Jika cinta kepada manusia memberi kebahagiaan semu, menghancurkan harapan indah, aku menyerah. Kukembalikan cinta ini kepada Rabb-ku, hingga kerapuhan hati tak akan mungkin terjadi.
—Elis Sri W
***
(Adilah)
Mahasiswa Fakultas Pertanian, kompak mengenakan seragam toga—foto bersama di depan gedung H. Opon Sopandji yang merupakan gedung utama Universitas Negeri Singaperbangsa Karawang. Tiang bendera merah putih menjadi latar belakang foto, beberapa pohon dan tanaman hias tumbuh subur di sekitarnya. Selepas menghabiskan momen bersama, kami berpisah, hanya tersisa aku dan Lisa.
Dari pintu kaca gedung utama, keluarlah sosok pria bertubuh jangkung yang tampak memegang sesuatu. Dia berjalan cepat, menghampiriku.
Pak Rizal menyodorkan buket mawar merah seraya tersenyum manis. “Buat kamu, Adilah.”
Jantungku berdetak kencang. Aku terpaku dalam diam, tangan terasa berat mengambil bunga pemberian Pak Rizal. Lisa malah mendorong lenganku. Dengan tangan bergetar, perlahan-lahan aku meraih mawar tersebut lalu mengucapkan terima kasih.
Lisa berdeham, sepertinya dia sengaja menggodaku.
Aku mencubit tangan Lisa agar berhenti bertingkah usil. Alhasil, Lisa meringis kesakitan, menatapku sengit. Sungguh memalukan, aku menggaruk tengkuk seraya tersenyum kikuk ke arah Pak Rizal yang hanya tertawa kecil.
“Saya akan datang ke rumah kamu selepas Ashar, Adilah. Kamu masih ingat, kan?”
Aku membulatkan mata, gelagapan. “I-iya, Pak. Aku ingat, kok, tapi Pak Rizal nggak perlu datang ke rumah. Aku akan memberi jawaban sekarang juga.”
“Kamu serius?” Pak Rizal mengernyitkan kening seolah tidak percaya.
Aku mengangguk, mantap.
Lisa meninggalkan aku dan Pak Rizal, membiarkan kami berbicara empat mata. Meski begitu, masih banyak mahasiswa yang berlalu lalang di sekitar sini. Jadi tidak hanya ada kami berdua.
Aku menelan ludah sebelum memulai berbicara. “Apa Pak Rizal siap mendengar jawabanku?”
“Tentu, jawablah.”
“Bisa menerima baik dan buruknya?”
Pak Rizal tertegun. Beberapa detik kemudian barulah mengerjap, mengangguk, tidak meyakinkan.
Aku menghela napas panjang lalu mengembuskan perlahan. “Setelah melaksanakan Istikharah beberapa kali, aku memutuskan ....” Sekilas aku menatapnya, wajah dia tampak tegang. Kugerakkan lidah yang mulai kaku untuk menyempurnakan kalimat. “Maaf, aku nggak bisa menerima khitbah Pak Rizal.”
“Apa alasannya, Adilah?” Bahu Pak Rizal menurun mengiringi embusan napas kasar yang begitu menyayat hatiku, perih. Aku tahu dia sulit menerima keputusanku, namun itu keputusan paling adil bagi Teh Aliyah.
“Kita belum berjodoh dan Pak Rizal bukan tipeku.” Ribuan panah menusuk paru-paruku. Sesak. Membohongi orang yang kita cintai ternyata menyakitkan. Aku terpaksa menolak dia, sesungguhnya bukanlah keinginanku.
Pak Rizal mengusap wajah. Lantas, dia menggeleng. “Nggak, itu bukan alasan yang logis.”
“Tolong hargai keputusan aku, Pak.” Aku memalingkan wajah, tidak sanggup menyaksikan guratan kekecewaan yang tergambar jelas di wajahnya, bagiku sangat berat.
“Seharusnya kamu mengatakan jawaban ini sejak awal, bukan membiarkan saya menantikan sesuatu yang menyakitkan.”
***
“Jangan bersedih. Jika kalian berjodoh, Allah akan menyatukan sesulit apa pun jalannya.” Ummi mengelus-elus kepalaku yang bersandar di bahunya, menyebabkan jilbab dia dibasahi cairan menyedihkan. Sejak pulang tadi, aku menumpahkan seluruh kesedihan kepada Ummi.
Aku merenggangkan pelukan di tubuh Ummi, menyeka sisa air mata dan membesit hidung yang terasa pengap. Rasa penyesalan menghantui diriku, seharusnya aku tidak menolak lamaran Pak Rizal. Ah, itu keputusan terburuk yang pernah aku pilih.
Ummi memegang daguku sembari menatap lembut. Aku membalas dengan tatapan lemah tanpa arti. “Ummi bangga sama kamu, Neng. Kamu rela mengalah demi menjaga perasaan tetehmu.”
Aku tak kuasa menahan bulir bening yang menerobos keluar dari pelupuk mata. Tangisanku kembali pecah di pelukan Ummi. “Aku telanjur mencintainya, Mi. Mungkin ini kesalahan terbesarku, memberikan hati kepada seorang pria sebelum halal.” Suaraku mulai parau akibat terlalu lama menangis.
Ummi mengusap punggungku, menenangkan tangisanku yang semakin menjadi. “Meski cinta udah telanjur bersarang di hatimu, nggak ada kata terlambat untuk bertindak. Neng bisa mengobati rasa sakit dengan melupakan.”
Batinku memberontak. Aku belum sepenuhnya ikhlas melepaskan Pak Rizal. Ucapan Teh Aliyah menyelimuti otakku, meracuni hati dan pikiran. ‘Dalam urusan cinta nggak ada istilah mengalah, meski kita bersaudara’, kalimat itu yang pernah Teh Aliyah ucapkan. Haruskah aku maju kembali, memperjuangkan apa yang telah aku lepaskan?
***
Aku terbangun di sepertiga malam. Mataku terasa berat, semalam tidak bisa tidur gara-gara menangis menyesali keputusan kemarin. Aku yang mengambil keputusan itu, aku sendirilah yang merasakan sakit.
Aku bangkit dari tidur dan segera mengambil air wudu. Dengan melaksanakan salat Tahajjud, berharap hatiku menjadi lebih tenang. Aku bisa mengikhlaskan Pak Rizal dan tidak menyesali keputusan yang telah diambil. Hanya Allah yang mampu memberiku ketenangan setelah mencurahkan segala keluh kesah, kegundahan hati, akibat terlalu berlebihan mencintai makhluk-Nya yang berakhir mengecewakan.
Selesai salat, aku mengangkat tangan setinggi d**a. Berdoa penuh kepasrahan. "Ya Allah, Engkau yang menumbuhkan rasa cinta di hatiku, Engkau pula yang mampu menghilangkan perasaan ini. Jangan sampai cinta keiada makhluk lebih besar daripada cintaku kepada-Mu. Sehingga, aku lalai melaksanakan segala perintahnu, malah membuang-buang waktu meratapi kesedihan karena takdir tak mempersatukan aku dengan Pak Rizal."
Aku terisak pilu di hadapan-Nya. "Aku mohon, hilangkanlah Pak Rizal dari hati ini. Ikhlaskan hati ini untuk melepaskan Pak Rizal. Jangan biarkan rasa Penyesalan terus menghantuiku. Aku tidak ingin melukai hati Teh Aliyah jika kembali memberi harapan kepada Pak Rizal. Yakinkanlah hatiku, takdir-Mu jauh lebih indah. Mantapkan hatiku, bahwa kepuputusanku adalah pilihan terbaik, karena sebelumnya aku telah melaksanakan Istikharah. "