Waktu menyihir kebencian menjadi rindu yang perlahan menjelma jadi cinta.
—Elis Sri W
***
(Adilah)
“Kamu ada di sebelah mana, Lis?” Sambil menempelkan ponsel di telinga, aku berjalan menelusuri Telaga Traditional Resto, mencari keberadaan Lisa. Lisa mengajakku bertemu di tempat makan yang terletak di antara kawasan industri Karawang. Wajar masih asing, aku baru pertama berkunjung ke sini.
“Lurus aja ke saung yang sejajar sama kamu. Aku udah melihat kamu, kok, Dil.” Lisa berteriak, mengalahkan suara orang-orang bercengkerama yang cukup mengganggu pembicaraan kami.
Mataku mengarah ke saung yang berada di tepi danau, tidak jauh dari posisiku. Aku melewati jalan setapak di tengah hamparan rumput. Pohon-pohon berukuran sedang menjadikan suasana begitu asri. Semilir angin terasa sangat sejuk.
Aku mengurungkan niat menaiki saung saat menemukan sosok pria yang kepalanya tertutup topi sweater abu. Dia duduk menghadap danau. Area seberang danau merupakan perbukitan yang dipenuhi pepohonan. Aku mengedarkan pandangan mencari keberadaan Lisa tapi gagal menemukannya. “Pasti kamu salah kasih petunjuk deh, Lis. Coba lambaikan tangan biar aku gampang nyarinya.”
Lisa tertawa lepas, terkesan mempermainkanku.
“Eh, Lisa! Kamu di mana, sih?” tanyaku, geram. Aku sontak membuka bibir saat pria di saung itu berbalik menghadapku. Pupil mataku melebar, menangkap sosok yang tak pernah aku harapkan kehadirannya. “Aa Gabriel!”
“Nah, udah ketemu, kan, sama Koko Gabriel? Udah dulu, ya. Daaah ....”
“Kamu—“ Panggilan terputus. Lisa mengakhiri percakapan kami. Aku meremas ponsel seraya mendengkus. Dia menjebakku. Aku yakin, Lisa berada tidak jauh dari sini makanya lancar menunjukkan arah.
Aa Gabriel menghampiriku. Dia melepaskan topi sweater, lalu menyisir rambut yang agak berantakan, bikin aku bergidik geli. Huh, sok ganteng. “Saya sengaja minta bantuan Lisa untuk merancang pertemuan kita. Mari, kita lanjutkan pembicaraan tiga hari yang lalu.”
Aku berdecak sebal. Awas ya, Lisa!
“Ya udah, tinggal bicara doang.” Aku membuang muka tak acuh. Bibirku mengerucut, memasang wajah ketus sebagaimana sikap dia yang selalu membuatku naik pitam.
“Kita sambil makan aja biar enak. Kamu nggak keberatan, kan?” Dia tersenyum hangat. Coba sejak kemarin bersikap menyenangkan, murah senyum, aku bakal betah menjadi karyawan Kim Soo Hyun KW.
Aku mengangguk berat, menerima tawaran Aa Gabriel tanpa berpikir panjang. Mentang-mentang sudah masuk jam makan siang, perutku sulit berkompromi. Tidak baik kalau menahan lapar, kan?
Setelah aku dan Aa Gabriel menduduki saung. Tak lama, pelayan pria menghampiri, menunjukkan daftar menu. Aa Gabriel memesan gurame asam manis. Sementara aku, memesan gurame saus tiram. Pelayan itu pergi membawa catatan pesanan. Beberapa menit berlalu, dia menghidangkan pesanan kami.
“Luka tanganmu bagaimana, Adilah?” Aa Gabriel menatapku sekilas sambil memisahkan daging gurame dari tulang-tulang.
Aku mengernyitkan kening, heran, dia bertanya seperti itu. Sebelumnya mana pernah dia peduli terhadap karyawan. Dia justru menyiksaku selama seminggu menjalani training. Aku meneguk es teh. Dadaku mendadak sesak. “Alhamdulillah, mendingan. Kenapa memangnya?”
“Syukurlah. Saya mohon sama kamu, kembalilah menjadi karyawan Gabriel Agromart. Saya sungguh membutuhkan kamu, Adilah,” pinta dia dengan raut wajah penuh harap.
Sembari mengunyah daging gurame yang sangat empuk, aku memikirkan tawaran Aa Gabriel. Jika aku menerima tawaran Kim Soo Hyun KW, berarti menyerahkan diri ke kandang harimau lagi. Sudah tahu dia kejam, buat apa aku kembali?
“Saya menyadari selama ini, perlakuan saya memang menyengsarakan kamu. Tapi tolong maafkan saya, Adilah. Saya berjanji akan bersikap lebih baik kalau kamu mau memberi kesempatan.”
Sorotan mata dia menunjukkan keseriusan. Sepertinya dia berkata jujur. “Beri aku waktu buat berpikir.”
“Berapa lama?”
Aku menggeleng sembari menahan napas. Luka tanganku masih basah dan rasa nyeri tak kunjung sirna. Apalagi luka batinku, sulit disembuhkan. Entah, berapa lama bisa membaik?
Aa Gabriel menata duduknya. Dengan tegas dia berkata, “Saya siap menunggu.”
Aku mendongakkan wajah, terkejut. “Di luar sana banyak orang yang mau menjadi karyawan Gabriel Agromart. Kenapa harus menunggu aku?”
“Karena saya cuma mau kamu, Adilah!”
***
Setelah tiba di rumah, aku menyisir ruangan demi ruangan, mencari keberadaan Ummi. Rupanya Ummi menggelar karpet di ruangan tengah, sedang melipat pakaian kering di sana. Aku mengucapkan salam, mencium tangan Ummi, lalu mencium pipinya lebih lama sembari menikmati aroma bedak bayi. Aroma yang selalu aku rindukan setiap waktu.
Aku meletakkan tas selempang. Lantas, aku meraih salah satu pakaian dan melipatnya serapi mungkin. Aku meluapkan persoalan yang mengganjal dalam d**a tanpa basa-basi. “Kalau kita kesal sama seseorang, wajar nggak sih, Mi?”
Ummi melirikku seraya tersenyum seolah memahami alur pembicaraanku. Aku sudah menceritakan, awal pertama kerja di Gabriel Agromart lalu diberhentikan secara tidak terhormat oleh pemiliknya yang kejam. Ummi bilang, mungkin belum rezeki. Kalimat sederhana Ummi mampu menguatkanku. “Ya, wajar aja, Neng. Namanya juga manusia. Asal jangan berlebihan, apa lagi sampai menyimpan dendam. Neng masih kesal ya, sama bos Gabriel Agromart?”
Aku meremas-remas pakaian. Gemas saja jika membahas Aa Gabriel, tapi aku memerlukan pendapat Ummi. Mungkin Ummi bisa memecahkan kegundahan hatiku. “Iya, Mi. Siapa lagi?” Kuhirup napas dalam-dalam sebelum lanjut berbicara, “Dia udah minta maaf dua kali dan menyesali perbuatannya. Dia meminta aku menjadi karyawannya lagi. Aku harus bagaimana, Mi?”
Ummi merebut pakaian dari tanganku. “Kesal boleh Neng, gamis Ummi jangan dibikin kusut juga.”
Aku terkekeh saat mata Ummi melebar penuh ancaman. Bagiku sangat lucu.
“Menurut Ummi, Neng harus memaafkan dia dan terima aja tawarannya. Jangan sia-siakan pintu rezeki yang Allah buka untukmu. Bisa aja ini cara Allah memberi Neng kesibukan supaya bisa melupakan Nak Rizal,” ucap Ummi, kali ini serius.
Mataku berkaca-kaca mendengar nama Pak Rizal. Hatiku ngilu, ngilu sekali. Hingga saat ini aku belum bisa melupakan dia. Aku segera menyeka sudut mata sebelum Ummi menyadari. “Aku nurut aja sama Ummi. Insyaallah, aku ikhlas memaafkan dia. Aku akan menghubungi Lisa, setelah luka di tanganku sembuh, Mi.”
Ummi meletakkan lipatan terakhir ke dalam keranjang. Kemudian Ummi mengelus pipiku. “Jujur, Ummi lebih senang melihat kamu cemberut gara-gara bos Agromart, daripada menangis karena Nak Rizal. Siapa tahu, bos Agromart akan mempercepat proses move on kamu, Neng. Apalagi, Neng bilang, dia mirip—”
Aku spontan meletakkan telunjuk di bibir Ummi. Tidak mau kalimat itu terucap sempurna. Ummi masih ingat saja, aku pernah bilang bos kios langgananku mirip Oppa Kim Soo Hyun. “Stop, Mi! Bos Agromart juga bikin aku nangis, kok, kemarin.”
Ummi tertawa kecil. “Nangis karena jengkel nggak masalah, Neng, asalkan jangan karena patah hati.”
“Tahu ah, Ummi nyebelin!”