Rosa Santana

1775 Kata
Jangan membuat keputusan ketika kamu sedang marah. Jangan membuat janji ketika kamu sedang senang. —Ali bin Abi Thalib ***  (Adilah) Sambil berjalan, Rizka memandangi koleksi bunga berwarna-warni yang menghiasi taman kecil di halaman rumahku. Sudah sejak lama dia berniat main ke rumahku, namun baru terlaksana hari ini—saat aku libur kerja. “Udah kayak kebun bunga aja, Dil. Nggak jauh beda sama rumahku. Kamu tahu, Aa Rizal juga rajin mengurus tanaman tuh di rumah.” Aku tersenyum kecut. Teringat mawar merah pemberian Pak Rizal yang masih kusimpan dalam kamar. Daun-daunnya mengering, bahkan berguguran dan hampir lenyap. Detik-detik di ambang kematian. Begitu juga harapanku terhadapnya yang mati ditelan takdir. Sesampainya di teras, Rizka melihat ke arah pintu yang terbuka lebar. “Keluarga kamu lagi pada ke mana, Dil? Kayaknya sepi banget.” “Mereka pergi ke acara walimah urusy anak temannya Ummi, Riz. Yuk, masuk aja!” Rizka menahanku yang hendak menuntunnya masuk. “Nggak usah, Dil. Di luar aja, lebih adem.” Aku tidak memaksa dan mempersilakan Rizka duduk di kursi teras. Kemudian aku masuk ke dalam untuk mengambil minum serta camilan. Rizka mulai bercerita usai menyesap minuman yang aku sajikan. “Aku berhenti jadi perawat di kampus, Dil. Aku memutuskan untuk kuliah lagi di Jakarta.” “Barakallah, Riz, semoga Allah mempermudah jalan kamu.” Selepas mengamini, kami tersenyum semringah. Pembicaraan kami terus berlanjut. Aku menceritakan pengalaman kerja pertama di Gabriel Agromart, curhat tentang Aa Gabriel yang jutek dan suka menyiksa karyawan baru. Aku bergidik, saat Rizka berkata bahwa Aa Gabriel lucu lalu dia tertawa. Lucu apanya? Bikin darah tinggi, iya. Setelah beberapa saat tertawa, Rizka mulai memasang wajah serius. “Oh, iya. Denger-denger, katanya kamu nolak lamaran Aa Rizal. Kenapa?” Aku tertegun. Rupanya untuk jawaban pertanyaan itulah Rizka datang ke rumah. Aku menghela napas berat, terpaksa membuka suara. “Iya, insyaallah ini udah jadi keputusanku, Riz.” “Karena Bu Aliyah, ya?” Aku agak terkejut mendengar pertanyaan Rizka. Sebisa mungkin aku berusaha tenang agar Rizka tidak semakin curiga. “Ini murni keputusanku, Riz. Kamu juga harus tahu, bukan karena Teh Aliyah, aku menolak Pak Rizal.” Rizka menggeleng seakan menyangkal jawabanku. “Aku nggak sengaja mendengar percakapan mereka di kampus. Dari awal aku menduga, kalau Bu Aliyah itu menyukai Aa Rizal, dan kamu pasti terpaksa menolak Aa Rizal demi dia. Iya, kan?!” Aku mematung. Rizka telanjur tahu masalah yang menimpa aku, Pak Rizal, dan Teh Aliyah. Sulit menyangkalnya. Rizka menggenggam erat tanganku seraya memohon dengan wajah penuh harap, pemandangan yang tidak pernah aku harapkan. Sungguh memberatkanku. “Aku tahu kalian saling menyimpan rasa. Kalian berhak bersatu!” “Kamu ngomong apa, sih? Udahlah, jangan bahas itu lagi.” Aku menepis tangan Rizka dan memalingkan wajah ke arah taman. “Aku yakin, sebenarnya kamu mengharapkan Aa Rizal. Iya, kan? Jawab jujur, Adilah.” Iya, aku sangat mengharapkan Pak Rizal dan mencintainya diam-diam. Tapi takdir yang menolak aku dan kakakmu bersatu. Aku hanya berani mengatakan itu dalam hati. “Kamu salah—“ Bunyi klakson mobil menyela kalimatku. Mataku terbuka lebar melihat mobil silver yang terparkir di depan gerbang. Kulihat seorang pria keluar dari mobil itu. Dia berjalan cepat menuju teras rumahku. Lantas, dia berhenti tepat tiga langkah di depanku. Jakunnya turun naik saat dia menelan ludah dan melirikku tak acuh. Setelah mengenalinya dari ujung kepala sampai kaki, aku berpaling. Dadaku sesak. Batinku meronta menahan sakit. Pikiranku kalut. Semakin sering bertemu, semakin sulit aku melupakannya. “Aa kok, udah datang ke sini, sih? Padahal urusan aku belum selesai, A.” Rizka tampak terganggu dengan kehadiran sang kakak. Aku mensyukuri situasi ini karena terbebas dari desakan Rizka. Walau sebenarnya aku menyesali pertemuan kami. Bisakah aku lari menghindari Pak Rizal? “Kita pergi ke rumah Bibi lebih awal, tapi sebelum pergi, Aa mau bicara dulu sama Adilah sebentar. Kamu tunggu di mobil.” Kenapa pula Pak Rizal ingin berbicara denganku? Pasti mau membahas masalah lamaran yang sudah kutolak. Aku tidak sanggup, Ya Allah. Aku mengerang saat Rizka menyentuh tanganku dan pamit. Kemudian dia pun menjauh sambil memberi isyarat penyemangat. Entah siapa yang sebetulnya dia semangati, kakaknya atau aku? “Adilah,” panggil Pak Rizal, lirih. Lantas, tanpa dipersilakan, dia duduk di kursi tempat Rizka tadi duduk. Aku memalingkan pandangan, lalu melipat tangan di atas pangkuanku. “Ada apa lagi, Pak? Kalau mau membicarakan masalah lamaran, keputusan aku udah final. Aku udah bilang, nggak mau bahas itu lagi. Masih ingat, kan, waktu kita ketemu di Masjid Agung?” Sekilas terlihat dalam pandanganku, Pak Rizal menatap aku dari samping. “Lantas, saya harus bagaimana? Kamu menolak lamaran saya tanpa alasan yang jelas, Adilah.” “Sudahlah, Pak! Bapak nggak perlu mempermasalahkan hal itu, yang jelas, aku mau Pak Rizal menjauhiku. Kita nggak mungkin bisa bersatu.” Aku menunduk. Tanpa sadar, aku menjawab dengan nada tinggi. Sepertinya Pak Rizal kaget, pertama kalinya aku berkata kasar. Mungkin lebih baik begitu. Pak Rizal mengembuskan napas panjang, mengiringi bahu yang menurun. “Semua bisa jadi mungkin, kalau kamu tidak mempersulitnya, Adilah.” Aku tersenyum getir di balik perasaan sakit dan terpaksa yang berkecamuk dalam d**a. Keadaan yang mengharuskanku bertindak di luar kata hati. “Aku nggak pernah mempersulit. Kalau aku menginginkan Pak Rizal, pasti menerima lamaran itu.” Perlahan aku berdiri, hendak berpaling masuk. “Aku harap, Pak Rizal tidak membahas ini lagi!” *** Hiruk pikuk percakapan orang-orang di ruang tamu menghentikan langkahku. Karena penasaran, aku mengintip dari celah gorden yang sedikit terbuka. Abi, Ummi, dan Teh Aliyah tengah mengobrol bersama pria dan wanita paruh baya yang duduk di samping seorang pemuda. Wajah pemuda itu begitu familier. Tidak salah lagi ... Pak Rizal. Ngapain lagi dia ke sini? “Saya sebagai orang tua, mewakili putra kami untuk mengkhitbah putri Bapak dan Ibu yang bernama, Neng Aliyah,” ucap pria paruh baya yang duduk di sebelah Pak Rizal. Dia menatap Abi dan Ummi, tegas. Hatiku berdenyut nyeri, mendengar ungkapan pria paruh baya yang mengaku sebagai orang tua Pak Rizal. Aku menunduk, menggigit bibir bawah sambil meremas kain gorden, tak terasa air mata pun menetes. Berat menerima kenyataan ini, Ya Allah. Secepat itukah Pak Rizal mengambil keputusan? Setelah tadi siang aku memberi ketegasan padanya, dan ... malam ini dia membawa orang tuanya untuk melamar Teh Aliyah. Begitu mengejutkannya hal itu sehingga sangat mengiris batinku. “Saya mengenal Neng Aliyah sejak dulu, dia pernah main ke rumah bersama teman kuliah Rizal yang lainnya. Saya yakin, Neng Aliyah wanita yang pantas mendampingi putra kami. Dia gadis yang baik, cantik, dan cerdas,” sambung wanita yang kuyakini sebagai ibu Pak Rizal. Aku menghela napas sebanyak mungkin untuk mengobati sesak yang luar biasa. Sepertinya, Teh Aliyah sangat istimewa di mata orang tua Pak Rizal. Sementara aku, tidak pernah bertatap muka dengan mereka. Teh Aliyah tersenyum lebar, seketika pipinya merah merona. Pasti dia sangat bahagia, dilamar pria pujaan hatinya, sedangkan Pak Rizal menyunggingkan senyum simpul, tak bisa k****a maknanya. “Saya sangat berharap, putra putri kami bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Jadi bagaimana, Pak?” tanya Ayah Pak Rizal pada Abi yang masih terdiam. Aku terisak pilu sembari membekap bibir, menyembunyikan isak tangis yang kian mengeras. Andai waktu bisa diulang, aku tidak mau jatuh cinta kepadanya. Apalah daya, cinta ini tumbuh dengan sendirinya. Sesakit inikah cinta? Aku tersentak saat semua mata tertuju ke arahku yang tengah berdiri di sudut pintu. Sepertinya mereka mendengar tangisanku. Abi seketika memanggilku. Sesegera aku menyeka air mata, kemudian bergegas menghampiri mereka dengan langkah lunglai. “Ini Adilah, putri bungsu kami, Pak, Bu.” Abi memperkenalkanku pada kedua orang tua Pak Rizal. Orang tua Pak Rizal mengulas senyum ramah. Kuulurkan tangan untuk menyalami mereka tanpa memedulikan kehadiran Pak Rizal. Setelah itu aku langsung duduk di dekat Ummi. Abi menatap ketiga tamu bergantian, pasti ingin melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda. “Mohon maaf, beberapa bulan yang lalu, Nak Rizal pernah melamar Adilah diam-diam, namun Adilah menolak. Jujur saya terkejut, kenapa sekarang Nak Rizal tiba-tiba melamar kakaknya?” Mereka saling beradu pandangan seakan meminta penjelasan pada sang putra. Satu kedipan mata menjadi jawaban, Pak Rizal tidak menyangkal pernyataan Abi. Jika boleh menawar, aku tidak mau orang tua Pak Rizal tahu tentang lamaran yang sudah berlalu. “Saya akui, dulu melamar Adilah atas dorongan hati. Tapi jika Allah enggan menyatukan kami, saya nggak bisa memaksakan kehendak sekali pun menaruh harapan besar terhadapnya.” Pak Rizal melirikku diiringi embusan napas yang justru menusuk hatiku semakin dalam. Lantas, Pak Rizal menatap Abi dan Ummi. Sorotan matanya menunjukkan keyakinan. “Sekarang saya melamar Aliyah atas keinginan Ayah dan Bunda, tapi bukan berarti Aliyah menjadi pelarian. Semoga Bapak dan Ibu percaya karena saya menikah untuk ibadah.” Aku mendesah, merasakan sakit yang perlahan menggerogoti relung hati. Ingin kututup telinga agar terhindar dari segala kalimat yang mengusik perasaan. “Saya percaya sama Nak Rizal. Akan tetapi, saya serahkan keputusan itu pada Teh Aliyah.” Abi menghela napas lalu melirik Teh Aliyah. Ummi mengedipkan mata lemah ke arah Abi. Aku tahu mereka merasa iba, sebab mengetahui perasaanku terhadap Pak Rizal. Mau bagaimana lagi, peristiwa malam ini sudah menjadi ketetapan Allah, yang bisa kulakukan hanya belajar mengikhlaskan. Bukankah ini yang aku inginkan? Teh Aliyah mengucap basmallah seraya menghadapkan wajah ke arah Pak Rizal. “Insyaallah, aku bersedia menerima lamaran Pak—maksudku Rizal.” Dia terdengar canggung memanggil Pak Rizal tidak seformal di kampus. Ucapan syukur menggema. Semua orang tersenyum lebar penuh kebahagiaan, kecuali aku yang terpuruk dalam diam. Sungguh, jawaban Teh Aliyah sangat menghancurkan hatiku hingga berkeping-keping. Dadaku sesak menyaksikan kenyataan yang begitu menyakitkan. Aku tidak sanggup lagi berada di sini. “Nah, kedua belah pihak udah setuju. Saya ingin acara pernikahan anak kami dilangsungkan tiga bulan dari sekarang aja. Lebih cepat lebih baik, bukan?” kata Ibu Pak Rizal, antusias. “Maaf, aku permisi ke belakang,” pamitku. Tanpa menunggu persetujuan, aku berpaling ke dapur, lalu mengambil segelas air dan segera meneguknya. Tubuhku yang lemas mulai turun, duduk memeluk lutut sambil menangis tersedu-sedu—menumpahkan seluruh kesedihan, berlangsung lama. Aku terkejut tiba-tiba Teh Aliyah memasuki dapur, segera kuhapus air mata. Setelah dia menyimpan gelas kotor di wastafel. Teh Aliyah mendekatiku. Dia melotot seraya berkacak pinggang. “Kenapa kamu nggak kembali lagi ke ruang tamu? Malah menangis di sini.” Lantas, dia mengangguk sambil tertawa jahat. “Oh, Teteh tahu, kamu menangis karena Pak Rizal melamar Teteh, kan? Kamu nggak sanggup menahan sakit melihat lamaran tadi.” Aku bangkit dari duduk. Tubuhku bergetar dan mata masih berkaca-kaca. “Kalau iya, memang kenapa? Teteh puas, kan, melihatku menangis?!” Teh Aliyah tersenyum sinis. “Tuh, kamu tahu.” Aku meninggalkan Teh Aliyah, sungkan memperpanjang pembicaraan yang semakin menyakitiku. Aku butuh waktu sendiri untuk menata hati. Entah sampai kapan? Tak yakin hati ini bisa utuh, seperti semula.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN