Tidak ada yang lebih menyiksa selain mengingatmu, dalam kerinduan yang tercipta di keheningan malam.
—Elis Sri W
***
(Gabriel)
Melihat keindahan langit beserta pernak-perniknya, wajah gadis itu muncul dalam bayangan, bersinar secerah rembulan. Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar sangat nyata hingga menggetarkan jiwa. Adilah melantunkan potongan surah Al-Kahf sesuai rekaman yang sering saya dengarkan.
Mungkinkah ini yang dinamakan cinta? Selalu mengingatnya dalam kesendirian.
Saya mengetuk kepala, merutuki diri sendiri. “b*****h! Saya nggak mungkin jatuh cinta pada gadis ceroboh itu. Iya, ini hanya efek peristiwa mengagumkan saat di Masjid Agung, makanya dia sering mengusik ketenangan saya.”
“Siapa yang mengusik ketenangan Koko?” Kemunculan Lisa membuat saya tersentak. Lisa menatap saya penuh selidik. “Tunggu, tadi Koko menyebut-nyebut Masjid Agung. Apa dia yang Koko maksud, Adil—“
“Kamu ngapain ke sini? Tidur sana,” sela saya, mencoba mengalihkan pembicaraan. Batin saya mengucap beribu syukur kepada Tuhan, Lisa tidak mendengar kalimat sebelumnya.
Lisa menopangkan kedua tangan di pagar balkon lalu menatap saya. “Aku belum mengantuk. Ya udah, jadi datang aja ke kamar Koko buat merusuh.” Dia terkikik. “Ternyata, Koko masih berdiri di balkon, mikirin Adilah.”
“Koko nggak mikirin Adilah!” Saya mendelik tajam, menepis hipotesis dia yang sesungguhnya sesuai fakta—saya tengah memikirkan Adilah.
Lisa mencolek dagu saya, mengerlingkan mata. “Mengaku ajalah, Ko. Udah ketangkap basah, masih mengelak juga.”
“Memang nggak ada yang perlu diakui, kok.” Saya membuang muka, tidak bosannya dia mencampuri urusan saya yang berkaitan dengan Adilah. Dasar, adik sialan.
Lisa tersenyum miring. “Koko nggak bisa bohong sama aku. Kalau Koko nggak mau jujur, aku bakal bilang ke Adilah nih, Koko galau mikirin dia.”
Saya tahu ancaman Lisa tidak pernah main-main, mending cari aman saja tetapi harus tetap waspada. Saya mengacungkan telunjuk di depan mata Lisa sebagai bentuk ketegasan. “Baiklah, Koko bakal mengaku. Tapi awas aja kalau kamu sampai membocorkannya pada dia!”
“Tenang aja, rahasia Koko aman terkendali.” Lisa menggerakkan telunjuk dan jempol yang menyatu dari sudut bibir kanan ke kiri, tanda siap mengunci rahasia. Cukup menjadi jaminan.
“Waktu Koko berniat meminta maaf sama Adilah, kebetulan melihat dia di Masjid Agung. Kamu ingat, kan, yang pernah Koko ceritakan?”
Lisa mengangguk, memasang wajah serius.
“Koko nggak sengaja memperhatikan dia salat. Bahkan, mendengar dia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Hati Koko tersentuh, baru merasakan kedamaian yang luar biasa. Karena peristiwa itulah, Koko sering mengingat Adilah ....” Kening Lisa mengernyit seakan curiga, langsung saya ralat. “Maksud Koko, mengingat suara merdu dia.” Saya menunduk frustrasi. Sial, malah keceplosan. Batin saya tersiksa, harus berperang melawan perasaan yang telanjur bersarang dalam d**a. Adilah mulai menyelami hati dan pikiran saya. Aneh, kan?
“Mungkin Allah memberi Koko hidayah melalui perantara Adilah. Allah menunjukkan kepada Koko bahwa nggak ada kalimat yang menenangkan hati selain ayat-ayat-Nya. Hanya manusia terpilihlah yang bisa mendapatkan hidayah, bisa aja Koko salah satunya.” Lisa mengalihkan pandangan ke arah langit. Senyum kecil terukir di bibirnya. “Jujur, aku ingin Koko dan Papa memeluk Islam. Aku ingin satu tempat ibadah, satu hari raya, dan satu sesembahan hanya kepada Tuhan Maha Tunggal, yaitu Allah. Tapi, aku nggak mungkin memaksa kalian mengubah keyakinan.”
Saya mendesah. Hidup di tengah keluarga yang berbeda keyakinan memang tidak mengurangi keharmonisan, namun benar kata Lisa, tetaplah hambar karena segala bentuk keagamaan dilakukan masing-masing. Menyedihkan.
“Beberapa minggu yang lalu, Koko meminta restu Papa, mau belajar agama Islam dan udah jujur juga Koko nyaman terhadap agama yang dianut kamu sama Mama. Papa nggak keberatan bila Koko harus pindah keyakinan.” Saya menjeda kalimat, menghela napas perlahan sambil menatap wajah Lisa dari samping. “Tapi Koko bingung, harus memulai dari mana?”
Lisa berbalik menghadap saya. Mata dia berbinar penuh semangat dan harapan. “Serius, Koko aku yang bernama Gabriel Emillius Prakasa mau mempelajari Islam?”
Saya mengangguk mantap.
Dia tersenyum lebar kemudian menghambur ke pelukan saya. “Alhamdulillah kalau Papa mengizinkan Koko memeluk agama Islam, nanti Koko bisa jadi imam salat untuk aku dan Mama.”
Saya mengelus punggung dia sembari mencium pucuk kepalanya yang tertutup jilbab. Embusan angin sepoi-sepoi menaburkan kesegaran dalam keharuan yang tercipta di antara kami. Tak lama, dia melepaskan diri dengan kondisi mata berkaca-kaca. “Nggak usah cengeng, deh. Gitu doang pake nangis segala.”
Lisa menyeka sudut mata, mencebik dan agak mendorong tubuh saya. “Ih, Koko nyebelin banget. Aku tuh, terharu tahu. Oh, iya. Besok sore, aku mau ikut kajian sesudah Magrib sama Adilah. Mending Koko ikut aja, buat menambah pengetahuan.”
Saya menggeleng tegas. “Nggak, ide kamu terlalu gila. Kalau Koko ikut kajian, otomatis wajib salat Magrib di sana. Mana bisa? Koko bukan muslim, sama aja menjadikan ibadah sebagai mainan, nonmuslim masuk masjid aja, katanya dilarang dalam agama kalian. Ya, walau Koko pernah nekat sih masuk masjid.”
Lisa memanyunkan bibir. “Dih, Koko sotoy. Aku pernah baca, kok, firman Allah SWT dalam surah At-Taubah ayat 28 yang menjadi dasar sebagian ulama membolehkan nonmuslim masuk masjid. Asalkan, jangan Masjidil Haram di Makkah sana.”
“Jangan bohong kamu Lis, mentang-mentang Koko nggak paham Al-Qur’an.”
Lisa berdecak sebal. “Bodo, ah. Ya udah, kalau Koko nggak percaya.”
Kali ini saya percaya. Dia tidak mungkin berbohong, apalagi masalah agama.
“Tapi Koko nggak hafal doa salat. Nggak mungkin, kan, hanya mengikuti gerakannya aja?”
Lisa mengedikan badan lalu berkata begitu enteng, “Gampang, nanti aku kasih buku tuntunan salat untuk Koko pelajari, biar nggak terlalu kudet . Allah juga tahu, Koko masih tahap belajar. Jangan takut salah.“
“Lihat besok aja, Lis.”
***
“Denger tuh, Dil, apa kata Ustaz Kamal. Jangan jatuhkan cintamu sebelum dia menjabat tangan walimu sambil mengucapkan saya terima nikahnya agar terhindar dari penyakit patah hati.” Lisa mengulangi penggalan ceramah sambil berjalan menuju parkiran. Pengalaman pertama mengikuti kajian berjalan lancar, tidak ada yang mencurigai saya sebagai nonmuslim. Cukup melegakan.
Alis Adilah bertautan, seakan tersinggung. Pipi dia mengembang dan memerah. “Bukan keinginanku! Apa pun yang terjadi di muka bumi ini atas kehendak-Nya, Lis. Termasuk masalah perasaan, kita nggak mungkin bisa menepis rasa yang Allah hadirkan.”
Lisa memasang wajah memelas. “Jangan marah begitu dong, Dil. Aku cuma nggak mau, kamu tersiksa bila terus mencintai Pak Rizal. Sebentar lagi, kan, dia menikahi Teteh kamu.”
Membran timpani saya bergejolak, pembicaraan mereka membuat hati saya berkobar-kobar, padahal tidak menyinggung saya sedikit pun.
“Jalannya jangan sambil mengobrol. Mau, saya tinggal?! Terus kalian pulang naik taksi online,” ancam saya, ketus.
Lisa berdecak. “Koko sensi banget. Jangan-jangan, Koko cemburu sama Pak Rizal?!”
“Koko capek, jadi mau cepat pulang. Please, jangan mikir kejauhan.” Saya menelan ludah, pertanyaan Lisa bikin saya gugup, apalagi harus mendapatkan lirikan tajam dari Adilah. Kalau Adilah mempercayai ucapan Lisa bisa gawat.
Lisa spontan menghentikan langkah hingga saya dan Adilah turut berhenti. Dia menyenggol bahu Adilah lalu terkekeh. “Asal kamu tahu, Dil. Koko Gabriel sering teringat suara kamu saat mengaji, katanya gara-gara peristiwa di masjid ini. Dia juga ikut kajian demi memperdalam ilmu agama, sebelum menjadi mualaf.”
Adilah terbelalak, mengernyitkan kening seolah tidak percaya. “Jadi, Aa Gabriel nonmuslim?”
Saya menatap Lisa, geram. Sungguh, dia tidak bisa dipercaya. Mulut anak itu harus disumpal pakai tanaman lidah buaya agar tidak mudah keceplosan.
Lisa membekap bibir sambil meringis. “Upsss ... maaf Ko, aku keceplosan.”
***
Saya bertekad menghafalkan surah Al-Kahf sebelum mendapatkan guru privat. Suatu hari nanti harus membacakannya di hadapan Adilah, wanita yang menuntun saya ke jalan-Nya. Sulit saya tepis, wanita pembantah itu hobi sekali berkeliaran di pikiran saya. Dia terus menghantui kesendirian saya. Sikap menyebalkan dia terkadang membuat saya rindu. Rindu ingin berdebat. Rindu ingin memarahi. Rindu ingin bertemu. Kenapa begitu, Tuhan?
Saya merebahkan tubuh ke kasur. Setelah menemukan posisi nyaman, saya mulai melafalkan surah Al-Kahf versi latin yang tertera di layar ponsel. Lidah seolah kaku melafalkan kalimat berbahasa Arab, meski ayat pertama tidak familier lagi. Rasanya berbeda jika saya mengucapkan secara langsung. Sesekali saya meremas ponsel sambil berdecak gemas, merutuki diri sendiri. Masa saya membaca Al-Qur’an, seperti anak SD yang baru belajar membaca: sangat kaku.
Saya berinisiatif membuka YouTube, mencari beberapa bacaan surah Al-Kahf. Nama Muzammil Hasballah mencuri perhatian. Suara dia lumayan merdu. Menurut deskripsi, dia memakai irama kurdi. Selepas memasang earphone, saya memejamkan mata, meresapi surah Al-Kahf hingga tertidur pulas.