Allah mematahkan hati seseorang demi menjaganya dari rasa yang salah karena cintamu berlabuh bukan pada takdir-Nya.
—Elis Sri W
***
(Adilah)
Sorot mata nanar ‘Pak Rizal’ menangkap punggung Aa Gabriel yang berlalu. Lantas, tatapan mengintimidasi itu beralih kepadaku seakan menagih penjelasan tentang Aa Gabriel. “Dia siapa, Adilah? Apa karena dia, kamu menolak saya?”
Dadaku sesak diberondongi pertanyaan menyudutkan. Dia tidak pernah tahu, perasaanku diporak-porandakan keputusan menyakitkan. Aku tersiksa mengambil keputusan yang mendustai perasaan. Bahkan penyesalan masih melekat dalam ingatan. “Dia kakaknya Lisa. Nggak ada hubungannya sama keputusan aku, Pak.”
Dia memalingkan wajah seraya mengembuskan napas. “Maaf, saya udah salah sangka. Sejujurnya, saya belum sepenuhnya menerima keputusan kamu, Adilah.”
“Tolong, Pak. Jangan mengungkit sesuatu yang telah berlalu!” Aku menunduk pilu. Pengakuan dia mengoyak batiku. Aku memahami, dia sulit menerima keputusanku yang mengecewakan hatinya. Kasihan. Dia menderita karenaku.
“Melupakan nggak semudah merancang angan-angan indah bersamamu yang ujungnya menjatuhkan saya di dasar kekecewaan.”
Aku mendongakkan wajah, geram, mendengar kalimat demi kalimat yang melemahkanku. Sekuat tenaga aku memusnahkan rasa iba yang perlahan menggoyahkan keputusan. “Cukup, Pak! Kita akhiri pembicaraan ini. Aku permisi.”
“Tunggu, Adilah!” Pak Rizal menghalangi langkahku. Dia melirik sebelah tanganku yang terbungkus perban basah. Warna putih kain kasa hampir punah akibat noda darah. “Tangan kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa kok, Pak.” Aku menyembunyikan tangan kanan ke belakang tubuh. Mataku menyipit waspada. Dia tidak perlu tahu tanganku terluka.
“Mana tangan kananmu!”
Sekuat tenaga aku menyembunyikan, Pak Rizal telanjur curiga. Dia bukan orang bodoh yang mudah dibohongi. Aku terpaksa menelungkupkan telapak tangan kanan. Pak Rizal menggeleng sambil mengucap istigfar. Mungkin baginya kondisi tanganku cukup mengenaskan.
“Perbannya penuhi oleh darah, pasti lukamu sangat dalam. Ayo, ikut saya ke dokter sekarang.”
“Jangan, Pak!” Aku gelagapan saat dia hendak menarik tanganku. Huaaa... untung aku sigap mendekap tangan kanan, jadi berhasil menghindar. Asal dia tahu, lebih dalam luka hatiku ketimbang luka tanganku.
Pak Rizal melonjak, mundur satu langkah menjauhiku. Dia tidak kalah kagetnya denganku. “Maaf ... maaf, saya refleks, karena terlalu mengkhawatirkan kamu, Adilah.”
Aku mengangguk paham, meski agak syok karena tangan kami hampir saja bersentuhan. Dengan menarik napas perlahan, aku berusaha menormalkan hati yang berdebar-debar. Peristiwa tadi menguji adrenalinku, meningkatkan detak jantungku begitu kencang. “Aku bisa pergi ke dokter sendiri, Pak. Terima kasih atas tawarannya.”
“Jangan menolak niat baik seorang dosen! Meski kamu udah lulus kuliah. Saya tetap dosen kamu yang patut dihormati.”
***
Sepulang dari klinik yang berada di kawasan Galuh Mas. Pak Rizal melajukan mobil, pelan. Alih-alih mengendalikan setir sambil menatap keramaian jalan raya, Pak Rizal membuka obrolan, “Jangan melupakan saran dokter: minum obatnya, oleskan salep antibiotik, rutin juga mengganti perbannya.”
“Iya, Pak. Terima kasih, udah mengingatkan.” Aku menegaskan dalam hati bahwa perhatian Pak Rizal sangatlah manusiawi. Semua orang baik akan melakukan hal yang sama bila manusia lain terluka, apalagi aku mantan mahasiswanya. Jadi tidak ada yang spesial dengan tindakan Pak Rizal membawaku ke dokter.
Pandanganku berpaling ke arah kaca mobil. Langit menampilkan warna abu-abu di penghujung sore, pertanda gelap gulita segera menerpa. Lampu-lampu di gedung sepanjang jalan menyala, menghiasi tempat perbelanjaan Galuh Mas. Mobil Pak Rizal terus menembus jalanan, melewati Mall Karawang Central Plaza. Sekitar lima menit lagi sampai Perumahan Galuh Mas—tempat tinggalku.
“Tangan kamu kenapa bisa terluka?” Pak Rizal menoleh sebentar ke belakang, kemudian kembali fokus mengemudi. Sebenarnya aku keberatan membiarkan dia duduk sendiri di depan, masa bagaikan supir membawa penumpang. Demi menghindari fitnah, aku terpaksa menuruti perintah dia.
“Kecelakaan kerja, Pak.” Aku mendesis geram, mengingat perlakuan Aa Gabriel. Tanganku terluka karena dia melarangku mengambil serok dan sapu. Dia memang bos kejam, bos jahat, bos paling ketus yang pernah kutemukan di belahan bumi ini. Bagaimana karyawan mau betah coba?
“Oh, lain kali hati-hati. Kalau boleh tahu, memang kamu punya hubungan apa sama kakaknya Lisa?”
Sudah kuduga, pertanyaan pertama sekadar basa-basi semata. Ujungnya dia membahas Aa Gabriel, padahal aku tidak berselera membahas pria kejam bermuka dingin. Jadi aku menjawab sekenanya ‘Aa Gabriel mantan bosku’. Baguslah, Pak Rizal langsung terdiam selama sisa perjalanan.
Setelah sampai di rumahku. Abi yang sudah berpenampilan rapi baru saja keluar: mengenakan baju koko, sarung, dan peci. Abi tersenyum lebar menyambut kehadiran Pak Rizal. Betapa bahagianya mimik wajah Abi bertemu Pak Rizal. Aku tahu Abi mengidamkan sosok menantu seperti dia.
“Alhamdulillah, Nak Rizal masih mau berkunjung ke sini.”
Pak Rizal tersenyum. Dia pintar sekali bersandiwara di hadapan Abi. Sementara dia terang-terangan menunjukkan kekecewaannya terhadapku. “Maaf ya, Pak. Saya lancang mengantarkan Adilah pulang. Kebetulan, tadi kami bertemu di Masjid Agung.”
Abi menepuk bahu Pak Rizal sambil tertawa kecil. “Nggak masalah. Saya percaya, Nak Rizal pria yang baik. Jadi nggak mungkin berbuat jahat terhadap putri saya.“ Wajah ceria Abi berubah sendu. “Justru saya yang minta maaf, Adilah pernah mengecewakan hati Nak Rizal. Jujur, saya tahu tentang penolakan Adilah dari ibunya. Saya menyesal, nggak bisa mengubah keputusan Adilah.”
“Insyaallah, jodoh nggak akan ke mana, Pak.”
Kumandang azan Magrib menghentikan obrolan mereka. Abi mengajak Pak Rizal salat berjamaah. Mereka langsung berangkat menuju masjid terdekat menggunakan mobil Pak Rizal.