkan mata berkali-kali. Bibirnya bergerak seakan mengisyaratkan sesuatu, tetapi tak bersuara.
Mataku menyipit, gagal memahami isyarat dia. “Kamu kenapa, Lis? Kelilipan?”
Lisa mengarahkan telunjuk ke samping kiriku. Aku menoleh, tidak ada sesuatu yang mencurigakan kecuali mahasiswa berlalu lalang.
Aku menepuk pipi Lisa, pelan. “Ngelihatin apa, sih?”
“Lihat sendiri di belakang kamu.” Suara Lisa terdengar lirih. Dia menggigit bibir sambil meringis.
Aku membalikkan tubuh, mataku melebar melihat pria bertubuh jangkung berdiri di belakang. Lantas, aku menghadap Lisa kembali, memejamkan mata, merutuki diri sendiri. Tamat sudah riwayatku!
“Jangan menghindari saya, Adilah.”
Aku membuka mata, sontak mundur satu langkah mendapati Pak Rizal sudah berada di hadapan.
Lisa meninggalkanku selepas meminta izin kepada Pak Rizal yang dibalas anggukkan.
“Kita bicara di sana aja sambil duduk.” Pak Rizal menunjuk meja bundar yang dikelilingi empat kursi semen di bawah pohon mangga.
Aku mengangguk.
Baru saja kami duduk, angin tiba-tiba bertiup kencang. Daun-daun tanaman hias melambai-lambai ke sana kemari, dan beberapa daun mangga kering berjatuhan. Langit muram berselimut awan hitam. Sesekali suara petir bergemuruh. Gerimis pun datang menyapa, meresahkan suasana. Beberapa mahasiswa berlarian mencari tempat berteduh, sedangkan kami tetap bertahan, merasakan percikan air yang mulai deras.
Pak Rizal mengusap rambut yang mulai lepek hingga beberapa helai bagian atas jatuh menutupi kening. Rambut bermodel undercut pompadour itu tak serapi tadi. “Kenapa kamu menghindari saya, Adilah? Nggak aktif lagi saat saya mengajar?”
“Jangan salah paham dulu, Pak. Aku—”
“Saya mendengarnya sendiri. Kamu jangan mengelak lagi!” potongnya. Kedua bola mata dia menajam, menyiratkan ketegasan.
Aku menunduk. Lidahku kelu, sulit mengeluarkan sepatah kata. Otakku buntu, tidak mampu berpikir luas dalam situasi mencengkeram.
“Jawab saya, Adilah!”
Suara bariton Pak Rizal menusuk indra pendengaranku. Aku menjengit, namun tetap membungkam.
Dia tersenyum getir lalu menggeleng. “Mungkin diamnya kamu adalah bentuk penolakan. Takut mengutarakannya langsung karena saya dosen kamu. Benar begitu, Adilah?”
Aku menghela napas berat, memberanikan menatap dia sekilas. “Nggak seperti itu, Pak.”
Alis Pak Rizal terangkat. “Lantas, apa yang membuat kamu belum memberi keputusan hingga sekarang?”
“Bukannya Bapak pernah bilang di depan orang tuaku, memberi kesempatan untukku melaksanakan Istikharah.”
“Berapa lama saya harus menunggu jawaban? Apa dua minggu belum cukup buat kamu memantapkan hati?”
Aku menelan ludah menahan sesak di d**a yang menyeruak. Ingin sekali aku menerima Pak Rizal, tetapi kebahagiaan Teh Aliyah lebih penting dari segalanya. Aku terjebak dalam pilihan yang sulit. “Maaf, aku belum punya jawaban, Pak. Mungkin aku harus mengulangi Istikharah agar mendapatkan petunjuk terbaik dari Allah.”
Pak Rizal mengembuskan napas yang terdengar berat. “Menunggumu bukanlah masalah bagi saya, seberapa lama pun, asal kamu mampu membalas penantian dengan kepastian.”
Debar-debar di d**a memberontak. Tanganku bergetar mengiringi perasaan bimbang yang berkecamuk di hatiku. Aku tidak tega, selalu menggantungkan kepastian. Aku mengusap bulir gerimis yang menyamarkan pandangan. Setelah beberapa saat berpikir, tekadku sudah bulat mengikuti kata hati. “Sebenarnya ....” Semoga Teh Aliyah mengerti dan mau menerima keputusanku. “Aku ma ....”
Teh Aliyah melintasi taman. Tekad yang aku bangun susah payah tergoyahkan. Jawaban yang nyaris kuucapkan tergulung awan hitam sangat pekat hingga hilang serentak. Fokusku teralihkan pada Teh Aliyah yang mempercepat langkah menuju gedung sebelah.
“Bisa dilanjutkan, ucapanmu tadi?” pinta Pak Rizal, padahal aku tahu dia menyadari kehadiran Teh Aliyah. Pak Rizal seolah tidak peduli.
“Maaf, aku permisi, Pak.” Aku berdiri lalu mempercepat langkah menyusul Teh Aliyah, meski Pak Rizal memanggilku sekian kali—aku tak menoleh.
Suara gemuruh menggetarkan alam semakin dahsyat. Langit hitam dipenuhi kilatan cahaya menakutkan. Gerimis menjelma menjadi tetesan hujan. Aku berlari dengan napas tersengal-sengal, menerjang hujan deras demi menghampiri Teh Aliyah yang berteduh di gedung Fakultas Ilmu Komunikasi. Tak peduli pakaianku kuyup, bahkan menggigil sekali pun, pantang menyerah. Aku berhasil menghampiri Teh Aliyah dan menggenggam kedua tangan hangatnya.
“Tadi Pak Rizal menanyakan jawaban. Tapi aku belum bilang apa-apa, Teh,” jelasku, mencoba meyakinkan dia.
Teh Aliyah menarik tangannya dari genggamanku. “Kalau kamu nggak punya perasaan apa-apa terhadap Pak Rizal. Seharusnya langsung memberikan jawaban, jangan menggantungkan dia seperti itu.”
“Aku takut menyakiti hatinya, Teh.” Aku mengembuskan napas berat, terpaksa berbohong demi menjaga perasaan Teh Aliyah. Untung Allah menghadirkan Teh Aliyah tepat waktu, kalau tidak, aku menjadi saudara paling jahat—hanya mementingkan kebahagiaan diri sendiri.
Teh Aliyah berdecak lalu tersenyum kecut. “Jangan banyak alasan! Teteh tahu, kamu sengaja mengulur waktu karena berharap juga, kan, sama dia? Kamu nggak perlu berbohong demi menjaga perasaan Teteh.” Dia mengembuskan napas seraya menunduk. “Jujur jauh lebih baik walau pahit!”
“Teteh mau aku jujur?”
Teh Aliyah mengangguk, membuatku yakin mengatakan yang sejujurnya.
“Apa pun keputusan aku, Teteh bisa terima?”
“Satu hal yang perlu kamu ingat, Adilah! Seandainya kamu berniat menerima Pak Rizal, mungkin Teteh bisa terima, tapi tetap nggak ikhlas. Terlalu sakit.”
***
Angkot yang aku tumpangi menembus jalanan yang penuh oleh kendaraan. Aku mengintip dari celah jendela. Satu per satu mobil dan motor berlalu begitu cepat, saling mendahului. Sesekali suara klakson bersahutan memeriahkan jalan raya. Seperempat perjalanan menuju rumahku, awan hitam berangsur purna, kabut-kabut yang tebal perlahan menipis. Langit telah puas menumpahkan dukanya. Berbeda dengan hatiku yang masih menangis pedih. Aku tidak mungkin menerima lamaran itu sebelum Teh Aliyah mengikhlaskan Pak Rizal.
Aku memasuki halaman rumah setelah turun dari angkot. Tanah lembab yang aku injak menyemburkan air kecokelatan, membekas pada sepatu putihku. Biarkan saja, sepatuku telanjur basah. Bersyukurnya, setelah insiden kehujanan tidak ada jam kuliah lagi, jadi aku memutuskan pulang sebelum Zuhur karena tidak mungkin salat menggunakan pakaian basah dan juga kotor.
Aku melihat Ummi tengah menata tanaman, memindahkan pot, menukar posisi tanaman satu dengan yang lain. Ummi spontan menghentikan aktivitasnya saat menyadari kehadiranku. Aku segera mengucapkan salam, mencium punggung tangan Ummi, lalu mencium pipinya yang beraroma bedak bayi. Ummi suka memakai bedak bayi karena memiliki kulit yang sensitif.
“Tumben Neng, pulang cepat? Biasanya Abi yang pulang duluan.” Ummi memasang wajah heran. Abi berprofesi sebagai guru SMA, biasanya pulang selepas Zuhur. Wajar saja Ummi mempertanyakan, aku jarang sekali pulang sebelum Zuhur.
“Aku nggak ada jam kuliah lagi, Mi. Mending pulang aja biar kerinduanku sama Ummi terobati.” Aku merangkul Ummi sambil mencium pipinya kembali. Hawa hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Ummi memang selimut ternyamanku ketika kedinginan.
Ummi tersenyum seraya menepuk tanganku. “Ah, bisa aja kamu menggoda Ummi.”
“Memang benar, kok, Mi. Aku merindukan Ummi setiap waktu.” Aku terkikik. Ummi ibarat organel peroksisom yang menetralkan hidrogen peroksida menjadi oksigen dan air—zat bermanfaat. Segala kesedihanku terobati jika mendekap tubuhnya.
Ummi membelai lembut kepalaku lantas bertanya, “Kamu hujan-hujanan ya, Neng? Bajumu sampai basah begini.”
Aku spontan melepaskan diri, tersenyum kikuk sembari menggaruk kepala yang tidak gatal. “Ummi tahu aja, kayak peramal.”
“Ganti baju sana, nanti masuk angin!” tegas Ummi, begitulah kalau dia mengkhawatirkanku.
Aku memberikan salam hormat ala upacara. “Siap, komandan. Ummi sendiri ngapain habis hujan malah menata tanaman?”
“Tadi hujannya lebat banget, Ummi takut aja anggrek kita tumbang, soalnya masih baru.”
“Oh, iya. Jangan menyimpan bunga anggrek di sini, Mi.” Aku melirik kedua anggrek di pojok kiri. Letaknya yang kurang strategis menyebabkan bunga anggrek basah terkena rintik-rintik air hujan. Rangkaian bambu sebagai tempat merambat anggur hijau tidak mampu melindungi anggrek dari panasnya sinar matahari atau pun air hujan. Luas taman melebihi atap rangkaian bambu sehingga hanya beberapa tanaman saja yang terlindungi.
Alis Ummi bertautan. “Memang kenapa, Neng? Ummi, kan, pernah bilang mau membeli anggrek buat mempercantik taman rumah kita, mana mungkin menyimpannya di tempat lain.”
“Jadi begini, Mi. Mending jangan menyimpan anggrek larat pada tempat lembab yang bersuhu dingin, sebab bunganya akan membusuk. Selain itu, anggrek larat memerlukan sinar matahari secara langsung tapi jangan terlalu panas.” Aku memaparkan sesuai penjelasan Kim Soo Hyun KW. Merawat anggrek lumayan rumit, kepanasan salah, kedinginan juga salah. “Taman kita, kan, cuma beratapkan setengah rangkaian bambu di mana pohon anggur hijau merambat. Otomatis anggrek larat bakal sering kepanasan dan kehujanan dong, Mi. Ummi tahu sendiri cuaca sulit diprediksi. Buktinya sekarang hujan, padahal waktu pagi cuacanya cerah.“
Ummi mengangguk-angguk seakan memahami penjelasanku. “Oh, Ummi baru tahu. Kalau anggrek hitam bagaimana, Neng?”
“Anggrek hitam itu harus mendapatkan sinar matahari yang cukup, Mi. Tapi jangan secara langsung juga, nanti bisa layu. Biar aku pindahkan semua anggrek ke teras aja.”
“Anak Ummi udah cantik, jago pula dalam bidang tanaman.” Ummi mencubit lembut pipiku seraya tersenyum. Senyum Ummi merupakan salah satu keindahan dunia yang paling aku kagumi. “Ummi mau menambah bunga anggrek lagi. Minggu depan beli lagi ya, di kios langganan kamu, Neng.”
Aku menggeleng tegas, seketika meringis ngeri, wajah ketus bos Gabriel Agromart terbayang. “Nggak mau, Mi. Aku malas bertemu pemilik kios. Kalau beli di kios lain kualitasnya kurang bagus. Lagi pula aku kurang suka, mengurus anggrek tuh ribet tahu, Mi.”
“Udah langganan tapi, kok, malas bertemu pemilik kiosnya. Kamu ini aneh, Neng ... Neng,” Ummi menggeleng kemudian melanjutkan, “padahal kesempatan, biar sekalian minta diskon. Masalah mengurus, serahkan aja sama Ummi.”
“Justru itu, Mi. Aku baru bertemu bosnya. Muka dia mirip Kim Soo Hyun sih, pemain drama Korea yang sering aku tonton. Masa ganteng-ganteng tapi nyebelin minta ampun.” Aku meremas ujung jilbab penuh kekesalan sambil cemberut. Mengingat si bos kaku bikin mood-ku memburuk.
Ummi mengedipkan sebelah mata dan langsung mencolek pucuk hidungku. “Ganteng mana sama Nak Rizal? Pantas aja kamu menggantungkan Nak Rizal. Kamu bingung, kan, memilih salah satu dari mereka?”
“Jelas ganteng Nabi Yusuf dong, Mi. Mereka mah lewat. Udah ah, aku mau ganti baju dulu, takut masuk perangkap cinta segitiga. Eh, masuk angin maksudnya” Aku buru-buru membawa kedua pot anggrek menuju teras.