Keputusan Pahit

2109 Kata
Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling sakit ialah berharap kepada manusia. —Ali bin Abi Thalib ***  (Adilah) Aku mencengkeram sisi meja, menatap miris baskom berisi bibit anggrek yang sudah tercampur serpihan botol. “Apa sih mau Aa? Kenapa botol kulturnya malah dihancurkan?!” Aa Gabriel mengibaskan telapak tangan dengan santai lalu meniupnya bergantian. Seulas senyum tanpa dosa terlukis di bibirnya. “Seharusnya kamu berterima kasih, saya udah mengajarkan cara praktis, mengeluarkan bibit anggrek tanpa menggunakan pinset.” “Justru cara Aa sangat memakan waktu.” Mataku menajam penuh penekanan. Setelah menghela napas berat, aku kembali bersuara. “Asal Aa tahu, aku perlu memisahkan bibit anggrek dari pecahan botol sebelum mencucinya. Apa itu yang disebut praktis?” Dia menggeleng seraya tertawa sinis. “Sarjana bermodalkan ijazah doang, ya, begitu. Minim skill. Hal sepele aja dipermasalahkan.” Aku mengernyitkan kening, tidak terima. Rasanya ingin menyumpal mulut dia dengan serpihan botol, agar perkataan dia tidak terus-menerus menyakiti hati orang lain. “Nggak terbalik?” Aku tersenyum miring. “Aa yang lebih pantas mendapat julukan itu. Masa, lulusan pertanian mengabaikan prosedur aklimatisasi —memecahkan botol kultur sesuka hati.” Dia menggeram. Otot-otot leher Aa Gabriel tampak mengeras. Lantas, dia menunjuk wajahku sambil menggertakkan gigi. “Tutup mulutmu! Jangan asal bicara. Saya lulusan S2 Agroteknologi , jadi lebih tahu daripada kamu yang hanya bergelar sarjana yunior.” Aku mengelus d**a sembari menghela napas panjang. Dalam hati berkata, sabar, sabar, tidak ada faedahnya meladeni dia. Dia menurunkan pandangan ke arah hamparan bibit anggrek yang mengapung di atas permukaan air. Sesekali menyentuh bibit anggrek, kemudian mengepalnya tidak terlalu kuat. Dia mengulangi perlakuan yang sama sebanyak empat kali di bagian berbeda. “Semua bibit anggrek mengambang. Saya pastikan, semua serpihan botol tenggelam. Jadi, kamu nggak perlu susah payah memisahkannya. Gampang, kan?” Aku meringis ngeri, membayangkan serpihan benda tajam itu menyelip di antara hamparan bibit anggrek. Percobaan yang dia lakukan tidak bisa menenangkan hatiku. Aku telanjur trauma terhadap pecahan benda tajam. Akhirnya aku mendorong baskom, menabrakkannya pada tangan dia yang menelungkup di atas meja. “Ya udah. Kalau gampang, Aa aja atuh yang ngerjain.” Dia menunjuk dirinya sendiri sambil mengangkat d**a, menantang. “Saya ini bos kamu. Berani sekali, kamu memerintah saya! Padahal saya udah berbaik hati, menyentuh bibit anggrek sebelum kamu.” Aku mencebik. “Bagi aku tetap berbahaya. Kalau tangan aku terluka lagi kayak dulu, memang aku boleh resign dari Gabriel Agromart tanpa membayar denda?” “Ngaco!” Dia tersenyum miring. “Oh, iya. Masih ingat, kan, isi perjanjian kontrak kita?” Nada bicaranya meninggi. Kedua mata sipitnya melebar. “Pasal dua ayat tiga, tentang tugas dan kewajiban. Pihak kedua harus mematuhi dan menjalankan tugas-tugas dari pihak pertama yang mencangkup semua pekerjaan. Apabila pihak kedua melanggar, sebagai hukumannya, wajib bekerja selama lima bulan tanpa menerima gaji. Jadi kamu harus mengerjakan semua itu, kalau melanggar, risikonya tanggung sendiri.” Aku menyentakkan kaki. Tanganku mengepal melihat dia tersenyum puas. Kenapa harus ada perjanjian kontrak macam itu? Bodohnya aku malah menandatanganinya tanpa pertimbangan. Kali ini aku mengalah. Kuulurkan tangan ke arah baskom. Aku menyentuh bibit anggrek sangat hati-hati, memisahkan bibit dari agar-agar yang masih melekat untuk menghindari tumbuhnya jamur. “Kerjamu sangat lambat!” Suara gebrakkan meja membuatku melonjak. Dia melirik pot, mos putih, dan arang secara bergantian. “Mending kamu siapkan media tanam. Biar saya yang handle bibit anggreknya.” Aku berdecak. Mau dia apa coba? Semua yang aku kerjakan selalu salah di mata dia. Aku segera mengambil benda-benda yang dia maksud. Lantas, aku membawa benda-benda itu ke bale —berjarak tiga langkah dari meja ini, tepat di sudut kiri gubuk yang hanya berukuran setengah kamar. “Menambah kerjaan aja. Kantor pusat di Purwakarta, biasanya mengirim tanaman siap jual. Kenapa sekarang mengirim bibit anggrek bulan segala?” Aku menggerutu sembari duduk di bale, menuangkan mos putih ke beberapa pot yang berjajar rapi. Mos putih, semacam lumut yang sudah dikeringkan. Menurutku, bentuknya hampir menyerupai serutan kayu, begitu pun warnanya—kecokelatan. “Sengaja. Saya ingin menguji kemampuan kamu.” Aku melirik sengit Aa Gabriel yang masih memunggungiku. Dia terus menciduk bibit anggrek lalu memindahkan ke cairan fungisida di sebelah baskom. “Apa Aa belum puas menguji aku selama training?!” pekikku, geram. Dia membalikkan tubuh menghadapku, memasang wajah datar. “Kemarin ujian training, sekarang ujian karyawan.” “Nggak sekalian aja ujian hidup!” Aku berdiri, kemudian mengangkat tangan setinggi bahu—meremas mos putih erat-erat hingga menimbulkan riuh suara menyerupai kerupuk yang dihancurkan. Aa Gabriel mendekatiku lalu menahan pergelangan tanganku seraya menatap tajam. “Sekali lagi kamu meremas mos putih, saya nggak segan-segan memotong gaji kamu!” Otot-ototku melemah. Sentuhan dia menghantarkan aliran listrik di sekujur tubuhku. Mos putih lolos dari genggamanku, berhamburan bagaikan butiran salju tertiup angin yang masuk melalui celah gubuk berdinding setengah bilik bambu ini. Jantungku berirama tak menentu, mengikuti irama napas Aa Gabriel yang terdengar jelas, naik, turun, selama kami berpandangan. Setelah sekian detik. Aku tersadar, segera menepis tangan dia. Aku beralih memasukkan arang ke pot yang sudah diisi mos putih. Tanganku bergetar hingga bergerak tidak seimbang. Arang-arang berjatuhan di bale, ada juga yang menggelinding sampai ke bawah. Aku menyipitkan mata waspada. Semoga dia tidak menyadari tingkah anehku. Aa Gabriel mengambil alih plastik arang dari tanganku. Tiba-tiba dia melemparkan sebiji arang, hampir mengenai wajahku. Aku mendengkus, menatap dia dengan rahang terkatup. “Bisa nggak sih jangan asal melempar sembarangan? Untung nggak kena mukaku.” Tanpa terduga dia mencolek pipi, hidung, lalu daguku. Wajah kakunya memudar. Dia tertawa terpingkal-pingkal, kondisi wajahku mungkin saja sangat kacau. “Muka kamu cemong kayak badut. Sumpah, lucu banget.” “Nyebelin banget, sih.” Aku mendengkus, refleks memukul perut dia hingga mengaduh. Lantas, aku langsung menunduk sembari memilin ujung jilbab. Pipiku memanas, menahan gugup sekaligus geram yang sulit terlampiaskan. Sungguh, tidak ikhlas dia menyentuh pipiku. Sudah cukup dia menyentuh tanganku, sangat tidak sopan! Setelah merogoh saku, Aa Gabriel menyapukan sehelai tisu basah ke wajahku, menetralkan rasa panas yang menyerang pipiku. Kini aku mematung tak berkedip, memandangi wajah Kim Soo Hyun KW dalam jarak lumayan dekat. Menikmati senyum manisnya yang mampu menghipnotisku. Otakku berniat menghentikan aksi dia tapi tubuhku tidak merespons. Ya, Allah. Aku kenapa coba? Dia melemparkan bekas tisu pada tempat sampah yang ada di bawah bale. Senyum dia masih mengembang. Sungguh aneh, durasi senyum Aa Gabriel mengalami peningkatan. “Impas, ya? Saya nggak punya dosa lagi sama kamu.” Aku menunduk. Tidak tahu menanggapinya bagaimana? “Neng Adilah, ini ada yang ingin bertemu.” Seorang karyawan menghampiriku bersama seorang pria. Aku mengerjap lemah. Suasana hatiku kembali memburuk. Rasa sesak menerpaku di tengah hati yang masih dalam fase pemulihan. Kenapa dia menemuiku lagi? “Bisa minta waktunya sebentar? Saya mau membicarakan hal penting sama kamu, Adilah.” Pak Rizal berterus terang. Sorot matanya menunjukkan keseriusan. Aku menahan napas. Terpaksa mengangguk. “Besok-besok, tolong, jangan membawa urusan pribadi dalam lingkungan pekerjaan!“ Aa Gabriel melirikku ketus. Tidak kugubris. Kemudian pandangan dia beralih ke arah karyawan yang berdiri di hadapannya. “Kang, tolong lanjutkan proses aklimatisasinya, ada pekerjaan lain yang harus saya selesaikan.” Sang karyawan mengangguk. Dia bergegas melaksanakan perintah Aa Gabriel. Pak Rizal dan Aa Gabriel beradu tatapan, sengit. Mimik wajah mereka tampak dingin dan tegang. Sesaat Aa Gabriel membuang muka. Pak Rizal terdengar menghela napas sambil mengepalkan tangan, mendapat respons tidak menyenangkan dari Aa Gabriel. “Segera kembali bekerja, kalau urusanmu udah beres,” ucap Aa Gabriel seraya berlalu meninggalkan tempat ini dengan langkah cepat. Belum sempat kujawab, dia keburu menjauh. Ya sudahlah. Aku mengajak Pak Rizal menuju pendopo di area belakang kios. Kami duduk bersampingan. Aku terus menunduk, menghindari kontak mata dengannya. “Kamu nggak perlu mengorbankan perasaan—demi orang lain, walau dia saudara kamu sendiri.” “Mak-maksud, Pak Rizal?” Aku menelan ludah. Sedikit menelengkan kepala ke samping, tetapi tidak berani menatap wajah dia secara langsung. “Kamu menolak lamaran saya demi Aliyah. Apa benar? Tolong jawab jujur, Adilah.” Aku mengatur napas dan berusaha menormalkan mimik wajah. Kemudian aku tertawa kecil, menutupi kepiluan hatiku. “Pak Rizal ngomong apa sih? Udahlah, pamali tahu kita membahas itu lagi, padahal Pak Rizal sebentar lagi akan menjadi kakak iparku.” Sorotan mata dia semakin intens seakan mencari kebenaran di mataku. “Jangan mengelak. Saya udah tahu tentang perasaan kamu dari Lisa.” Aku mengembuskan napas pasrah. Semalam aku menumpahkan seluruh kesedihan kepada Lisa via telepon. Aku tidak menyangka, Lisa nekat memberitahu Pak Rizal tentang perasaanku, mungkin dia bermaksud baik, namun aku sedikit kecewa padanya. Tunggu omelanku, Lisa! Aku tersenyum menyeringai di balik hati yang tak berhenti merintih. “Lisa mah, orangnya suka bergurau, Pak. Jangan percaya.” Pak Rizal menggeleng tegas. “Nggak ada kebohongan di mata Lisa. Dia nggak mungkin datang menemui saya kalau hanya mengumbar kebohongan.” “Semasa kuliah, aku memang mengagumi Pak Rizal. Sebatas kagum seorang mahasiswa kepada dosen. Mungkin itu yang mendasari Lisa berpikiran begitu.” Aku menatap sungguh-sungguh agar dia percaya. “Udah ya, Pak. Aku harus kembali bekerja.” Aku berbalik membelakanginya, air mata yang berusaha kutahan sejak tadi seketika luruh, mengiringi perasaanku yang semakin runtuh. “Saya pastikan, ini terakhir kalinya kita membahas soal lamaran yang selalu kamu abaikan!” *** “Ummi mah ada-ada aja. Mana aku belum gajian lagi, uang aku cuma cukup buat bayar ojol doang,” gerutuku sembari memasukkan ponsel ke tas. Saat aku bersiap mau pulang, Ummi menghubungiku, meminta dibelikan lima jenis anggrek. Ummi bilang, sudah membuat atap taman yang lebih luas. “Kamu ambil dulu aja, nanti tinggal potong gaji akhir bulan.” Aku tersentak tiba-tiba Aa Gabriel muncul di ruang loker bagaikan hantu. “Aa menguping, ya?!” Aa Gabriel berdecak seakan tidak terima dengan tuduhanku. “Jangan asal ngomong kamu, saya mau mengambil tas, nggak sengaja mendengar pembicaraan kamu sama seseorang lewat telepon tadi.” Dia melewatiku lalu membuka salah satu pintu loker dan mengambil tas kecil. “Gimana tawaran saya, mau nggak?” Aku bergeming, berpikir sejenak. Takut dia berbuat licik. Nanti aku disuruh bayar puluhan kali lipat, terus kalau aku tidak mampu melunasi harus mengabdi padanya seumur hidup. Aku tidak mau jadi karyawan abadi di Gabriel Agromart. “Ya udah, kalau mikirya masih lama. Saya tinggal, nih. Semua karyawan udah keluar. Kamu nginep di sini aja.” Aa Gabriel melangkah terburu-buru, keluar dari loker. Aku mengejar dia, menyamakan langkah kemudian menoleh, menatapnya penuh selidik. “Aku mau menerima tawaran Aa tapi nggak pakai bunga, kan? Gaji aku nggak bakal cukup kalau harus membayar bunga yang berlipat ganda.” “Memang saya rentenir atau bank yang sering meminta bunga? Bunga saya udah banyak kali di sini.” ucapnya, sengit. Dia bergegas menuju halaman kios, tempat rak anggrek berada. Maksudnya bunga pinjaman, bukan bunga tanaman, Bambang! Aku ingin sekali menimpuk kepalanya menggunakan tas, gemas. Mending kalau lucu, garing begitu. Aku langsung menyebutkan lima anggrek yang Ummi inginkan: anggrek bulan, anggrek sendok, anggrek jamrud, anggrek kasut kumis, dan anggrek kebutan. Aa Gabriel membantuku menyiapkan anggrek-anggrek itu. Dia juga memesankan taksi online. Aku tidak mungkin pulang naik angkutan umum atau ojol, sangat repot bila membawa banyak tanaman jadi terpaksa menerima kebaikan dia. Sebelum pulang, aku mengucapkan terima kasih. Entah mengapa aku teringat saat dia mengundang anak panti asuhan. Di balik sikap angkuh Aa Gabriel, ada kelembutan yang tersembunyi. Aku tersentuh ketika dia menyuapi anak laki-laki tunanetra itu. Padahal aku sering mengatakan, dia tidak punya hati. Ah, dia tak seburuk pikiranku. Setelah sampai rumah. Ummi tersenyum semringah menyambut kedatanganku yang membawa bunga anggrek dibantu pengemudi taksi online. Di halaman rumahku berdiri sebuah atap baja yang cukup lebar, lebih lebar dari atap rangkaian bambu tempat anggur hijau merambat. Ummi menata bunga-bunga cukup rapi. Aku meletakkan anggrek baru di atas rak yang masih kosong, dekat anggrek larat dan anggrek hitam yang tumbuh subur. “Nah, sekarang taman Ummi semakin memesona. Terima kasih, bungsu Ummi yang cantik.” Ummi merangkul pundakku sambil tersenyum. Senyum Ummi mampu mengobati lelahku dan kekacauan hatiku akibat bertemu Pak Rizal. Aku mencium pipi Ummi penuh sayang. Kali ini, aroma keringat Ummi menggelitik hidung, namun aku tetap suka. “Sama-sama, ummiku tersayang.” Aku menoleh ke sekeliling. “Abi mana, Mi?” “Lagi mandi, Neng. Tadi Abi habis bantu-bantu tukang. Katanya kamu nggak punya uang lebih, kok, bisa beli lima anggrek?” Ummi mengernyitkan kening. Aku menggaruk kepala, tersenyum menyeringai. ”Boleh hutang dulu, Mi. Bos Agromart lagi berbaik hati, entah dapat hidayah dari mana?” “Sampaikan salam terima kasih Ummi ya, Neng, sama kembaran Kim Soo Hyun.” *** Footnote - Aklimatisasi : upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi dari suatu organisme terhadap suatu lingkungan baru yang akan dimasukinya - Bale : tempat duduk yang terbuat dari bambu, lebarnya seperti tempat tidur
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN