Kopi tidak selalu memberikan kenangan pahit. Variasi aroma, rasa, warna, menyimpan berjuta cerita manis yang membekas dalam ingatan. Meninggalkan kerinduan mendalam, di saat tak ada lagi pertemuan.
—Elis Sri W
***
(Adilah)
Entah berapa hari aku menumpahkan air mata, menguras kesakitan. Aku berusaha bangkit, melupakan Pak Rizal dan mencari kesibukan. Lisa yang prihatin kepadaku menawarkan lowongan pekerjaan di sebuah kios tanaman, aku langsung menerima. Kaget bukan main, Lisa membawaku menemui pria sipit berwajah dingin, pemilik Gabriel Agromart. Ah, sebelumnya aku lupa bertanya detail, tentang lowongan yang Lisa tawarkan.
Kim Soo Hyun KW memperhatikanku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ekspresinya kecut, persis pertama kali kita bertemu. Sangat menunjukkan bahwa dia tak menyukai kehadiranku, sungguh menyebalkan.
Lisa mencium punggung tangan bos Gabriel Agromart. Lantas, Lisa melingkarkan tangan ke pinggang pria kikir senyum itu. “Kenalin, dia koko aku, Dil. Namanya Koko Gabriel.”
“Dia bener Koko kamu, Lis?” Aku mengerutkan kening. Tidak percaya, pemilik Gabriel Agromart ternyata kakaknya Lisa. Saat aku main ke rumah dia hanya bertemu orang tuanya. Aku pernah melihat foto masa kecil kakaknya. Jelas berbeda seratus delapan puluh derajat, dulu imut sekarang amit.
“Bener atuh, Dil. Ganteng, kan, koko aku mirip Kim Soo Hyun?” Jawaban Lisa menyurutkan semangatku. Andai aku tahu sejak awal, tidak mungkin tertarik, sebesar apa pun gajinya. Lisa mendorong punggung Aa Gabriel, menyebabkan tubuh kekar dia sedikit goyah. “Kenalan dulu sana. Adilah ini sahabat aku, Ko.”
Aa Gabriel melirikku sinis. “Koko udah kenal.”
Mata Lisa membulat, bergerak ke arah Aa Gabriel lalu aku. “Serius, kalian udah saling kenal?”
“Bukan kenal, sih, Lis. Sekadar tahu doang.” Aku tersenyum simpul, meluruskan pengakuan Aa Gabriel. Orang kita belum kenalan, masa mengaku sudah kenal segala. Dasar Kim Soo Hyun KW sok kenal!
“Iya, maksud saya nggak perlu kenalan lagi. Saya udah tahu, kamu customer resek langganan sini, kan?”
Jemariku meremas ujung jilbab. Gigi atas bawah saling beradu. Pipiku mengembang menahan kesal. Aku mengucap istigfar dalam hati, mencoba meredam amarah. Lisa malah tertawa puas mendengar Aa Gabriel menyebutku customer resek. Kakak beradik sama-sama menyebalkan. Rasanya aku ingin mengacak-acak kios ini biar mereka tahu rasa.
“Sahabat aku langsung diterima ya, Ko? Dia lulusan pertanian, kemampuannya nggak diragukan lagi.” Lisa mengulas senyum sambil merapikan kerah kemeja Aa Gabriel yang agak berantakan.
Aa Gabriel menggeram lalu menghentikan aksi Lisa. Sekuat tenaga Lisa mempromosikan diriku, paling juga gagal mengambil hati pria sedingin es kutub selatan. “Harus melewati proses wawancara dan training selama seminggu. Kalau kinerja dia oke, baru diterima. Tapi Koko ragu dia lulusan pertanian, melafalkan nama ilmiah aja nggak becus.”
Aku merutuki diri sendiri. Dulu aku meminta dia melafalkan nama ilmiah dengan alasan ingin belajar. Betapa bodohnya aku di mata dia. Lebih parahnya, aku mengira dia seorang karyawan sampai melaporkan sikap menyebalkannya pada Kang Wawan. Konyol, dia tidak mungkin menerimaku.
Lisa terkekeh sambil menggeleng-geleng. “Lagian Koko mau aja dikerjain Adilah, dia tuh udah master kalau masalah melafalkan nama ilmiah. Oh, iya. Bukannya nggak ada training segala, Ko. Asal bisa mengurus tanaman udah pasti keterima.”
“Aturannya mulai berlaku hari ini.” Aa Gabriel memalingkan wajah dariku. Dia pasti tidak terima, pernah terjebak dalam perangkapku. Salah dia sendiri jadi bos terlalu kaku, sekali-kali, kan, aku mengerjainya?
Lisa mengerucutkan bibir seraya menyenggol lengan Aa Gabriel. “Koko nggak asyik banget sih.”
“Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, kan? Koko masih banyak urusan.” Dia melangkah, hendak meninggalkan kami.
Lisa sigap menarik tangan Aa Gabriel. “Tunggu atuh, Ko.”
Langkah Aa Gabriel terhenti. Kedua alisnya bertautan. “Apa lagi, Lisa?”
Lisa melirikku sambil menggerakkan dagu ke atas. “Gimana, Dil. Kamu mau nggak kerja di sini?”
Aku bergeming. Sulit membayangkan, mempunyai bos seperti dia bakal makan hati setiap hari. Namun, Lisa sudah berjuang sejauh ini, aku malu jika mundur sebelum berperang.
“Jangan berminat kerja di sini kalau masih berpikir loading!”
Aku hanya bisa mengepalkan tangan. Ingin rasanya menyumpal mulut dia dengan kaktus agar berhenti bicara sembarangan.
Aa Gabriel berdeham keras. “Masih lama nggak mikirnya?”
“Iya, aku mau bekerja di sini dan siap mengikuti aturan.” Aku mengembuskan napas berat, terpaksa menjawab demikian. Di sisi lain, aku butuh kesibukan, daripada meratapi persoalan hati yang menyakitkan.
Aa Gabriel mengangguk. “Baik kalau begitu. Sekarang ikut saya untuk proses interview.”
Lisa merangkul pundakku, menyemangati. Dia mendoakan agar Allah mempermudah urusanku. Aku tersenyum simpul, tidak yakin bisa lolos wawancara.
Aku mengikuti Aa Gabriel, memasuki ruangan kecil. Tembok ruangan dilapisi cat berwarna biru langit. Jendela yang terletak di dekat meja kerja terbuka lebar, sinar matahari masuk melalui celah itu. Tiga pot berisi tanaman begonia terpajang di permukaan lubang jendela yang cukup luas. Kalau tidak salah, jenis Begonia rex, memiliki bentuk daun besar-besar yang didominasi warna hijau dan merah. Kaktus berukuran mungil terpajang di atas meja kerja, menemani tumpukan dokumen yang tertata rapi. Menurutku, ruangan kerja Aa Gabriel sangat menakjubkan, bernuansa alam.
Aku menyerahkan berkas lamaran kepada Aa Gabriel kemudian segera duduk. Dia mulai membaca riwayat hidupku beberapa saat. Lantas, dia menatapku tegas dan memulai tanya jawab. Aku menjawab semua pertanyaan yang dia ajukan. Kurang lebih selama setengah jam, akhirnya proses interview berakhir.
“Selamat, kamu lolos interview. Besok kamu harus datang tepat waktu, pukul tujuh. Nggak boleh telat, mengerti?!”
“Bukannya kios ini buka jam delapan, ya?” Alisku terangkat, sulit menerima aturan jam kerja yang tidak sesuai pengetahuanku. Aku memang membutuhkan pekerjaan, tetapi bukan berarti dia bebas menyuruhku kerja sebelum waktunya.
Dia tersenyum getir. “Bagi yang menjalani training, diwajibkan datang sebelum kios buka. Kalau kamu keberatan, boleh mengundurkan diri!”
***
“Selamat pagi, A.” Aku memaksakan diri tersenyum ramah, menyambut kedatangan Aa Gabriel. Dia langsung membuka gerbang tanpa memedulikan sapaanku, kemudian masuk begitu saja.
Aku menyentakkan kaki, menyesal sudah menyapa dia. Dengan malas aku mengikutinya memasuki area kios. Langkahku terhenti, ketika dia membalikkan tubuh menghadapku.
Aa Gabriel menggerakkan dagu ke atas. “Siapa namamu? Saya lupa.”
“Adilah.”
Dia menunjuk semua tanaman yang jumlahnya tak terhingga, terdiri dari sekian rak beragam jenis. “Adilah, siram semua tanaman dalam waktu lima belas menit.”
Aku mengedarkan pandangan mengitari semua tanaman yang ada di sini, jauh lebih banyak dari koleksiku di rumah. “Mustahil, A. Nggak mungkin selesai hanya dengan waktu lima belas menit, itu banyak sekali.”
“Jangan membantah. Cepat laksanakan!” titahnya, suara bariton dia membuatku tersentak.
Aku lari terbirit-b***t mengambil gembor kemudian mengisinya dengan air, lantas menyiram tanaman satu per satu.
Aa Gabriel menyilangkan tangan di bawah d**a seperti seorang mandor. Lalu, dia menunjuk salah satu bunga mawar yang sudah kusiram. “Mawar ini terlalu sedikit airnya.”
Aku kembali mengucurkan air ke mawar tersebut, sedangkan tatapanku mengarah pada Aa Gabriel. Aku gemas melihat wajah ketus dia, ingin rasanya menarik pojok bibirnya agar tersenyum.
“Adilah! Airnya tumpah di luar pot, kalau kerja tuh yang fokus, mata jangan berkeliaran ke mana-mana!”
Aku menjengit. Baru tersadar, air yang keluar dari gembor berserakan ke luar pot. Aku tersenyum menyeringai, berusaha meminimalisasi kemarahan dia.
“Bukannya mikir, malah senyum-senyum seolah nggak punya dosa.” Dia menajamkan sorot mata. Senyumku lenyap seketika, berganti rasa sebal. “Yang ini juga airnya masih kurang. Awas, jangan berlebihan!” lanjut dia seraya menunjuk bunga matahari. Aku sengaja menyiram bunga matahari lumayan banyak. Sehingga, air naik ke atas permukaan pot yang menyebabkan tanah tergenang.
“Menyiram tanaman aja nggak becus! Semua tanaman saya bisa mati tergenang air kalau cara menyiramnya begitu.” Dia menatapku geram. Aku tertawa puas dalam hati tanpa menggubris omelan dia.
Setelah menyiram semua tanaman. Aku duduk di kursi rotan sebelah rak bunga mawar sambil mengibas-ngibaskan jilbab. Adem. Masa bodoh melampaui waktu yang telah dia tentukan sekali pun, yang penting pekerjaanku selesai saat semua karyawan sudah datang.
Aa Gabriel menyodorkan sebuah hand sprayer. “Semprotkan pupuk ini ke semua pot sri rezeki.”
Aku mendengkus kesal. Kubiarkan hand sprayer tetap berada di tangannya.
Alis Aa Gabriel terangkat. “Kenapa? Kamu keberatan?”
Aku bangkit dari duduk lalu mengambil alat penyemprot pupuk itu. “Nggak, kok.” Dalam hati menggerutu. Dasar manusia tak punya hati. Dia tidak berhenti memerintahku. Dia pikir, aku robot yang tidak merasakan capek apa?
“Kerjakan perintah saya sekarang juga!” hardik Aa Gabriel.
Aku menekan stick hand sprayer, mengarahkan lubangnya pada tanaman hias Aglaonema. Namun, cairan pupuk tidak keluar, padahal masih banyak. Kutekan sekuat tenaga, keras, penuh kekesalan hingga cairan pupuk berserakan, bahkan mengenai wajah Aa Gabriel.