bencian yang terucap dari lisan seseorang tidak selalu benar adanya karena kejujuran perasaan hanya tersimpan di hati terdalam.
—Elis Sri W
***
(Gabriel)
Saya mengoleskan salep kortikosteroid pada wajah yang mengalami dermatitis kontak iritan akibat tersemprot pupuk kimia. Keadaan wajah saya sangat memprihatinkan. Dalam bayangan cermin kecil, di bagian pipi dan hidung terdapat ruam-ruam merah, rasanya panas dan perih. Menurut keterangan dokter, ruam-ruam merah akan berangsur hilang dalam waktu satu sampai dua minggu. Sepanjang mengoleskan salep tersebut, saya terus menggerutu, menyalahkan wanita ceroboh itu atas kejadian ini.
Usai mengoleskan salep, saya berbaring di sofa sambil memejamkan mata. Tiba-tiba wajah gadis bermata sayu muncul dalam bayangan. Wajahnya putih bersih bak pualam, pipi bersemu kemerahan. Kecantikan naturalnya menghipnotis saya hingga terpaku, menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Sungguh, saya tidak bisa menepisnya! Dia memang cantik walau menjengkelkan. Iya, bayangannya pasti muncul karena saya begitu kesal. Tidak mungkin karena alasan lainnya.
Suara cempreng seseorang membuyarkan bayangan indah yang baru saja berlangsung. Saya spontan membuka mata, lantas terduduk.
Wanita berjilbab biru langit yang berdiri di hadapan saya menatap penuh selidik. Dia memperhatikan wajah saya beberapa saat, kemudian tertawa lepas. “Innalillahi, muka Koko kayak udang rebus, merah-merah begitu.”
Saya berdecak sebal. Bukannya prihatin dengan kondisi wajah saya, dia malah menghina saya. Adik sialan.
Lisa duduk di samping saya. Dia hampir menyentuh wajah saya, namun saya keburu menepis tangannya. “Kenapa bisa begini, Ko?”
“Ulah Adilah, sahabat kebanggaan kamu itu. Akibat kecerobohan dia, wajah Koko tersemprot pupuk.” Saya berdecak sebal. Sebenarnya malas menjawab pertanyaan Lisa. Paling-paling juga Lisa membela Adilah.
Lisa tertawa semakin keras hingga terpingkal-pingkal, memegangi perut. Suara cempreng dia membuat saya tidak tahan, terpaksa menutup mulutnya menggunakan bantal kecil.
Lisa menggeram lalu memukulkan bantal ke tubuh saya. Hanya bantal busa, tidak berpengaruh bagi saya. “Makanya, Koko jangan terlalu galak sama Adilah. Kurangi juga sikap ketusnya, biar nggak kena karma.”
“Kerja dia nggak pernah beres. Wajar Koko sering memarahinya. Sikap Koko tergantung cara orang tersebut bersikap.”
“Kasihan dia, Ko. Baru hari pertama kerja aja udah dikasih tugas banyak. Koko hobi banget menyiksa anak orang.”
Saya tersenyum kecut. Karyawan seperti Adilah tidak perlu dikasihani. Masih jadi anak baru saja songong sama bosnya, apalagi sudah senior, mungkin semakin melunjak. Mending kalau kinerja dia tidak di bawah rata-rata, masih ada kelebihan. Ah, karyawan macam dia tidak tercatat di kamus saya. “Koko nggak butuh karyawan ceroboh yang nggak becus kerja kayak Adilah. Sekali lagi dia berbuat kesalahan, jangan harap bisa lulus training!”
***
“Aku benar-benar minta maaf atas kecerobohan waktu itu yang berakibat fatal. Terserah, Aa mau memaafkan atau nggak.” Suara wanita di hadapan saya mulai geram. Sudah sekian kali meminta maaf sejak kedatangannya beberapa menit yang lalu, tidak mendapatkan respons baik dari saya. Dia datang bersama Lisa yang sudah tiga hari menggantikan saya, mengurus kios. Sialnya, Lisa meninggalkan kami berdua di teras depan—beralasan mau mandi.
Saya menatap sengit Adilah. Bosan, mendengar kata maaf dia. Saya ingin dia segera pergi. “Oke, saya maafkan. Mending sekarang kamu pulang! Jangan sampai kehadiran kamu membawa kesialan bagi saya.”
“Terima kasih, Aa udah berlapang d**a memaafkan aku. Semoga lekas sembuh.” Dia menyerahkan parsel buah, memasang wajah ketus.
Saya mendorong parsel buah yang Adilah sodorkan. Dia pikir, saya semudah itu disogok pakai parsel. Saya juga mampu membeli seratus parsel kalau mau. “Bawa lagi aja. Saya nggak butuh pemberian kamu.”
Adilah mendengkus. Lantas, dia berdiri. “Ya udah, kalau Aa nggak butuh, silakan buang sendiri.” Dia meletakkan parsel di lantai dekat kaki saya. Kemudian dia meninggalkan saya. Hanya dalam waktu beberapa menit punggungnya menghilang dari penglihatan saya.
Saya melirik parsel sembari menelan ludah, melihat buah-buahan segar sangat menggiurkan. Sungguh, menggoda benteng pertahanan saya yang awalnya tak mau menerima. Akhirnya, saya memutuskan mengambil parsel setelah memastikan Adilah sudah menjauh. Malu, jika sampai ketahuan sama dia.
“Mana calon menantu idaman Mama? Lisa bilang, dia datang menjenguk Koko.” Kemunculan Mama membuat saya tersentak. Alhasil, saya menjatuhkan parsel buah yang baru saja diambil.
***
- Kortikosteroid : Obat untuk meredakan peradangan/inflamasi
- Dermatitis kontak iritan : Peradangan pada kulit akibat terkena zat tertentu secara langsung sehingga menyebabkan iritasi