Melatih Hati

1022 Kata
Di balik sikap angkuh seseorang, tersimpan kelembutan yang menyentuh kalbu. Oleh karena itu, kenalilah dia sebelum menilai buruknya. —Elis Sri W ***  (Adilah) “Saya nggak mau tahu. Pokoknya, ganti bunga krisan nggak berkualitas ini dengan yang baru!” Pranggg! Wanita paruh baya bertubuh tambun itu membanting pot di depan mataku. Aku menjengit kaget, melihat pot tersebut hancur dalam sekejap. Aa Gabriel menghampiriku. Bibirnya menganga, kedua bola mata dia tertuju ke arah pot tanah liat yang terbelah menjadi beberapa bagian. Butiran tanah berhamburan, bunga krisan tak lagi menancap di sana. “Ada apa ini?” Aku membisu. Tangan mendadak gemetar. Rasa bingung dan cemas menyelimuti pikiranku. Aku harus menjelaskan apa kepada Aa Gabriel? Ibu berwajah garang menatap tajam Aa Gabriel. Lantas, dia menunjuk bunga krisan yang sudah tergeletak mengenaskan. “Tiga hari yang lalu, saya membeli bunga krisan di sini, dilayani karyawan wanita satu-satunya yang belum mengenakan seragam.” Bola mata besar dia melirikku. Aku meringis ngeri, apalagi wajahnya yang tampak memerah begitu menyeramkan. “Sekarang lihat, belum apa-apa daunnya berubah kecokelatan dan hampir layu. Tapi karyawan anda, nggak mau menggantinya dengan yang baru.” Aa Gabriel mengambil krisan itu. Dia mengamati, membolak-balikkan krisan beberapa kali. “Dari hasil pengamatan saya. Daun bunga krisan menjadi cokelat akibat kekurangan air. Krisan yang ditanam dalam pot, nggak bisa menyerap embun atau air ketika hujan. Sehingga membutuhkan banyak air daripada yang langsung ditanam di tanah.” Dia mengembuskan napas. Sorotan matanya tak terlepas dari sosok ibu berwajah garang yang mengangguk-angguk, mendengarkan penjelasan dia. “Tambahan buat Ibu. Saat menyiram bunga krisan, jangan sampai mengenai daunnya, hal tersebut dapat memicu bakteri penyebab bunga krisan sakit,” pungkas Aa Gabriel. Ibu itu kembali melirikku seraya mendesis. “Coba kalau karyawan anda menjelaskan sejak awal. Kejadiannya nggak mungkin seperti sekarang.” “Saya minta maaf atas kelalaian karyawan Gabriel Agromart. Ibu tenang aja, kami akan bertanggung jawab.” Aku tertunduk pasrah, harus siap menghadapi teguran pedas bos kutub selatan. Belum seminggu kerja di sini banyak sekali cobaan yang menggoyahkan semangatku. Kalau masalah punya bos sadis tidak aneh lagi. Kenapa komplain pembeli malah lebih sadis? Aa Gabriel memanggil Kang Wawan sambil melambaikan tangan. Kang Wawan yang berdiri tidak jauh dari posisi kami dalam waktu singkat menghampiri. “Kang, tolong, ya, Bunga krisan milik Ibu ini diganti sama yang baru,” titah Aa Gabriel. Kang Wawan mengangguk kemudian bergegas mengajak ibu bermulut cabai untuk ikut bersamanya. Selepas mereka menjauh. Aa Gabriel menunjukku sembari menatap sengit. “Dan kamu, bersihkan pecahan pot ini!” Aku berjongkok di hadapan Aa Gabriel. Walau menjadi pusat perhatian para customer yang berlalu lalang tidak kupedulikan. Aku mengumpulkan puing-puing besar menjadi satu tumpukkan. Tersisa puing-puing kecil yang masih berserakan. Aku berdiri serentak, hendak melangkah. Aa Gabriel merentangkan tangan ke depan, hampir menyentuh tubuhku. “Tunggu! Pekerjaan kamu belum beres.” Aku melonjak, seketika beringsut menjauhinya. “Aku mau mengambil serok sama sapu untuk membersihkan puing-puing kecilnya. Aa tenang aja, aku nggak bakal kabur, kok.” “Nggak perlu, pakai tangan aja.” Aa Gabriel merogoh saku celana. Dia mengeluarkan plastik hitam yang langsung dilemparkan kepadaku.“ Masukan semua serpihan itu ke kantong plastik. Jangan lupa, bunga krisannya ditanam lagi.” “Tapi taj—“ “Jangan membantah!” Aku menyentakkan kaki, kesal. Dengan terpaksa jongkok kembali. Aku mulai memasukkan puing-puing besar ke dalam plastik, menyapu puing-puing kecil menggunakan telapak tangan. Mataku terangkat, memergoki Aa Gabriel tengah tersenyum lebar menyaksikan penderitaanku. Tanganku mengepal, meremas sesuatu di dalamnya. Aku sontak menjerit. Jemariku membuka, menampilkan dua pecahan tajam menusuk telapak tangan kanan. Aku mencabutnya perlahan sambil meringis. Darah mengalir dari lubang luka. Sakit. Perih. Air mataku luruh secara perlahan. “Dasar ceroboh!” Aa Gabriel menggeleng seraya berlalu. Hatiku merintih. Bukan hanya perkataan pedas dia yang melukai perasaanku, tetapi sikap dia ikut melukai fisikku. Rasanya aku tidak sanggup lagi menghadapi dia. Aku mau menyerah! Pluk! Kotak P3K menimpuk lututku. Aku mendongakkan wajah, ternyata dia yang melemparkan kotak itu. Enak sekali dia berdiri santai seakan melupakan kesalahannya. Apa dia tidak punya hati? “Obati lukamu. Kalau udah beres, segera menghadap saya.” *** Sepasang mata sipit Aa Gabriel menerobos pandanganku. “Dulu, waktu kamu menjadi customer, meminta saya menjelaskan cara merawat bunga anggrek. Masih ingat, kan?” Aku mengangguk. Aa Gabriel menggeser kursi lebih mepet ke meja. Dia menunjuk mataku hingga mengerjap-ngerjap. “Asal kamu tahu, setelah menghadapi customer kayak kamu. Di hari berikutnya saya menerapkan hal tersebut. Saya sadar, menjelaskan detail tentang tanaman yang dibeli customer udah seharusnya menjadi tugas penjual.” Dia menghela napas. Tidak menurunkan jari telunjuk sedikit pun. “Kenyataannya, omong kosong. Kamu sendiri nggak becus melayani customer sampai ada yang komplain.” Perkataan kasar Aa Gabriel merasuki otakku, bersemayam dalam telinga, terngiang-ngiang. Urat-uratku menegang. Jemariku menyatu bersama telapak tangan, tidak begitu erat karena lukaku masih terasa nyeri. Aku mendongakkan wajah. Air mataku meleleh untuk kedua kalinya. “Cukup! Aku nggak mau mendengar ucapan kasar Aa lagi.” Aa Gabriel mematung. Dia sama sekali tidak mengubah posisi duduk yang tegak dan datar. “Nggak usah menangis di hadapan saya untuk mencari simpati.” “Aku manusia, wajar bisa menangis. Bukan seperti Aa, robot yang nggak punya hati.” Aa Gabriel berdecak sambil melotot. “Apa kamu bilang?! Saya robot nggak punya hati?” “Iya, Aa sangat kejam.” Dia tertawa sinis, membuang muka tak acuh. “Saya nggak peduli tentang penilaian kamu. Saya nggak mungkin membentak-bentak kalau kamu becus kerja. Sekali lagi kamu berbuat kesalahan. Saya—“ “Nggak meluluskan aku training?” potongku, menebak kalimat yang hendak dia katakan. “Saya belum selesai ngomong!” “Udah aku omongin. Itu, kan, ancaman yang ingin Aa katakan?” Dia mendelik tajam. “Kebetulan, hari ini terakhir kamu menjalani training. Saya memutuskan, memberhentikan kamu.” Aku bangkit dari duduk, tersenyum kecut. “Oh, aku sama sekali nggak keberatan, justru merasa senang bisa keluar dari sini.” Aku menyeka sudut mata. Lantas, aku melangkah meninggalkan dia, membawa segudang kesedihan bercampur kekesalan yang memuncak sampai ke ubun-ubun. “Hey, tunggu!” teriak dia saat aku sudah sampai pintu, namun aku mengabaikan. “Masih ada yang harus kita bicarakan,” lanjutnya semakin keras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN