Why?

825 Kata
Jangan kau persembahkan senyum kebahagiaan kepada seseorang, jika suatu hari nanti, kau pula yang merampas senyum itu tanpa sisa. —Elis Sri W *** (Gabriel)  Saya meremas rambut, melepas kepergian Adilah. Merutuki diri sendiri. Bodoh, bodoh, bodoh. Andai saya mampu mengontrol emosi, mungkin Adilah masih bertahan di Gabriel Agromart. Saya memijat kepala yang terasa pening, memejamkan mata untuk merenung. Dari sekian banyak wanita yang pernah bekerja di Gabriel Agromart. Adilah yang mampu bertahan sampai seminggu, sedangkan sisanya hanya bertahan dua atau tiga hari, paling lama lima hari. Adilah tidak boleh dilepaskan, dia berpotensi menghadapi tekanan. Terlintas dalam benak saya, di surat lamaran Adilah terdapat alamat dan nomor teleponnya. Puji Tuhan, Dia memberikan jalan. Saya akan mendatangi rumah Adilah untuk meminta maaf. Ah, tidak, apa lewat telepon saja? *** Di tengah perjalanan pulang. Saya menghentikan motor tepat di tepi jalan saat tidak sengaja melihat Adilah memasuki gerbang Masjid Agung Karawang. Saya turun dari motor, tidak mau melewatkan kesempatan untuk meminta maaf. Saya mengintai dia dari belakang sembari menyiapkan keberanian, menemui Adilah secara langsung. Saya memasuki area Masjid Agung Karawang. Di halaman depan masjid dua lantai ini, ada sebuah tugu bertuliskan huruf Arab. Keempat sudut tugu masing-masing tertancap satu kujang yang berkalung tasbih, sedangkan bagian puncaknya terdapat lambang kitab disangga kapal laut. Adilah memasuki ruangan yang di atasnya terpampang tulisan, ‘Tempat Wudu Wanita’. Tidak lama, dia keluar dengan wajah basah, begitu pun jilbabnya, dipenuhi percikan air. Saya mundur dua langkah, menyembunyikan diri pada ujung tembok tempat ini. Adilah berjalan terburu-buru. Saya nekat mengikutinya, memasuki pintu cokelat perpaduan gold bermotif anyaman yang terbuka lebar. Kebetulan suasana tampak sepi, hanya ada dua wanita yang tengah tertidur di sisi paling belakang. Adilah berdiri di barisan terdepan, mengenakan pakaian serba putih yang menutupi kepala hingga kaki, kecuali wajah. Dia menggerakkan tubuh: empat kali berdiri; membungkuk; sujud; duduk; dan terakhir menoleh kanan kiri sebanyak satu kali. Saya tetap memperhatikan dia di balik tiang ruangan. Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an mengusik pendengaran saya. Entah dapat ide dari mana, saya berinisiatif mengaktifkan rekaman ponsel. d**a saya berdebar mengiringi ayat demi ayat yang Adilah lantunkan, meski tidak tahu maknanya, saya seolah dibawa melayang, terhanyut, terbuai suara indahnya. Menenangkan. Menyejukkan. Padahal saya sering mendengar Mama dan Lisa mengaji tetapi efeknya tidak sedahsyat ini. “Naha aya lalaki di dieu?” Suara lantang seorang wanita berkulit keriput membuat saya terperanjat. “Teu nempo tulisan eta meureun,” lanjut dia seraya menunjuk selembar kertas pada salah satu tiang ruangan yang bertuliskan, ‘Tempat Salat Khusus Wanita’. Lantas, nenek itu pergi begitu saja. Saya berdecak. Sial, baru menyadari tulisan tersebut. Sangat memalukan sekaligus menjatuhkan harga diri saya sebagai seorang lelaki karena masuk ke ruang salat wanita. Sudah telanjur. Biarkan saja, yang penting saya bisa mengikuti Adilah. “Aa Gabriel, lagi ngapain di tempat salat khusus wanita?” Saya membalikkan tubuh mengikuti sumber suara. Adilah sudah berdiri di belakang. Sepertinya dia mendengar kegaduhan barusan hingga menghampiri saya. Saya menghela napas panjang, menggaruk kepala yang tidak gatal. “Saya... saya ... kita bicara di luar aja.“ *** “Maafkan atas segala kesalahan saya,” ucap saya, membuka pembicaraan. Mata kami bertemu satu titik. Saya bisa menyimpulkan dari kelopak mata sembabnya dan bola mata kemerahan itu sudah pasti bekas guratan kesedihan. Saya mengusap wajah. Menyesal sudah membuat dia menangis. Saya baru menyadari ternyata selama ini terlalu berlebihan memperlakukan Adilah. Adilah memalingkan wajah seraya berdecak. “Percuma, tangan aku telanjur terluka, nggak bisa diobati dengan kata maaf.” Saya menunduk, menyadari tindakan fatal yang tidak hanya menggoreskan luka di tangan Adilah, tetapi juga di hatinya. “Tolong maafkan saya, kembalilah menjadi karyawan Gabriel Agromart,” pinta saya, serius. Saya menyatukan telapak tangan setinggi d**a, memohon penuh harap agar mendapatkan maaf dari Adilah. Dia enggan menoleh. Pandangannya mengarah pada tugu yang ada di tengah lapangan masjid. Dia membungkam. Hanya hiruk orang-orang bercengkerama di teras masjid yang menghiasi pendengaran saya. Saya bingung harus bagaimana lagi? Rasanya, saya sudah kehabisan cara. “Aku udah maafin Aa. Tapi, nggak bisa memenuhi permintaan Aa.” Akhirnya Adilah bersuara meski masih enggan menatap saya, tak mengapa. Jawaban dia cukup melegakan hati saya, menumbuhkan tunas harap yang sempat layu. Saya mengucap beribu syukur kepada Tuhan. “Terima kasih, Adilah.” Adilah mengangguk. “Kamu yakin Adilah, nggak mau lagi kerja di kios saya?” Adilah menggeleng tegas seraya tersenyum miring. Saya menghela napas berat, tetap mencari cara untuk melunakkan hatinya. “Apa yang harus saya lakukan agar kamu mau kembali?” Adilah mengabaikan pertanyaan saya. Matanya yang melebar tertuju pada seorang pemuda yang mendekati kami. Pemuda berwajah Arab menghentikan langkah, berjarak sekitar dua langkah dari posisi Adilah. Lantas, Adilah langsung berdiri dengan mimik wajah datar. Saya turut berdiri. Pemuda berlesung pipi itu tersenyum simpul. Dia menaikturunkan bola mata, memperhatikan saya dari atas sampai bawah. Mimik wajahnya begitu sengit. Sungguh, membuat saya tidak nyaman. “Pintu kios selalu terbuka buat kamu. Saya tunggu kedatanganmu, Adilah. Permisi.” Saya meninggalkan mereka, membawa serangkaian pertanyaan yang menyelimuti pikiran. Siapa pemuda itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN