"Mama bangga sama kamu, Can. Semoga kedepannya kamu bisa sukses seperti..." Mama Cantika menggantung ucapannya, sehingga membuat Cantika penasaran.
"Seperti siapa, Ma?" Tanya Cantika penasaran.
"Seperti.... Kakekmu lah, ayahnya Mama." Jawab Mama Cantika dengan suara agak berat.
"Emang Cantika punya ada kakek yang masih hidup?" Ucap Cantika
"Udahlah, gak usah di bahas. Udah malam tidur geh." Kata Mama Cantika, beliau pun meninggalkan Cantika di ruang tamu sendirian.
Denagn raut muka yang penasaran, Cantika masih bertanya-tanya di pikirannya tentang kakek yang di ucapkan sang Mama.
Berjalan menuju ke kamarnya. Cantika berangan-angan bagaimana wajah sang kakek, Wajar saja selama ini ia tak pernah di pertemukan oleh keluarga nya. Entah itu keluarga dari Papa atau Mama nya.
Cantika merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya. Meskipun kasur yang padat dan keras itu, Cantika tetap nyaman. Mata mulai terpejam hingga ia terlelap.
*****
Tak terasa kini pagi datang lebih awal. Cantika yang merasa masih tidur beberapa jam itu terpaksa bangun untuk menunaikan kewajibannya.
Setelah di rasa cukup, ia lekas turun dan membantu sang Mama.
"Pagi, Mam?" Sapa Cantika.
"Pagi, sayang. Kenapa sudah bangun, enggak nanti saja. Nunggu Mama bagunin!" Jawab sang Mama yang melihat muka lesu Cantika.
"Enggak bisa tidur lagi, Mam. Mau bantuin Mama saja." Ucap Cantika lalu menyambar pisau.
Acara masak pagi pun selesai. Cantika pun mandi dan bersiap untuk sarapan bersama sang Mama. Selesai mandi, catika lekas keluar kamar dan menuju meja makan. Dan rutinitas sarapan pun usai.
Saat mereka sedang mencuci piring sisa makan, tiba-tiba pintu rumah di ketuk seseorang.
"Biar Cantika saja, Mam." Ucap Cantika lalu ia berjalan menuju pintu utama.
Ceklek..
"Maaf, mau cari siapa ya?" Tanya Cantika saat pintu di bukanya.
Pria itu berbalik. "Mau cari Cantika, Mba." Ucap pria itu seraya membalikan badannya.
Cantika menutup mulutnya dengan kedua tangan dan matanya yang terbelalak karena kaget.
"Carry!" Ucap Cantika degan mata yag berkaca-kaca.
"Yes it's me, Carry." Jawab pria itu.
Mereka pun berpelukan dengan hangat. Menuangkan rasa rindu yang selama ini terpendam.
7 tahun bukan waktu yang singkat bagi mereka.
Carry Adinata Mole adalah sahabat sekaligus Kakaknya. Carry adalah anak dari istri pertama sang ayah. Meskipun kini sang ayah memilih kembali pada istri pertamanya.
Seperti di awal cerita. Meskipun orang tua berpisah, tapi hubungan keluarga masih terjalin baik. Hanya saja sang ayah yang tak ingin kembali ke negara yang telah membesarkannya. Ia memilih untuk tinggal di Jerman.
"Ma.... Kakak Carry datang!" Teriak Cantika.
Mama Cantika yang mendengar langsung berlari keluar. Matanya berbinar saat melihat Carry. Ia mendekati Carry lalu memeluknya dengan hangat.
"Ma, udah. Suruh Kakak masuk dulu. Malu dilihat orang." Ucap Cantika yang melihat sang Mama terlalu lama memeluk Carry.
Mereka pun masuk, Cantika menarik tangan Carry untuk duduk di sofa.
"Kak, kok gak ngabarin sih kalau mau pulang? Ka aku bisa jemput." Ucap Cantika
"Enggak sempet, Can. Ini mendadak karena ada urusan di sini saja." Jawab Carry.
"Terus kakak tinggal dimana?" Tanya Cantika.
"Kalau boleh, mau nginep di sini. Gimana? Boleh enggak." Tanya Carry.
Mamanya Cantika yang di dapur mendengar ucapan Carry itu lalu berkata. "Tentu boleh dong. Kita ini kan sodara mu juga. Masa ia biarain kamu nginep di hotel yang mahal sih."
"Udah nginep di sini saja. Lagian ada kamar kosong, itu juga dulu kamu yang nempatin." Ucap Mama Cantika lagi
"Iya, kak. Tidur sini aja," sahut Cantika.
"okay, aku akan tidur di sini. For your sake, my sweet sister." Jawa Carry sembari mencolek hidung Cantika
"Yeee... Akhirnya aku punya teman lagi stelah sekian lamanya..." Ucao Cantika kegirangan.
Saat mereka sedang asik mengobrol di lagi hari. Pintu rumah kembali di ketuk.
Tok.... Tok.... Tok....
Cantika kembali berlari membuka pintu, dan Carry mengikutiny.
"Pa-pagi.." ucap Cantika terbata-bata melihat Devan duda berdiri di depan pintu rumahnya.
Buka menjawab tapi Devan bengong kala melihat Carry di belakang Cantika.
Cantika melambaikan tangan di depan Devan hingga membuatnya tersadar.
"Pak, bapak gak apa-apa?" Tanya Cantika.
"Why you are here?" Bukan menjawab pertanyaan Cantika Devan malah bertanya pada Carry.
"This is my mother's house. So, why are you here?" Tanya balik Carry.
"Kalian saling kenal?" Tanya Cantika canggung.
"This is my co-worker, Can. Apa kamu juga kenal dia?" Tanya Carry pada Cantika
"Setahu ku, bukankah orang tua mu tinggal di Jerman?" Tanya Devan yang bingung.
Cantika menyuruh mereka untuk duduk terlebih dahulu.
Jam menunjukkan pukul 07.30. Mama Cantika yang keluar dari rumah bingung ada dua pria yang sangat tampan.
"Carry, Mama mau berangkat kerja dulu ya. Cantika mungkin sebentar lagi selesai " ucap Mama Cantika.
"Loh, ini siapa?" Tanya Mama Cantika pada Devan.
Devan mengulurkan tangan untuk bersalaman, Mama Cantika menerima dengan lembut.
"Saya Devan, Tante. Temannya Cantika." Ucap Devan.
" Teman kerja? Tapi kok penampilan nya kaya anak kantoran." Ucap Mama Cantika.
"Ini Devan emang oekerja kantor, Mam. Dia ini adalah rekan bisnisku yang akan aku datangi hari ini " jelas Carry.
"Ow.. jad kalian sudah saling kenal. Berati Cantika kamu yang ngenalin ke dia." Ucap Mama Cantika menujuk Devan.
"Bu-bukan, Mam. Mereka kenal sendiri. Bukankah tadi malam Devan yang mengantar pulang Cantika." Ucap Carry.
"Iyakah? Pantas saja pulang nya malam. Hehehe." Ucap Mama Cantika dengan ketawa kecil
Devan haya tersenyum mengangguk.
"Yasudah, Tante berangkat dulu ya. Car, Mama berangkat ya?" Pamit Mama Cantika, lalu beliau mengeluarkan motor kesayangan dan berangkat.
"Car, Lo gak ada cerita deh punya keluarga di sini." Ucap Devan.
"Buat apa gue cerita, bukan kah sekarang udah tahu." Jawab Carry.
"Iya sih, tapi kok bisa sih, Lo akrab banget sama Cantika. Padahal Lo kan..." Ucap Devan dengan jari yang menggaruk kening.
"Apa? Udahla gak usah di bahas, intinya gue saang sama Cantika. Dari gue kecil itu pengen banget punya adik cewek, dan Cantika lah adik gue." Jawab Carry.
"Oh ya, Lo kesini katanya nagterin motor. Terus mana motor nya?" Taya Carry
"Kak, aku sudah siap. Kaka mau berangkat sekarang atau nanti?" Tanya Cantika saat ia keluar dari rumah.
"Oh ya, Can. Motor kamu itu." Tunjuk Devan saat sopirnya datang.
"Ah, iya. Makasih ya pak." Ucap Cantika pada Devan.
"Ehemm.... Ya kali di suruh naik motor, minimal di anterin lah" sindir Carry dengan mata yang melihat keatas.
"Apaan sih, Kak." Ucap Cantika mencubit legan Carry.
"Bagaiman kalau aku antar saja, Can?" tanya Devan.
"Eng-enggak usah pak. Aku udah telat ini. Yaudah aku berangkat dulu. Bye kak, bye pak." Ucap Cantika lalu ia berlari kearah motornya, Cantika pun bernagkat mengendarai motor nya.
"by the way, someone is in love with this." Ucap Carry dengan alis naik turun
"Apaan lah, udah ayo beragkat. Meeting jam 9." Ajak Devan lalu mereka berangkat bareng.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih semuanya. Jangan lupa coment ya