AMPLOP COKLAT

1847 Kata

Gadis itu menanggalkan seluruh pakaian di depan cermin wastafel dan menatap bayangannya sendu. Terdapat memar di d**a, lengan, bahkan hampir di seluruh badannya. Hati dan pikirannya tidak pernah satu. Melihat keadaan dirinya, otaknya selalu memaksanya agar lari sejauh mungkin dari pria kasar tersebut, tetapi perasaannya selalu mendesaknya agar tetap bertahan. Jena menghela napas berat. Pikirannya makin berkecamuk. Jena selalu berpikir, bahwa Matthew adalah satu-satunya pria yang mau menerima masa lalu dan dirinya apa adanya. Tidak ada rumah terbuka baginya selain pria kasar itu. Karena itu, Jena selalu berpikir bahwa ia tidak boleh terlibat lebih jauh dengan orang lain. Baginya, Matthew saja cukup.. Melihat bagaimana baiknya Sagara, Jena berpikir bahwa itu pasti karena Sagara belum tahu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN