Ingatlah, Allah selalu memberikan kelebihan di balik kekurangan. Allah selalu memberikan kekuatan di balik kelemahan.
@tausiyahcinta_
***
(Gabriel)
“Besok annniversary Gabriel Agromart yang ketiga tahun. Saya mau mengundang anak-anak panti asuhan Cinta Kasih Allah. Adakah yang punya usul, kira-kira hiburan apa yang cocok untuk anak-anak?” Saya melirik empat peserta rapat, Adilah salah satunya. Adilah menerima tawaran saya setelah seminggu kemudian. Dia sudah menandatangani perjanjian kontrak tadi pagi diantar oleh Lisa.
Kang Wawan mengangkat sebelah tangan. “Menguji kemampuan mereka aja, Ko. Misalnya, membaca hafalan Al-Qur’an. Siapa yang berani tampil akan mendapatkan hadiah berupa perlengkapan sekolah.”
Saya mengangguk, menyetujui ide cemerlang Kang Wawan. Kemudian saya memandang ke arah karyawan lain. “Bagaimana, semua setuju? Atau mungkin punya ide lebih bagus, silakan utarakan.”
"Setuju," seru mereka, kompak.
“Bagus, berhubung semua setuju. Saya tugaskan kamu membaca kitab umat Muslim untuk penutupan acara.” Saya menunjuk Adilah yang duduk di sebelah Kang Wawan. Memanfaatkan peluang emas ini agar bisa menikmati suara merdu Adilah. Saking kagumnya terhadap lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menenangkan, saya sering mendengarkan rekaman suara Adilah.
Adilah menengok kanan kiri, memasang wajah bingung. “Aku, maksud Aa?”
“Iya, kamu. Lihat, telunjuk saya mengarah ke kamu.”
Adilah mengerutkan kening, tampak keberatan menuruti permintaan saya. “Kenapa harus aku?”
Saya menelan ludah sambil mencari alasan. Tidak mungkin mengatakan, pernah mendengar Adilah membaca Al-Qur’an dan saya menyukai suara sekaligus ayat Tuhannya. Bisa-bisa dia besar kepala. “Di sini hanya kamu karyawan wanita dan yang paling muda. Saya rasa anak-anak akan menyukai suara kamu.”
“Saya setuju,” sahut Kang Wawan, disusul karyawan lain yang ikut mendukung.
“Bacaan Al-Qur’an-ku masih jelek, aku malu. Cari orang lain aja, A.” Adilah menghela napas seraya menggeleng tegas. Saya tidak percaya dengan pengakuan Adilah, jelas-jelas dia pandai membaca Al-Qur’an. Jangan harap bisa membohongi saya.
“Rapat ditutup. Nggak ada yang boleh membantah keputusan saya! Sekarang silakan bubar,” tegas saya. Satu per satu peserta rapat meninggalkan pendopo, kecuali Adilah yang masih mematung di tempat.
Saya melangkah, meninggalkan Adilah.
“Aa jangan mengambil keputusan sepihak kayak begitu dong,” protes Adilah, dia membuntuti saya.
Saya menghentikan langkah, berbalik menatap dia dengan tajam. “Saya menyuruh kamu membaca kitab suci, bukan berbuat kriminal!”
“Aa udah janji bakal bersikap lebih baik. Kenapa masih suka memaksa?”
“Bukan berarti kamu bisa seenaknya. Saya bos, berhak mengatur semuanya!”
Adilah berdecak. “Tapi aku juga berhak menolak.”
Saya memastikan semua karyawan telah menjauh. Aman, tinggal kami berdua yang ada di belakang kios dekat pendopo. Saya mendekati Adilah, menganggap dia sebagai objek makanan menarik bagi hewan buas yang kelaparan. Mata saya menembus pandangan dia, tajam, menusuk.
Adilah meremas kain jilbab. Dia mundur tiga langkah menjauhi saya hingga tubuhnya terbentur tembok kios. Semburat kemerahan terlukis di pipi Adilah. Embusan napas dia terdengar tak beraturan. “Aku nggak segan-segan berteriak, satu langkah aja Aa menyentuhku!”
Saya tersenyum miring, dia pikir saya mau melecehkannya apa? Lucu juga jika benar dia berpikiran demikian, sesekali mengerjai karyawan pembantah ini. Lantas, saya memajukan wajah, membisikkan sesuatu di telinganya, “Jika kamu keberatan mengikuti aturan saya. Silakan, resign. Kamu udah paham dengan perjanjian kontrak kita, kan? Setiap karyawan yang resign sebelum masa kontrak berakhir dikenakan denda satu juta dikalikan sisa kontrak. Tinggal kalkulasikan sendiri, nominal denda yang wajib kamu bayar.”
Adilah mengepalkan tangan seraya menggeram. “Aku menyesal menandatangani perjanjian kontrak itu. Ternyata sikap Aa sama sekali nggak berubah.”
“Mending terperangkap dalam aturan saya, bukan? Daripada terperangkap kasus hukum karena nggak mampu membayar denda.” Saya tertawa licik, merasa puas Adilah masuk perangkap perjanjian kontrak yang saya khususkan untuk dia. Adilah tidak mungkin berkutik. Karyawan lain tidak ada yang terikat kontrak, saya tidak mau Adilah keluar dari Gabriel Agromart seperti beberapa karyawan wanita sebelumnya. Jadi saya bertindak lebih tegas.
***
Tepuk tangan meriah menggema, selesai Adilah melantunkan ayat suci Al-Qur’an sebagai persembahan penutup. Walau bukan surah yang pernah dia lantunkan di Masjid Agung, tetap saja membuat d**a saya berdebar. Saya mendengar anak-anak panti memuji Adilah. Mereka bilang, sudah cantik, pintar mengaji pula. Memang benar, saya menyahut dalam hati.
Adilah tampil berbeda. Riasan make up natural menambah aura kecantikannya. Saya baru pertama kali melihat dia merias wajah. Balutan busana yang sempurna menutupi tubuh, menjadikannya semakin anggun. Dia mulai menuruni anak tangga sambil mengangkat erok setinggi mata kaki. Ya, Tuhan. Apa yang saya pikirkan tentang dia?
Saya mengalihkan fokus kepada para tamu, mempersilakan pengurus panti asuhan dan para anak menikmati hidangan. Lalu, saya menemani beberapa anak yang sedang makan. Kebetulan ada anak laki-laki tunanetra yang harus saya suapi. Di sela-sela makan, mereka menceritakan rasa bahagia mendapatkan hadiah karena berani membacakan hafalan Al-Qur’an. Hati saya menghangat, menyaksikan kebahagiaan mereka.
“Teh Adilah sini dong, makan bareng aku.” Salah satu anak perempuan yang kurang lebih berusia delapan tahun menghentikan langkah Adilah. Saat melintasi jajaran kursi terdepan, dia membawa sepiring makanan dan segelas minuman.
“Yah, Maaf. Teteh udah pilih tempat duduk di sebelah sana.” Adilah tersenyum seraya melirik pertengahan jajaran kursi. Ada Mama, Papa, dan Lisa.
“Ayolah, Teteh duduk di sini aja.” Anak perempuan itu merengek. Dia langsung menarik Adilah agar menduduki kursi kosong sebelahnya. Adilah pun pasrah.
Anak-anak lain bersorak, menggerakkan tangan, girang. Reaksi mereka bagaikan menyambut seorang ratu. Sungguh berlebihan. Saya menyunggingkan senyum kecut, terpaksa membiarkan Adilah duduk di sini demi kebahagiaan anak-anak.
Saat saya menyodorkan sendok ke mulut anak laki-laki tunanetra. Dia malah mendorong sendoknya. “Benarkah itu Teh Adilah?”
Anak-anak lain menyahut kompak, membenarkan kehadiran Adilah.
Dia mengulas senyum semringah. “Aku suka suara Teteh, ingin sekali tilawah semerdu Teteh.”
Adilah mendekati anak laki-laki yang duduk di dekat saya. Adilah mengelus pipi dia begitu lembut. “Tadi Teteh menyaksikan penampilan kamu, loh. Penampilan kamu luar biasa. Kata MC, kamu hafal 4 juz Al-Qur’an, ya? Teteh sangat kagum.”
Secercah cahaya menyinari wajah dia. Dia menggerak-gerakkan tangan ke atas penuh kegembiraan mendapat pujian dari Adilah. “Alhamdulillah, aku senang sekali Teteh kagum sama aku.”
“Tetap semangat menghafal ya, Dek? Kamu anak yang hebat,” kata Adilah, lirih.
Anak itu mengangguk polos.
Mata Adilah mulai berkaca-kaca memandangi anak laki-laki itu. Jangan sampai dia menangis, tidak akan saya biarkan Adilah menangis di depan anak-anak.
Saya menarik sehelai tisu, menyodorkan ke Adilah sebelum air matanya terjatuh. “Jangan cengeng di depan mereka!”
Setelah mengambil tisu, Adilah mencebik. “Wajar cengeng juga, aku manusia yang punya hati. Memangnya Aa, nggak punya hati.”
“Mana mungkin saya nggak punya hati bisa tertarik sama ... seseorang.“
***
Saya sulit terlelap, berkali-kali mengubah posisi tidur tak kunjung menemukan kenyamanan. Aneh, saya tidak mengerti makna ayat yang pernah Adilah lantunkan di Masjid Agung, namun selalu terngiang akibat sering mendengarkan rekaman Adilah. Saya duduk seketika, meraih ponsel di atas nakas lalu membuka Google pencarian. Saya menuliskan kata kunci sesuai potongan ayat yang masih terngiang. Hasil bermunculan.
Surah Al-Kahf, berarti gua.
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok.Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.
Hati saya tertohok bagaikan dilempari kerikil tajam, menusuk dasar perasaan. Arti ayat pertama sampai ketiga dari surah Al-Kahf menjadi bukti bahwa Tuhan yang diyakini umat Islam menurunkan Al-Qur’an dengan kebenaran, sebagai peringatan bagi manusia tentang siksaan pedih dan balasan baik bagi mukmin yang mengerjakan kebajikan, sedangkan saya bukanlah seorang mukmin. Apa Tuhan sengaja menunjukkan surah ini melalui Adilah untuk menegur saya?
Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak.” Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka. Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).
Ayat keempat sampai keenam menampar hati saya hingga merintih, merasakan penyesalan teramat dalam. Kalimat tersebut mengoyak batin saya, selama puluhan tahun tidak melihat bukti nyata yang tertulis jelas di dalam Al-Qur’an. Mengapa saya baru menyadarinya sekarang?
Surah Al-Kahf menumbuhkan kepercayaan saya terhadap Islam. Allah membuka hati saya melalui ayat-ayat indah-Nya yang menyampaikan kebenaran. Saya akan mengutarakan gejolak hati ini kepada Papa, semoga Papa mengerti.