Cinta Bertabur Luka

2335 Kata
Mencintai dalam diam tanpa perlu takut kehilangan karena Allah telah menyiapkan yang terbaik bagi hamba-Nya yang sabar dalam mencintai. @tausiyahcinta_ *** (Adilah) Berkumpul di teras sambil menikmati udara pagi menjadi rutinitas keluargaku setiap hari. Sekian kalinya aku melahap potongan pisang yang ditaburi kayu manis dan s**u almon. Aku kagum sama Ummi, tidak pernah kehabisan ide, mengelola menu wajib keluarga kami saat sarapan. Abi sangat menyukai pisang. Kata Abi, pisang tidak menyebabkan kantuk seperti nasi, sedangkan sarapan roti malah kurang kenyang. Abi menyeruput kopi hitam lalu menyantap potongan pisang dari piringnya yang mulai menipis. Ummi tampak fokus menikmati sarapan sehingga tidak menyadari Abi memperhatikannya. Lantas, Abi diam-diam menyentuh koran yang ada di meja. Ummi berdeham keras, membelokkan wajah ke samping, memelototi Abi. Abi spontan melepaskan koran sembari tersenyum menyeringai. Kalau saja tidak dosa, aku ingin menertawakan Abi. Sementara itu, Teh Aliyah sudah meninggalkan kebiasaannya sejak ditegur oleh Ummi, bisa juga perseteruan kami menghilangkan mood membaca Teh Aliyah di pagi hari. “Udah dua minggu lebih, kamu belum memberi Nak Rizal kepastian. Jangan terlalu lama menggantungkan niat baik seseorang, Neng.” Aku tersentak mendengar ucapan Abi. Jika boleh lari dari kenyataan akan aku lakukan. Aku sungguh tidak siap membahas masalah lamaran. “Aku butuh waktu untuk meyakinkan hati, Bi.” “Teteh berangkat dulu ya, takut terlambat mengisi kelas pagi.” Teh Aliyah menyela pembicaraan aku dan Abi. Setelah menyelempangkan tas, Teh Aliyah menyalami Abi dan Ummi. Saat aku hendak menyalaminya, Teh Aliyah pergi begitu saja—terkesan menghindar. Kemarin-kemarin aku dapat jadwal kelas pagi jadi berangkat bersama. Sekalinya aku masuk siang, dia seakan sengaja memperlihatkan perseteruan kami di hadapan Abi dan Ummi. Kedua orang tuaku saling berpandangan, mereka pasti menyadari hubungan kedua putrinya sedang tidak baik. Teh Aliyah menancap gas usai melambaikan tangan melalui jendela mobil. Mobil Avanza putih itu melesat meninggalkan halaman rumah. Wajah Ummi mengguratkan beribu tanya. “Kamu nggak bertengkar sama Teh Aliyah, kan, Neng?” Ketegasan mata Abi menjeratku hingga sulit berkutik. “Iya, Abi perhatikan udah lama nggak mendengar kalian berbincang. Apa ada masalah?” Aku menelan ludah. Pahit sekali ingin mengatakan yang sejujurnya. Namun, kejujuran lebih menenteramkan ketimbang berbohong, justru semakin memperkeruh masalah. Aku menarik napas perlahan dan menunduk lemas. “Sebenarnya Teh Aliyah mencintai Pak Rizal, Bi, Mi. Makanya waktu Pak Rizal datang ke sini, Teh Aliyah terbawa emosi. Hubungan kami sekarang merenggang.” “Apa ini alasannya, Neng mengulur waktu memberi jawaban?” tanya Abi, tegas. Aku mengangguk, namun tetap menunduk. “Tapi aku mohon sama Abi dan Ummi, jangan menegur Teh Aliyah. Biarkan kami yang menyelesaikan masalah ini sendiri.” “Apakah Neng menaruh hati terhadap Nak Rizal?” Aku mendongakkan wajah, menghela napas lalu mengerjap lemah. “Wanita mana yang nggak tertarik sama Pak Rizal, Bi? Dia berpendidikan tinggi, berwawasan luas, tampan, insyaallah saleh juga. Aku sangat mengidamkan sosok lelaki seperti dia.” Abi mengepalkan tangan seraya mendesis. “Biarkan Abi yang bicara sama tetehmu. Dia nggak bisa memaksakan kehendak seperti itu.” “Jangan Bi, aku mohon. Nanti Teh Aliyah mengira, aku mengadu sama Abi. Aku nggak mau dia semakin marah, apalagi berpikiran kalau Abi lebih membelaku.” “Benar kata putri kita, Bi. Mereka udah dewasa, kita biarkan mereka menyelesaikan masalahnya. Jika nggak bisa menemukan solusi lagi, barulah kita sebagai orang tua turun tangan,” tutur Ummi, lemah lembut bagaikan embun pagi yang menyejukkan hingga berhasil membuat Abi mengangguk. Pikiranku terasa lapang, bebanku berkurang. Aku harus mengambil keputusan seadil-adilnya, sebagaimana arti namaku ‘wanita yang adil’. Sebelum berangkat kuliah, aku meminta izin pada Ummi, ada teman yang mengajak kajian, jadi pulang agak malam. Ummi mengizinkan. *** Hampir satu jam aku menyimak materi, penceramah mengakhiri kajian. Azan Isya berkumandang, menyeru umat Muslim melaksanakan kewajiban lima waktu. Aku sungguh kagum, mendengar suara muazin yang begitu merdu dan menyentuh hati. Siapakah orang itu? “Kayaknya aku kenal deh, suara azan tadi.” Setelah azan selesai Rizka bersuara, seakan menjawab isi hatiku. “Kamu, kan, rutin ikut kajian di sini, Riz. Makanya mengajak aku. Berarti tahu dong, siapa yang mengumandangkan azan barusan?” tanyaku, antusias. Suara merdunya membuatku penasaran, dia pasti pria yang luar biasa. Rizka mengangkat bahu seraya menggeleng. “Entahlah, tapi suara dia nggak asing di telingaku.” Kami bergegas keluar usai melaksanakan salat Isya. Jemaah satu per satu berlalu meninggalkan masjid. Ada pula para ikhwan yang masih bercengkerama di teras masjid, akhwat juga demikian. Mata Rizka berkeliaran menyusuri sekumpulan ikhwan. Aku mencolek lengannya. “Kamu nyari siapa, sih?” Rizka menoleh sambil tersenyum menyeringai. “Aa Rizal.” “Apa?! Jadi Pak Rizal ikut?” Mataku melebar, jawaban Rizka begitu mengejutkan. Kalau Rizka bilang dari awal bahwa Pak Rizal ikut, aku langsung menolak ajakannya. Rizka tertawa ringan, menepuk pundakku. “Iya, makanya aku sengaja mengajak kamu tapi jangan marah, dong.” Aku menghela napas berat, mencoba berdamai dengan keadaan. Aku pikir Rizka murni mengajakku bukan karena Pak Rizal. Ternyata Rizka sengaja mempertemukan aku dengan kakaknya. “Nah, itu dia.” Rizka menunjuk sosok pria berkoko putih yang sedang memasang sepatu di teras sebelah kiri, tidak terlalu jauh dari posisi kami. “Aku ke sana dulu, ya? Kamu tunggu di sini aja.” Dia menghampiri Pak Rizal tanpa mendengar rintihan hatiku yang enggan bertemu dosen itu. Tidak lama, mereka menghampiriku. “Kita makan dulu, yuk, Adilah. Bareng Aa aku yang paling kasep .” Membran timpaniku gagal menangkap kalimat Rizka, yang jelas dia mengatakannya sambil menggandeng lengan Pak Rizal. Aku mematung. Pikiranku melayang memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Aku takut Pak Rizal menyinggung masalah jawaban yang tertunda kemarin. Apa yang harus aku lakukan? “Euy? Kok, malah melamun.” Gerakan tangan Rizka tepat di depan mata membuatku terperanjat lalu berdiri seketika. “Tadi kamu bilang apa ya, Riz?” “Kita makan dulu aja, Dil. Nanti aku yang mengantar kamu pulang.” Rizka melirik Pak Rizal sembari tersenyum. Sementara Pak Rizal tidak mengeluarkan sepatah kata pun. “Please, jangan menolak.” Rizka memegang tanganku, memasang mimik wajah penuh harap. Aku berpikir keras, mencari alasan yang paling tepat. “Duh, maaf banget, Rizka. Aku harus pulang, takut Ummi khawatir kalau pulang larut malam.” Rizka mengeratkan genggamannya. “Sebentar doang, kok, please. Nanti aku yang akan menjelaskan ke abi dan ummi kamu, Dil.” Aku terpaksa mengangguk meski terjebak dalam keadaan tidak menyenangkan. Tidak enak hati bila terus menolak. “Tapi jangan malam-malam ya, pulangnya?” “Siap, laksanakan!” *** Kami menikmati ayam bakar di taman alun-alun, depan Masjid Agung Karawang. Uniknya, makanan dihidangkan menggunakan alas daun pisang yang sudah menjadi ciri khas tersendiri. Rasanya sangat lezat, cocok bagi penggemar makanan pedas. Selain ayam bakar, berbagai penjual makanan mengelilingi pagar alun-alun. Meski riuh kendaraan tak kunjung berakhir. Aku tetap merasa nyaman, ada sisi lain yang menarik perhatian. Aku bisa menyaksikan pemandangan indah dari celah pagar alun-alun sambil menikmati makanan. Di tengah taman alun-alun berdiri sebuah monumen tinggi menjulang bercat putih yang dihiasi garis-garis biru memanjang. Di bagian bawahnya terdapat anak tangga untuk sampai ke teras—tempat bersantai. Lampu sorot, sedikit menerangi area taman yang ditumbuhi beberapa pohon palem. “Enak banget ya, makanannya.” Rizka mengipaskan tangan ke mulutnya yang sudah memerah. Keringat membasahi kening dia. Sepiring nasi beserta sepotong ayam bakar telah dia habiskan. “Iyalah, mana mungkin kamu menghabiskan makanan kalau nggak enak,” sahut Pak Rizal seraya memasukkan tangan ke mangkuk berisi air, lantas menarik sehelai tisu. Rizka seketika mencubit pipi Pak Rizal. Pak Rizal mendesah geram. Sang adik hanya tertawa melihat ekspresi ketus Pak Rizal. “Oh, iya, yang azan Isya tadi ternyata Aa Rizal, Dil.” Mataku membulat. Tidak percaya, pemilik suara indah itu Pak Rizal. Benarkah? “Kamu kenapa, Adilah? Kayak kaget begitu.” Rizka mengernyitkan kening, menatapku heran. Sementara Pak Rizal tampak biasa saja, dia meneguk sisa es teh dengan santai. Aku meremas jari tangan, merasakan hati seketika bergetar. Entah mengapa aku mendadak kikuk. “Aku nggak apa-apa, kok, Riz.” Rizka mengedipkan sebelah mata ke arahku dan Pak Rizal bergantian. “Yakin, nggak ada debar-debar aneh, mendengar suara Aa Rizal? Kayaknya, waktu di masjid, penasaran banget tuh sama muazinnya.” Aku memalingkan wajah, menutupi pipi yang memerah, akibat tertangkap basah oleh Rizka. Aku menyesal, menunjukkan sikap demikian. Ternyata, muazin yang aku kagumi adalah Pak Rizal. Rasa maluku berlipat ganda. Pak Rizal berdeham. “Udah malam, Riz. Mau pulang jam berapa?” Rizka mengangkat tangan kiri, melirik layar arloji yang dia kenakan. “Masih juga jam delapan. Kita pulang setengah sembilan aja, A.” Pak Rizal memijat pelipis seraya mengembuskan napas panjang. “Nggak baik, anak gadis pulang terlalu malam. Nanti Aa kena marah Ayah sama Bunda.” “Biar nggak kena marah, gimana kalau Aa ikut nganterin Adilah pulang? Kita naik mobil Aa aja. Pokoknya, Aa harus mau.” Rizka merengek, menggoyangkan tubuh Pak Rizal. Alis Pak Rizal bertautan. “Motor kamu?” “Bisa titip di parkiran dekat sini. Besok aku ambil.” Pak Rizal mengangguk. “Aku pulang sendiri aja,” tolakku. Tidak ingin mengibarkan bendera perang dengan Teh Aliyah. “Izinkan saya mengantarkan kamu pulang, Adilah. Hanya pria nggak bertanggung jawab yang membiarkan seorang wanita pulang sendirian malam-malam. Apalagi, naik ojek online.” Pak Rizal menghela napas sebelum lanjut berbicara. “Saya khawatir.” Pengakuan Pak Rizal menyebabkan detak jantungku bertalu-talu begitu kencang. Aku menunduk, mencoba menormalkan detak jantung. Semoga dia tidak mendengar, sungguh memalukan. Rizka berdeham beberapa kali, senyum-senyum tidak jelas. “Perasaan baru kali ini, Aa bilang terang-terangan mengkhawatirkan seorang wanita selain aku dan Bunda. Sangat mencurigakan.” Lirikan tajam Pak Rizal membuat Rizka membungkam. Aku mengatur pasokan oksigen, berusaha menutupi rasa gugup. “Terima kasih, atas tawarannya. Tapi aku bisa pulang sendiri, Pak, belum terlalu malam juga, kok, masih ramai.” “Saya tetap akan mengantar kamu pulang, sekalian membicarakan perihal kepastian di depan kedua orang tua kamu.” *** Aku menggenggam tangan kiri Ummi. Sementara, tangan kanan Ummi mengusap punggungku begitu lembut. Sentuhan Ummi memberiku ketenangan di tengah kebimbangan. “Bicaralah, Neng. Nak Rizal menunggu jawabanmu,” kata Abi sambil menatapku tegas. “Aku ....” Telapak tanganku terasa panas dingin meski sudah menggenggam tangan Ummi. Sorotan mata Ummi berisyarat agar aku segera memberi jawaban. Setelah menghela napas panjang, aku melanjutkan ucapan. “Aku harap Pak Rizal mau bersabar menunggu sampai wisuda. Sekarang, aku mau fokus menyusun skripsi dulu, jadi masih belum menemukan jawaban meski udah berulang kali Istikharah.” Kalimat itu menampar hatiku: perih, sakit, seharusnya aku menerima pria yang telah tertanam dalam lubuk hati. Bukan malah membohongi diri sendiri. Pak Rizal mengusap wajah. Ada senyum tertahan di bibirnya. “Insyaallah, saya sabar menanti jawaban kamu, Adilah. Semoga jawabanmu nanti sesuai harapan saya.” “Kalau Pak Rizal keberatan, jangan memaksakan diri. Pak Rizal bisa memilih wanita lain yang jauh lebih siap daripada aku.” Pak Rizal menggeleng. “Bukan wanita lain yang saya inginkan. Tolong mengertilah!” “Aku pastikan, Aa Rizal mampu menjadi imam yang baik buat kamu, Adilah.” Rizka yang sejak tadi hanya menyimak, kini bersuara. Dia baru mengetahui kakaknya melamarku. Aku dilema. Keadaan mencengkeram mimpi-mimpiku, bersanding dengan Pak Rizal, calon imam harapanku. Abi tersenyum sumbang, dia tentu tahu jawabanku bukanlah berasal dari hati. “Mohon maaf ya, Nak Rizal. Saya nggak bisa memaksa Adilah agar menjawab secepatnya. Semoga Nak Rizal mau bersabar.” Pak Rizal mengulas senyum tipis. Entah, bermakna bahagia atau sebaliknya? “Nggak masalah, Pak. Saya memahami kondisi Adilah, ada hal yang harus dia prioritaskan, yaitu menyelesaikan pendidikan. Mungkin dia juga butuh banyak pertimbangan. Insyaallah, saya sanggup menunggu.” *** Saat membuka pintu kamar, mataku melebar melihat kehadiran Teh Aliyah. Dia menyeretku, mendorongku hingga terduduk di tempat tidur. “Teteh nggak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Pak Rizal menanyakan jawaban lagi, kan? Bagaimana tanggapan kamu?” “Aku akan memberi jawaban setelah wisuda.” Aku menghela napas berat, ini yang aku takutkan—kedatangan Pak Rizal memperluas perdebatan kami. Aku malas meladeni Teh Aliyah. Seharusnya dia mengerti, aku sangat lelah, butuh istirahat. Dia malah menyambutku dengan pertanyaan menyebalkan. Teh Aliyah meremas bahuku, jemarinya terasa menusuk kulitku. Sakit. Matanya yang tajam menembus bola mataku begitu dalam. “Terus, kamu berniat menerima dia?” Aku melepaskan tangan Teh Aliyah, tidak sanggup menahan cengkeraman yang menggetarkan tubuhku. “Teteh harus paham, aku nggak bisa membohongi diri sendiri.” “Jadi kamu mencintainya?!” “Maafkan aku, Teh. Aku—“ “Semudah itu, kamu bilang maaf? Hati Teteh terluka, apa kamu mengerti, Adilah?” sela Teh Aliyah sambil menggertakkan gigi. Aku menunduk pasrah, kehabisan akal. Walau aku bersikeras melunakkan hati dia, percuma, Teh Aliyah tak mungkin mengerti. “Aku paham perasaan Teteh. Tapi Pak Rizal yang memilihku. Jika Pak Rizal memilih Teteh, Insyaallah aku ikhlas.” “Omong kosong! Seharusnya kamu menolak dia.” Mataku berkaca-kaca. Bulir bening lolos dari pelupuk mata, mengalir bebas membasahi pipi. Sedih, orang yang kusayangi menjadi sekeras batu karena cinta. Dulu saling mengasihi, kini saling memaki, bahkan membenci. Aku menggeleng sambil menyeka air mata. “Aku nggak bisa menolak dia, Teh.” Teh Aliyah mendongakkan wajah, sorot matanya menusuk pandanganku semakin tajam. “Egois! Kamu nggak pernah memikirkan perasaan Teteh. Adik macam apa kamu, Adilah?” Aku mendesah geram. Lantas, tanganku mengepal mengiringi otot-otot yang mengeras. Mataku mengobarkan bara api, kalimat menyakitkan itu membakar rasa kasihanku terhadapnya. Lenyap tak tersisa. “Teteh yang egois, nggak pernah mau mengalah! Kurang sabar apa aku selama ini? Aku selalu mengalah demi Teteh.” Dadaku sesak, mengingat ucapan dia yang begitu mencekikku. “Teteh lebih dewasa, bahkan udah menjadi seorang dosen. Seharusnya, Teteh bersikap bijaksana. Nggak ada hati yang bisa dipaksakan!” Teh Aliyah berdecak. “Dalam urusan cinta nggak ada istilah mengalah, meski kita bersaudara. Perlu kamu tahu,” Dia menunjuk wajahku. “jangan pernah mengaitkan antara sikap Teteh dengan profesi yang sama sekali nggak ada hubungannya. Dari dulu sampai sekarang, semua keinginan Teteh harus terlaksana. Harus!” “Sikap ambisius Teteh memang nggak mungkin bisa berubah. Tapi ingat, takdir Allah mampu mengalahkannya!” Teh Aliyah tertawa sinis. “Jika Pak Rizal bukan jodoh Teteh. Kamu pun, nggak boleh berjodoh dengannya!” *** Footnote - Kasep (Bahasa Sunda) : tampan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN