Selepas kepergian Jena, Sagara mendapatkan telepon dari Papanya. Sebelum mengangkat telepon tersebut, Sagara mengernyitkan dahinya lantaran merasa aneh dengan panggilan telepon tersebut. "Halo?" "Abang! Kemana sih? Lama banget angkat telponnya!" gerutu Samudera, papa Sagara yang terdengar mendengus kesal di ujung sana. “Ada apa, Pa?” tanya Sagara dengan nada enggan yang kentara. "Papa ada di depan butikmu." Sambungan telepon langsung terputus begitu saja setelah Samudera mengatakan jika pria berumur tersebut berada di lantai dasar kantornya. “What the–” Sagara sampai kehilangan kata-kata, pria itu bergegas keluar dari ruangannya dengan tergesa. Ia bahkan tidak tahu siapa saja yang sudah ia lewati. Ia tak peduli. Ia sangat kesal karena Papanya. Sagara bahkan mengabaikan Abram yang su

