Makan Malam.

1030 Kata
Satu Minggu sudah berlalu. Hari-hari seperti biasa yang Cantika lewati, namun untuk 1 Minggu ini ia merasa ada yang berbeda. Pagi ini seperti biasa rutinitas yang Cantika lakukan. Jam 7.30 ia berangkat ke resto di temani oleh Carry, tak lupa juga ada Devan. Di perjalan menuju tempat kerja Cantika, Devan ingin meminta Carry dan Cantika menunggu sebentar. Karena ada sesuatu yang Devan harus beli. Menunggu sekitar 15 menitan, Devan masuk mobil membawa 3 paper bag. Mobiloin kembali di lajukan, tak terasa sudah sampai di tempat kerja Cantika. Saat hendak memasuki resto, Devan memanggil Cantika. "Can, tunggu!" Teriak Devan. Cantika pun menoleh. "Ini buat kamu," kata Devan memberika 2 paper bag. Cantika belum merespon apa-apa. Ia heran dengan sikap Devan pagi ini. "Ambil saja, ini hadiah dari aku buat kamu." Kata Devan lagi. Cantika mengerjap kan matanya, seakan tak percaya. "Bu-buat a-aku...?" Jawab Cantika dengan nada terbata-bata. Devan hanya mengangguk dengan penuh senyum. "T-tapi..." "Gak usah tapi-tapian, terima saja." Kali ini Carry yang berbicara. "Rezky gak boleh di tolak." Katanya lagi. Cantika pun menerima paper bag dai Devan. "Terimakasih ya, Pak. Kalau begitu saya masuk dulu. Bye Kak, bye Pak!" Ucap Cantika lalu ia berjala menuju resto. Devan dan Carry pun pergi, menuju kantor mereka. "Dev, Lo gak terus terang aja sih kala suka sama Cantika?" Tanya Carry memecah keheningan. "Gue masih takut, Car. Gue takut kalau dia gak suka sama gue." Jawab Devan lesu "Lo belum coba, Bray. Coba aja dulu, masalah di terima atau enggaknya urusan belakang." Kata Carry "Gampag lah, mungkin 2 hari lagi dia akan di pindahkan cabang. Soalnya gue sama pemilik resto itu ada kerja sama. Dan gue minta yang ngurus resto di Semarang itu Cantika. Gimana menurut Lo?" Ucap Devan melirik ke arah Carry. "Gila Lo, Lo serius? Terus Mamanya mau lo kemanain? Lo gak sebarang dev, misahin orang." Ujar Carry. "Awalnya gue itu juga gak mau. Tapi ini Aris Sendiri, si pemilik resto yang nyaranin. Katanya Cantika tuh pengen ngerasain merantau. Soalnya diapernah cerita sama Aris. Makanya gue bilang, yaudah gak apa-apa. Nanti kalau dia gak betah ya di pulangin lagi ke sini." Jelas Devan. "Tapi, kenapa dia gak ngomong sama gue ya, kalau pengen merantau. Kalau gitu kan bisa gue ajak ke Jerman." Jawab Carry "Gila Lo. Jauh Brey." Cletus Devan. "Masa bodok." Ucap Carry Devan memukul bahu Carry dengan keras. "Auuu... stupid sick." Kata Carry. "That's karma." Jawab Devan. **** Di tempat kerja, tepatnya di meja kasir. Cantika membuka paper bag yang di berikan Devan. Paper bag pertama berisikan makanan favorit nya. Cantika tersenyum kala melihat makanan itu. Paper bag kedua isinya kotak ponsel keluaran terbaru. Cantika tidak percaya atas apa yag devan berikan padanya. "Astaag, inika ponsel mahal. Gak.. gak... Aku gak bisa terima ini." Guman Cantika lirih. "Aku harus pulangin ini, buka siapa-siapa aku tapi ngasih barang mahal kaya gini, kalau cuma makanan mah, aku terima aja. Lah ini stoberi keroak di kasih. You rich man." Ucap Cantika lirih Cantika pun mengembalikan ponsel itu ke paper bag lagi, lalunia menyimpannya di bawah meja kasir. Cantika kebali bekerja seperti biasa. Hingga sore menjelang malam, datang tamu yang tak terduga. "Pesmisi kak, mau pesan." Ucap pria yang berdiri di seberang meja. Seakan mengenali suara tersebut, cantikayang tengah asik menulis rincian nota itu menoleh. "Kakak, sama siapa ke sini?" Tanya Cantika saat ia melihat Carry di depannya Carry hanya menujuk dua orang di meja no. 17. "Mama,. Terus itu siapa?" Tanyanya lagi "Siapa lagi kalau bukan Devan." Jawab Carry Cantika hanya mengangguk dan memberikan menu pada Carry. "Bos mu belum pulang?" Tanya Carry sembari melihat-lihat menu. "Udah kok, itu orangnya." Jawab Cantika menujuk pak Aris yag berjalan ke meja mereka. "Oh, aku pesen bebek Bakar 2, gurame 3, nasi bakar 2, sama iga bakar nya jangan lupa, minumannya jus alpukat 2, es jeruk 1 sama air hangat jangat lupa juga. Udah itu saja." Kata Carry sembari menyerahkan buku menu "Banyak banget, Kak. Emang habis?" Tanya Cantika. "Habis lah, kan ada kamu." Ledek Carry. "Aku kan lagi kerja, gak mungkin bisa gabung sama kalian." Protes Cantika. Carry tersenyum lalu ia pergi menuju meja makannya. "Kayaknya asik nih ngobrolnya?" Ucap Carry saa ia sampai di meja makan. "Oh, iya pak. Ini kakaknya Cantika." Ucap Mama Cantika mengenalkan Carry pada Aris. "Loh, bukannya Cantika anak tunggal?" Ucap pak Aris bingung. "Iya pak, kalo dari Mama memang anak tunggal, saya anak dari Papa yang ada di Jerman." Jelas Carry "Oh begitu... Kebetulan istri saya di sini, Bu. Nanti biar saya suruh turun menemani kalian." Kata pak Aris dengan senyum. "Tak perlu , pak. Nanti malah ngerepotin." Kata Mamanya Cantika. "Iya, pak. Nanti malah ngerepotin Bu Ine." Sahut Devan. "Tak apa pak Devan. Istri saya juga sudah lama tak berjumpa denga Bu Kania. Dia kataya rindu." Jawab Pak Aris Di sela obrolan yang sangat asik itu, Cantika dan beberapa waiters datang membawa hidangan yang telah di pesan. "Permisi. Ini pesanannya datang." Kata Cantika. "Terlalu formal sekali, Can!" Kata Mama. "Namanya juga lagi kerja, Ma." Jawab cantika Bu Kania hanya tersenyum mendengar jawaban sang anak. ' Persis dengan Kakeknya. ' Guman Bu Kania. "Sudah semua, silahkan di nikmati." Kata Cantika Saat ia ingin beranjak kembali,pak Aris memanggilnya. "Can, kamu disini saja temani mereka makan. Biar di kasir Wahyu yang jaga, dia kan udah sepi orderan." Kata pak Aris. "Tapi,pak. Saya tak enak..." Ucap Cantika "Udah gak apa-apa," kata pak Aris "Kalau begitu saya kembalikan nampan ini ke belakang dulu, pak." Jawab Cantika "Oh, iya. Panggilan Bu Ine ya di atas. " Pinta pak Aris yang di angguki oleh Cantika. Catika kembali ke dapur dan memanggil Wahyu. "Kak way... Tolong bantuin jaga kasir gih. Di suruh pak Aris." Kata Cantika sembari menepuk bahu Wahyu dengan keras "Auh... Kebiasaan sih kalo mau minta tolong pasti mukul dulu. Huh... Untung cewe." Kata Wahyu dengan nada kesal. "Yeee gitu aja marah sih." Ucap Cantika lalu ia pergi dari dapur menuju lantai atas. Sesampainya di lantai atas ia segera mengetuk pintu ruangan pak Aris. Tok.... Tok.... "Permisi, Bu. Saya di suruh pak Aris untuk memanggil Ibu." Ucap Cantika dari luar. Ceklek... "Cantika..." . . . . . Ada yang kepo dengan kisah ini, yuk jangan lupa tetap kasih ulasan dan dukung terus kisah Cantika
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN