Cinta yang Allah hadirkan di hidupmu, tak berarti ditakdirkan untukmu karena cinta itu bisa pergi tanpa berpamitan.
—Elis Sri W
.***
(Adilah)
Aku melangkah lunglai memasuki Toko Mas 88 Karawang. Kakiku terasa berat. Energiku terkuras. Batinku lelah menyembunyikan luka yang membara. Mataku sakit, setiap detik disuguhi pemandangan memilukan: menyaksikan kebersamaan Pak Rizal dan Teh Aliyah. Sekian kalinya aku menghela napas, menahan sesak.
Lemari etalase berbentuk huruf ‘L’ menjulur panjang dari pintu masuk hingga tembok bagian dalam ruko. Pantulan cahaya lampu membuat isi etalase semakin menawan. Berbagai model perhiasan terpajang rapi, bervariasi emas murni dan perak. Beberapa pegawai tampak sibuk melayani pembeli. Kami berhenti di depan etalase keempat, tempat cincin.
“Ada yang bisa kami bantu?” Karyawan muda berambut dicat pirang tersenyum ramah menyambut kedatangan kami.
“Saya mencari cincin nikah. Boleh melihat modelnya dulu, Ci?” Wajah Pak Rizal berbinar penuh semangat, meski sudah setengah hari mengelilingi Karawang Barat—menyiapkan segala keperluan pernikahan. Dia sama sekali tidak tampak kelelahan.
Aku mendesah pelan. Perasaanku diobrak-abrik tanpa henti, remuk bertubi-tubi. Jika bukan Ummi yang memintaku menemani Teh Aliyah, lebih baik aku pulang bersama Abi dan Ummi selepas fitting baju tadi.
“Silakan, pilihan modelnya ada di etalase kelima.” Cici itu menuntun Pak Rizal agar bergeser ke etalase selanjutnya. Pak Rizal melangkah ke depan. Diikuti Teh Aliyah yang kemudian berdiri bersebelahan dengan Pak Rizal. Sementara aku dan Rizka berdiri di belakang mereka. Kehadiran Rizka tidak membuatku kesepian.
“Kamu nggak cemburu melihat mereka, Dil?” bisik Rizka. Dia tersenyum menyeringai seraya mengerlingkan mata.
Aku tersenyum kecut. Berusaha memasang wajah bahagia untuk meyakinkan Rizka. “Nggaklah, ngarang aja kamu, Riz.”
Rizka menyenggol bahuku sambil tertawa kecil. “Aku cuma bercanda kali. Lagian kamu serius banget.”
Aku bergeming.
Teh Aliyah menunjuk sepasang cincin di barisan kedua, urutan ketiga. Warna silver melingkari bagian tengah cincin, sedangkan bagian pinggirnya berwarna gold. Setitik permata putih menghiasi bagian atasnya. “Yang ini menurutku bagus. Modelnya simple, cocok untuk pria mau pun wanita. Menurut kamu gimana?”
Pak Rizal mengamati cincin tersebut beberapa saat. Kemudian dia menatap Teh Aliyah sambil tersenyum. “Kalau menurut kamu bagus, saya pasti suka. Kamu mau yang itu?”
Teh Aliyah mengangguk.
Aku menelan ludah, pahit sekali. Kuhirup oksigen sebanyak mungkin, tetapi dadaku tetap saja terasa sesak. Menyaksikan kebahagiaan mereka sama saja menebarkan racun di setiap oksigen yang kuhirup. Bolehkah aku lari dari situasi menyakitkan?
Setelah jari mereka diukur. Cici mengeluarkan benda merah berbentuk hati yang berisi sepasang cincin sesuai ukuran jari mereka. Pak Rizal langsung menerimanya.
“Aliyah, mana tangan kananmu?” Pak Rizal mencabut salah satu cincin dalam kotak merah. Teh Aliyah mengulurkan tangan ragu-ragu. Lantas, gerakan tangan Pak Rizal berhenti tepat di ujung jari manis Teh Aliyah. “Insyaallah, bila waktunya telah tiba, saya akan memasangkan sendiri. Untuk sementara waktu, izinkan adik saya yang memasangkan cincin ini.”
Hatiku menjerit. Ribuan panah menusuk relung hatiku hingga menembus dasar perasaan. Sakit. Sakit sekali. Kenapa Pak Rizal terus melontarkan kalimat yang membuatku terpukul. Apa dia sengaja ingin melukai hatiku?
Teh Aliyah melirik Rizka. “Memangnya Rizka bersedia?”
“Apa sih, yang nggak buat calon teteh iparku yang cantik.” Rizka terkekeh, kemudian mengambil alih cincin dari tangan Pak Rizal dan langsung menyematkan ke jari manis Teh Aliyah.
Senyum Teh Aliyah mengembang.
Pak Rizal memandangi lingkaran emas yang terpasang sempurna di jari manis Teh Aliyah. “Cincin sederhana, bisa terlihat indah kalau kamu yang memakainya.”
Aku memalingkan pandangan seraya mengerjap, merasakan mata seketika memanas. Sulit mengikhlaskan pria yang kita cintai bahagia bersama wanita lain, sekali pun Tetehku sendiri.
“Aa Rizal pinter ngegombal tahu, Teteh ipar. Harus waspada sekarang mah, bisa makin jatuh hati kalau termakan gombalan dia,” cibir Rizka.
Tawa mereka pecah serempak.
Aku mengeluarkan earphone serta ponsel dari saku gamis. Lalu memakainya, aku memutar musik dengan volume tertinggi agar tidak mendengar percakapan mereka lagi. Sudah cukup hatiku terluka!
Aku menikmati suara merdu Nissa Sabyan menyanyikan Ya Maulana, mendengarkan lirik demi lirik. Mataku terpejam tanpa memedulikan keramaian. Benar kata Nissa, dengan kasih-Mu, Ya Rabbi, berkahi hidup ini. Dengan cinta-Mu, Ya Rabbi, damaikan hati ini. Lantas, buat apa aku mengharapkan cinta manusia jika cinta Allah lebih mendamaikan hati? Ah, aku baru sadar.
Aku membuka mata merasakan tepukkan di punggung. Segera kulepaskan earphone. “Kenapa, Riz?”
“Lihat deh, cincin mereka udah terpasang. Serasi banget, ya?”
Hatiku sakit, Ya Allah.
***
“Oh, jadi dua hari yang lalu Pak Rizal menemui kamu, Dil.” Lisa mengangguk santai, tidak menunjukkan ekspresi penyesalan atau pun kaget. Aku tahu Lisa yang memberitahu Pak Rizal tentang tempat kerjaku, hingga dia mendatangi Gabriel Agromart.
Aku berdecak sebal. Seharusnya Lisa menyadari kesalahan, bukan malah memasang wajah sok polos. “Sekarang kamu puas, kan, Lisa? Pak Rizal udah tahu tentang perasaan aku.”
Lisa bergidik saat mengunyah potongan mangga setengah matang yang baru saja selesai dipotong. Lalu, dia menatapku sembari memperlihatkan barisan gigi. “Iyalah, Dil. Aku sangat puas. Pak Rizal nggak mungkin melanjutkan pernikahan itu. Dia pasti lebih memilih kamu.”
Aku mendesah seraya meremas kepala sendiri karena gemas. Kelakuan Lisa benar-benar menguji kesabaranku. “Asal kamu tahu, Lisa. Setengah harian ini aku menemani Teh Aliyah dan Pak Rizal ke toko percetakan undangan, fitting baju pengantin, dan beli cincin pernikahan. Jadi, jangan berpikiran bahwa ulah kamu bisa menggagalkan semuanya.”
“Apa?! Pernikahan mereka tetap terjadi?” Bibir Lisa terbuka lebar. Dia menggeleng seolah tidak percaya. “Dan kamu bela-belain menghabiskan hari libur untuk membantu mereka menyiapkan segalanya? Gila, sok tegar banget kamu, Adilah.”
Aku mengepalkan tangan dan hampir meremas kepala Lisa. Dia bergeser menjauhiku sampai pada ujung tikar yang kami duduki di bawah pohon mangga. “Aku udah susah payah menolak lamaran Pak Rizal demi menjaga perasaan Teh Aliyah. Ketika rencana Allah sesuai harapanku, malah nyaris dihancurkan sama kamu. Gimana nggak kesel?!”
Lisa terkekeh. “Salah kamu sendiri, curhat pake acara nangis kejer segala. Aku nggak tegalah dengernya. Ya, udah. Aku jujur aja sama Pak Rizal.”
Angin bertiup kencang. Daun mangga kering berjatuhan di sekitarku, beberapa helai yang lain jatuh ke hamparan rumput—memenuhi halaman belakang rumahku.
“Awas kalau kamu berulah lagi!” Aku melempari Lisa dengan daun-daun itu, membuat Lisa berdecak.
Lisa menghela napas, lalu menyeringai. “Iya deh, aku mengaku salah. Maafin aku udah bertindak gegabah.”
Aku mencebik. “Udah aku maafin. Nggak usah bahas itu lagi. Aku mau belajar move on dan nggak mau meneteskan air mata untuk sekian kalinya karena dia.”
“Syukur deh, aku bahagia mendengarnya.” Lisa tersenyum semringah. Kemudian dia mengambil potongan mangga yang sempat ditinggalkan dan melahapnya tanpa mencolek sambal gula. Di sela-sela mengunyah dia berkata, “Mending kita ikut kajian aja. Biar kamu punya kesibukan yang positif, jadi nggak kepikiran Pak Rizal terus.”
Aku mengernyitkan kening. “Tumben, kamu kan, lebih suka menonton kajian online daripada live. Katanya pusing bertemu orang banyak.”
Dia meraih ponsel ber-cover Doraemon. Kemudian menyentuh layar seraya senyum-senyum sendiri, menatap benda kotak itu. “Aku suka juga, kok, ikut kajian live. Hari Sabtu depan, bakda Magrib ada kajian bertema ‘Cinta Halal’. Lokasi Masjid Agung Karawang. Kuy, ah!”
Aku mengembuskan napas berat. “Nggak, ah. Kalau di masjid lain baru aku mau ikut.”
Senyum Lisa memudar. Bahu dia menurun seakan kehilangan semangat. “Lah, kenapa? Mencari ilmu jangan pilih-pilih tempat. Nggak baik tahu, Dil.”
“Bukan begitu, aku takut ketemu Pak Rizal. Dia juga sering datang ke kajian malam Minggu di Masjid Agung.”
Lisa memegangi kening. Tidak lama, dia kembali bersuara. “Aku punya ide. Kita pakai nikab aja biar nggak ada yang mengenali.”
Mataku melebar, terkejut mendengar ide Lisa. Mana mungkin aku mengenakan cadar, hanya karena takut bertemu Pak Rizal, bukan takut kepada Allah. Aneh, kenapa Lisa ngotot banget mau datang ke kajian itu?