Perjalanan Hati

1463 Kata
Ada kalanya perang terjadi karena satu kalimat, dan ada kalanya pula cinta tertanam karena pandangan sekilas. —Ali bin Abi Thalib *** (Gabriel) Mobil pick up yang saya tumpangi, membelah jalanan Karangpawitan. Melewati kendaraan yang berlalu lalang. Saya mengusap wajah sekian kalinya, meminimalisasi rasa kantuk yang tengah menyerang. Kerja sampai menjelang malam sangat melelahkan. Kurir kios izin tidak masuk kerja. Seharian ini, saya mengantarkan tanaman ke beberapa rumah pelanggan ditemani Adilah. Adilah menyandarkan kepala di punggung kursi sembari memasang wajah lemas. Puncak kain jilbabnya tampak lusuh, miring tidak beraturan. Seketika dia menunjuk menara Masjid Al-Jihad yang sebentar lagi akan dilintasi. “Kita salat Magrib di sana aja, A.” Saya mengangguk. Jika bukan soal ibadah, saya enggan menuruti keinginan dia. “Sebelum pulang nanti, kita mampir dulu ke taman seberang masjid itu untuk membeli es tebu. Saya haus sekali.” Adilah mengangguk. Setibanya di Masjid Al-Jihad. Saya dan Adilah keluar dari mobil, kemudian bergegas menuju bangunan utama yang berbentuk bujur sangkar, ada tiga pintu besar di bagian sisi kanan dan kirinya. Langkah saya terhenti di depan anak tangga, meresapi suara azan berkumandang begitu merdu. Hati saya merasa tenteram, jiwa terasa sejuk, dan rasa candu membekas dalam perasaan. Semakin sering mendengar lantunan ayat-ayat berbahasa Arab, semakin besar pula kekaguman saya terhadap Islam. Apa ini cara Tuhan mendekatkan saya pada-Nya? “Aa mau berdiri di sini sampai Isya, atau mau mengambil air wudu?!” Saya menyipitkan mata sambil menunduk, harap-harap cemas memikirkan cara agar Adilah segera pergi. “Kamu duluan aja, nanti saya nyusul.” “Wudu tuh, jangan dinanti-nanti. Keburu ikamah, baru tahu rasa,” gerutu dia seraya berlalu ke arah kiri masjid, mungkin tempat wudunya ada di sebelah sana. Saya mengembuskan napas lega. Ketika Adilah sudah menjauh, saya mulai menaiki anak tangga. Sesampainya di atas, saya mematung di ambang pintu, tempat salat khusus pria. Setelah terdengar suara semacam azan yang lebih pendek, semua jemaah kompak berdiri dan merapikan barisan. Masih ada beberapa tempat kosong di barisan paling belakang. Rasanya, saya ingin sekali mengisi kekosongan itu. Apa boleh? *** Sambil menikmati es tebu di bawah pilar berlampu, saya menatap lekat mata sayu Adilah yang begitu mengagumkan. “Kamu mau menemani saya menaiki skywalk ? Apa mau pulang tapi bersyarat?” Adilah berhenti menyedot es tebu secara serentak. Lalu, dia mendongakkan wajah seraya mendelik tajam. “Apa?! Tadi Aa bilang, selepas menghabiskan es tebu, kita langsung pulang. Kenapa sekarang pakai syarat segala?” Saya tersenyum miring. “Nggak masalah, kok, kalau kamu mau pulang sekarang. Dengan syarat, besok harus ikut mengantarkan tanaman lagi, berlaku selama kurir kios izin sakit.” Saya mengangkat bahu, menggeleng tidak yakin. “Entah, berapa lama dia akan mengambil izin? Nggak bisa dipastikan.” Adilah menggeram. Dia meletakkan gelas plastik dengan kasar di atas pilar yang kami duduki. “Aku lelah, mau istirahat. Coba atuh Aa mengerti dengan kondisiku sekarang.” “Terserah! Pilihan ada di tangan kamu.” Saya membuang muka tak acuh. Seharusnya saya yang mengeluh, seharian menyetir mobil. Sementara dia, hanya duduk manis saja masih banyak protes. “Baiklah, aku bersedia menemani Aa menaiki skywalk.” Dia menghela napas berat seakan terpaksa mengambil pilihan itu. “Bila perlu, sekalian mengelilingi lapangan KP, biar Aa puas!” Suaranya semakin mengeras. Saya tersenyum penuh kemenangan, tidak memedulikan keterpaksaan dia. Kami menaiki skywalk yang berdiri kokoh di tengah lapangan taman Karangpawitan. Rumput sintetis menghampar sepanjang area skywalk. Meski tempat ini ramai oleh para pejalan kaki, kebersihannya tetap terjaga. Di tembok tertulis larangan memakai alas kaki, membuang sampah sembarangan, dan larangan merokok. Kami terus melangkah, mengikuti alur bangunan yang sedikit melengkung. Mulai dari bangunan terendah hingga perlahan-lahan ke bangunan lebih tinggi. Adilah memandangi langit yang disinari bulan dan bintang. Langkah dia semakin lunglai, sorot matanya menampilkan kepiluan. Dia menggumamkan sesuatu begitu lirih, “Aku sama Pak Rizal itu bagaikan bulan dan bintang. Melintasi langit yang sama, namun sukar disatukan karena takdir kita bertentangan. Pak Rizal adalah bintang. Sementara aku, hanya bulan yang meratapi kebersamaan bintang-bintang.” “Bulan dan bintang nggak punya telinga. Jadi percuma aja, kamu curhat sama mereka.” Saya menghela napas berat. d**a saya menyempit, merasakan sesak yang melanda seketika. Mungkin efek kelelahan. Adilah menoleh lalu mendengkus. “Please, lupakan aja, apa yang Aa dengar tadi.” “Kamu pikir, saya udah pikun? Bisa dengan mudah melupakan sesuatu yang baru aja terjadi.” Saya tersenyum miris. Rasanya, sulit melupakan kalimat yang telanjur terekam dalam pikiran. Sial, telinga saya malah memanas, menolak nama pria berlesung pipi itu disebut bibir Adilah. Padahal saya tidak pernah mempunyai masalah sama dia. Adilah mendahului langkah saya. Bisa ditebak, dia sengaja menghindari saya. Tanpa menunggu lama, saya bergegas mengejarnya. Kami menghentikan langkah di puncak teratas, berdiri berdampingan, menikmati pemandangan dari atas skywalk. Beberapa lampu sorot yang berdiri tegak di sekitar taman menjadikan nuansa malam terkesan mengagumkan, tidak gelap, tidak juga terlalu terang. Embusan angin bersilir-silir, menggoyangkan dedaunan pada pepohonan yang tumbuh di area taman. Hiruk keramaian jalan raya memecahkan kesunyian malam. Saya menoleh ke arah Adilah. Matanya tertuju pada kolam renang menyerupai huruf ‘M’ yang berada di area sebelah timur. Hampir semua orang yang duduk di tepi kolam, terdiri dari sepasang pria dan wanita. Salah satu di antara mereka menurunkan kaki ke kolam dan saling mencipratkan air sambil melepas tawa. Adilah mendesah seraya mengerjap. Bibirnya berkedut lemah. Segelintir jarum terasa menusuk-nusuk hati saya. Rasa perih membekas dalam d**a, menyaksikan kepiluan Adilah. Walau menyebalkan, dia tetap seorang karyawan yang wajib diperhatikan. Saya bergeser satu langkah mendekati Adilah. Setelah menghela napas panjang, saya berdeham. “Mungkin sebuah kemustahilan, apabila bulan dan bintang dapat bersatu. Tapi percayalah, masih ada langit yang selalu setia menemani bulan. Saat sang langit mendung atau pun cerah, dia tetap menjadi sandaran bagi bulan. Sebab, rembulan adalah satu-satunya hal terindah yang langit miliki.” Adilah seketika menatap saya sambil mengernyitkan kening. “Aa nggak kesambet, kan? Tumben banget, puitis. Kirain cuma bisa ngomel doang.” Saya menelan ludah, kemudian meneguk habis sisa es tebu untuk mengobati kerongkongan yang terasa sesak. Sudah susah payah merangkai kata-kata, respons dia sungguh menyebalkan. “Kamu kali yang kesambet setan gegana . Makanya, jangan kebanyakan melamun,” sindir saya, meliriknya sinis. Adilah tersenyum getir tanpa berusaha membantah. Kentara, sindiran saya sangat tepat. Sudah pasti, penyebab kepiluan dia—pria bernama Rizal itu. “Coba lihat ke arah sana. Indah, bukan?” Saya mengalihkan topik pembicaraan dengan menunjuk air mancur di sisi pendopo yang merupakan bangunan utama dari taman Karangpawitan. Mata Adilah berbinar, melihat bundaran air mancur seraya tersenyum semringah. Efek cahaya lampu menimbulkan semburan air beraneka warna: merah; kuning; hijau; dan biru—menghiasi nuansa malam yang temaram. “Masyaallah, air mancurnya indah sekali.” Saya ikut tersenyum. Rasa lelah terobati oleh senyum manisnya yang mengembang. “Begitulah Tuhan mengatur segala sesuatu di muka bumi ini. Penuh warna. Ada bahagia, haru, sedih, dan terluka. Tapi setiap luka selalu ada obatnya. Begitu pun, setiap kesedihan pasti ada penghiburnya.” Adilah memutar pandangan ke arah saya. Kami saling bertatapan dalam keheningan. Tatapan Adilah memancarkan kelembutan, memicu jantung saya bertalu-talu begitu kencang. Perasaan aneh menyusup dalam d**a, memunculkan desir-desir halus yang menjalar luas menguasai jiwa. Setelah tersadar, saya memelototi Adilah. “Ngapain kamu menatap saya sebegitunya?” Adilah berdecak, dia membuang muka. “Idih, kepedean banget! Aku hanya heran aja. Ternyata, Aa bisa juga ya, berkata bijak. Menurutku, itu fenomena sangat langka.” Dia menggeleng sambil tertawa. “Diibaratkan planet merkurius yang transit di depan matahari, terjadi hanya tiga belas tahun sekali. Kecil kemungkinan bisa terlihat dari bumi tanpa bantuan teleskop.” Saya mengernyitkan kening. “Kenapa harus merkurius? Memang nggak ada fenomena langka lain yang jauh lebih indah apa?” Adilah nyengir kuda, gigi putih berjajar rapi. “Karena biasanya, ucapan Aa layaknya merkurius. Mampu membakar perasaanku, saking pedasnya.” Saya mendesah geram. Tidak merasa sesadis yang dia katakan. “Kamu kali yang terlalu baperan.” Adilah berdecak. “Aku punya hati dan perasaan. Wajar sering baper, setiap kali mendengar perkataan pedas Aa.” Saya meremas tembok skywalk sembari menatap dia tajam. “Terus, kamu nggak betah kerja sama saya, begitu?” Adilah terdengar menghela napas. “Ya, belajar dibetah-betahin. Mending makan hati setiap hari—punya bos sedingin es di kutub selatan. Ketimbang harus membayar denda yang bikin bangkrut.” Saya menahan tawa. Kemudian mendesis, pura-pura tidak terima dengan julukan yang dia lontarkan. “Kamu udah bosan Adilah, menerima gaji full dari saya? Tadi mengibaratkan saya, seperti merkurius dan sekarang es kutub selatan. Saya ini bos kamu!” Adilah mencebik. “Gimana mau betah kalau bosnya suka mengancam?” “Nggak ada perusahaan yang mau menerima karyawan ceroboh kayak kamu. Jadi, coba berpikir seratus kali untuk mengakhiri kontrak tahun depan. Saya berharap kamu tetap bertahan di Gabriel Agromart!” *** Footnote - Skywalk: bangunan tinggi yang dikhususkan untuk pejalan kaki - Gegana: bahasa gaul, singkatan dari "gelisah, galau, merana"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN