Cintailah kekasihmu sekadarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Bencilah musuhmu sekadarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu.
—Ali bin Abi Thalib
***
(Adilah)
Lisa bergeleng-geleng melihat aku menyantap bakso yang diberi lima sendok sambal. Dia membuka tutup mulutnya seperti orang kepedasan, padahal hanya memakan soto ayam tidak pakai sambal. “Kamu nggak kesurupan, kan, Dil?”
Kuminum es kelapa untuk menetralkan panas yang membakar rongga mulut. Setelah air kelapa menyegarkan lidah dan kerongkonganku. Barulah aku menjawab pertanyaan Lisa, “Semua ini gara-gara Koko kamu, Lis.”
“Memang apa yang Koko Gabriel lakukan, sampai kamu bete begini?” Lisa memajukan wajah, antusias menantikan jawabanku. Dia belum tahu kelakuan Aa Gabriel karena baru datang saat istirahat.
Aku meletakkan garpu dan sendok di mangkuk secara serentak, menimbulkan bunyi nyaring. Kuah berwarna merah sambal memercik mengenai meja. Walau tidak satu meja, orang-orang di sekitarku seakan merasa terganggu. Aku tersenyum kikuk, menanggapi tatapan mereka. Lantas, aku segera mengelap meja menggunakan tisu. Lisa malah terkekeh menyaksikan sahabatnya menjadi pusat perhatian banyak orang.
Aku kembali meremas gagang sendok sambil melebarkan mata. “Coba kamu bayangkan Lis, tanaman kios bukan cuma belasan atau puluhan, mungkin ribuan. Pagi-pagi Koko kamu bikin aku jengkel, menyuruhku menyiram semua tanaman dalam waktu lima belas menit. Gila, kan?”
Lisa tidak jadi melahap mie putih yang sudah menggulung di garpunya. “Terus, kami nurut, Dil?”
“Iyalah nurut, daripada belum apa-apa udah dipecat. Nggak lucu, kan?”
Lisa tertawa renyah seraya menepuk tanganku. “Sabar ya, sifat asli Koko aku baik tahu. Cuma sedikit ketus aja, udah bawaan lahir.”
Aku meraih beberapa lembar tisu untuk membesit hidung. “Bukan sedikit ketus lagi, udah akut kali. Lebih parahnya lagi, Koko kamu yang sikapnya sedingin es kutub selatan itu, nggak pernah berhenti memerintahku. Aku capek sekaligus gemas, ingin memotong poninya yang meniru style Oppa Kim Soo Hyun.”
“Sebelum kamu memotong poni saya, kamu yang lebih dulu saya lemparkan dari Gabriel Agromart!”
Aku menoleh ke arah sumber suara. Mataku melebar. Pria berwajah kaku berdiri tepat di samping kiriku.
“Ke ruangan saya sekarang juga, Adilah!”
Selera makanku lenyap melihat wajah bos menyebalkan itu. Setelah meneguk sisa es kelapa, aku berjalan tergesa-gesa mengikuti langkah Aa Gabriel sampai lupa berpamitan pada Lisa.
“Jangan memarahi sahabatku ya, Ko,” teriak Lisa dari kejauhan. Aa Gabriel semakin mempercepat langkah, mengabaikan permintaan Lisa.
Aku hampir kewalahan mengimbangi langkahnya. Jarak kantin dan Gabriel Agromart berdampingan, tak butuh waktu lama sampai di ruangannya.
Aku langsung duduk. Aa Gabriel seketika membungkuk ke arahku. Dia tersenyum miring seraya mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Aku sontak mengerang, segera membelokkan wajah menghindarinya.
“A-Aa mau ngapain?” Jantungku berdetak kencang. Mataku mengawasi gerak-gerik Aa Gabriel yang mengerikan, mengingat hanya kami berdua di ruangan ini. Batinku berteriak meminta perlindungan Allah. Tidak lama, Aa Gabriel kembali berdiri tegak. Syukurlah, aku bernapas lega.
Dia menunjuk wajahku sambil menggertakkan gigi. “Kamu tahu, alasan saya memanggilmu ke sini?”
Aku menunduk. “Ka-karena Aa mendengar percakapan aku sama Lisa.”
Aa Gabriel berjalan menuju kursinya, lalu duduk. Dia memukul meja sangat keras. “Saya nggak suka sama orang yang sering membicarakan di belakang. Saya juga benci orang ceroboh, ini peringatan pertama dan terakhir buat kamu, Adilah!”
Aku menggigit bibir. Terpaku, mendengar omelan dia yang menyeramkan.
“Kalau kamu sering melakukan kesalahan, saya nggak akan seg—“ Kalimat Aa Gabriel terhenti. Bukannya melanjutkan, dia malah mengipasi wajah dengan tangan sembari merintih.
Astagfirullah, kenapa wajah Aa Gabriel jadi ruam-ruam kemerahan begitu?!