Kabut penutup

806 Kata
Ketetapan Allah tak seburuk yang manusia pikirkan. Begitu pun, kenyataan tak seindah harapan manusia. —Elis Sri W *** (Gabriel) “Bagaimana perkembangan kios kita, Ko?” tanya Papa. Selama ini Papa menyerahkan urusan kios kepada saya, dia hanya mengurus kantor pusat di Purwakarta sebagai laboratorium produksi. Kios mendapatkan pasokan tanaman dari sana. “Puji Tuhan, tambah ramai, Pa, makanya kekurangan karyawan.” Saya menjawab apa adanya. Siapa tahu Papa punya rekomendasi karyawan berkualitas. Saya bosan menerima karyawan bermental tempe yang sanggup bertahan beberapa hari saja. Mama yang awalnya fokus menonton televisi, seketika menoleh ke arah saya seakan tertarik dengan topik pembicaraan kami. “Memang masih kurang juga, Ko? Bukannya udah ada Adilah.” “Adilah bukan karyawan Gabriel Agromart lagi, Ma.” Saya mendesah, lalu menyesap kopi hangat buatan Mama. Jika Adilah mau kembali, saya tidak perlu pusing mencari karyawan lain yang bisa jadi kinerjanya lebih parah dari Adilah. Saya menyadari selama training, memperlakukan Adilah terlalu keras. “Kenapa bisa begitu, Ko?” Mata Mama terbelalak, menyimpan beribu tanya. Saya pernah menjatuhkan parsel buah, terkejut mendengar pernyataan Mama waktu Adilah datang menjenguk. Katanya Mama mengidamkan sosok menantu seperti dia. Untung Adilah sudah pulang, kalau dia mendengarnya bisa gawat. “Koko kehilangan kendali, terus nggak sengaja memecat dia, Ma.” “Ya ampun, Koko. Jangan asal pecat begitu, dong!” bentak Mama seraya melotot tajam. Saya sudah menduga, Mama pasti membela wanita ceroboh yang hobi membantah itu. “Adilah yang dulu pernah main ke rumah kita bukan sih, Ma?” tanya Papa, sebelum mengambil gelas dan menyesap kopinya. Saya baru tahu, Adilah pernah main ke rumah, mungkin karena selalu pulang sore. Bahkan sebelumnya, saya tak pernah mengira Adilah teman Lisa. “Iya, Pa. Adilah teman Lisa itu.” Mama menyahut sambil menekan remote, mematikan televisi. Ternyata Adilah lebih menarik ketimbang acara televisi. Mama sampai rela melewatkan FTV Indosiar ‘Suara Hati Istri’ yang selalu on time ditonton setiap malam. Papa mengerutkan dahi. “Memang Adilah salah apa, Ko? Padahal Koko nggak pernah memecat karyawan, malahan karyawannya yang sering mengundurkan diri.” Saya terdiam, mencoba merangkai kalimat untuk meyakinkan mereka. Di sini bukan sepenuhnya kesalahan saya. Sikap menyebalkan Adilah yang mengharuskan saya bertindak tegas. “Sejak awal Adilah masuk kerja, dia sering berbuat kesalahan, Pa.” Papa mengangguk santai, lalu berdeham. “Wajar dong, Ko. Dia, kan, anak baru. Jadi butuh banyak bimbingan.” Mama menggeser posisi duduk mendekati saya. Lantas, Mama mengelus pundak saya sambil senyum-senyum. Saya paham betul, Mama bersikap demikian kalau ada maunya. “Padahal Mama senang loh, Adilah kerja di kios kita. Mama suka sama Adilah. Dia gadis yang baik. Alangkah baiknya Koko mempekerjakan dia lagi. Syukur-syukur kalian saling suka dan berjodoh. Mama bakal bahagia banget, Ko.” Papa spontan menanggapi ucapan Mama antusias, “Benar kata Mama, siapa tahu jodoh. Papa juga ingin secepatnya punya menantu. Koko itu ganteng, pendidikan oke, udah mapan juga. Mau menunggu apa lagi selain mencari calon istri?” Saya mengernyitkan kening tidak setuju. Berjodoh sama Adilah? Ah, mereka bergurau. Semoga Tuhan tidak akan pernah mengabulkan. *** “Koko jahat banget sama Adilah. Aku nggak menyangka Koko memecat dia dalam keadaan terluka,” omel Lisa dengan suara geram. Malam ini semua orang menyudutkan saya, tadi sore Papa dan Mama. Sekarang Lisa. Begitu spesialkah Adilah bagi mereka? Saya tetap mengamati angka-angka yang tertera di layar monitor sehingga mengabaikan kedatangan Lisa. Rekapitulasi penjualan selama sebulan sangat merepotkan. Saya tidak punya waktu meladeni Lisa. Apalagi membahas Adilah, tidak penting. Lisa mendengkus kesal kemudian mendekati saya. Dia menggoyangkan bahu saya berkali-kali. ”Koko, dengar aku ngomong nggak, sih?!” “Iya Lisa, Koko dengar. Nanti kita bicarakan lain waktu aja, sekarang Koko lagi sibuk banget, Lis.” Saya melirik sekilas, Lisa duduk di samping sambil menyilangkan kaki di atas sofa. “Aku nggak mau tahu, besok Koko harus minta maaf sama Adilah.” Dia sungguh menjengkelkan. Saya kehilangan konsentrasi, percuma dilanjutkan, tidak mungkin beres kalau Lisa terus mengganggu. Saya merebahkan kepala ke punggung sofa selepas menutup laptop. “Tadi sore Koko nggak sengaja menghampiri Adilah di Masjid Agung. Koko udah minta maaf, bahkan memohon agar dia kembali ke kios.” Lisa menopangkan tangan di punggung kursi. Kepalanya meneleng ke arah saya. “Terus apa kata Adilah?” “Sebelum Adilah memberi kepastian mengenai tawaran Koko. Seorang pria datang menghampiri dia.” Saya memejamkan mata. Bayangan Adilah muncul tiba-tiba. Tatapan dia terhadap pria itu sungguh berbeda. Sepertinya Adilah menyimpan perasaan lebih kepadanya. Tunggu, untuk apa juga saya peduli? “Ciri-ciri pria itu bagaimana, Ko?” Saya mencoba mengingat wajah pria itu. Setelah wajah dia berkelebat dalam bayangan, saya langsung membuka mata, menghadap Lisa yang tampak penasaran. “Wajah dia kayak turunan Arab, terus punya lesung pipi.” “Nggak salah lagi. Dia Pak Rizal, dosen muda paling tampan di kampus dulu, yang pernah melamar Adilah.” Saya menyesal mengetahui semua itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN