chapter 6

982 Kata
Bab 19: Perhatian Tiga Penyihir Level S Di ibu kota Zefeal, tempat di mana hanya penyihir-penyihir terkuat yang berkuasa, tiga penyihir level S merasakan getaran energi yang luar biasa. Mereka adalah sosok yang disegani, dengan kekuatan yang mampu mengubah jalannya sejarah. Ketiganya — Eliza, penyihir elemen cahaya yang dikenal dengan ketajaman intuisi dan kekuatan penyembuhannya; Gorr, penyihir elemen tanah yang tak tergoyahkan; dan Ragnar, penyihir elemen api dengan kekuatan yang begitu dahsyat sehingga bisa membakar seluruh desa dengan satu mantra. Eliza adalah yang pertama kali merasakan aura misterius tersebut. Saat ia sedang berada di puncak menara di ibu kota, tiba-tiba ia terdiam, merasakan sebuah energi asing yang muncul entah dari mana. “Eliza, kau merasakan itu?” tanya Gorr, yang tampak gelisah. “Iya… ini adalah aura yang sangat kuat. Namun, entah kenapa terasa berbeda, seolah-olah terdapat tiga elemen yang bergejolak di dalamnya,” jawab Eliza dengan alis berkerut. “Hmm… sepertinya kekuatan itu berasal dari luar ibu kota. Energi petir dan hitam, mungkin?” Ragnar menyela, suaranya terdengar serius. “Elemen hitam… sudah lama sekali sejak terakhir kali kita mendeteksi kekuatan sejenis ini. Tapi, kita tahu bahwa elemen hitam adalah yang paling berbahaya.” “Jadi, siapa yang bisa memiliki energi sebesar ini di desa terpencil?” Gorr bertanya, tampak kebingungan. Eliza mengangguk, matanya menatap jauh ke arah sumber energi itu. “Seseorang telah membangkitkan kekuatan yang luar biasa di desa luar. Kita harus mencari tahu siapa orang ini. Kekuatan seperti ini dapat menjadi ancaman atau sekutu, tergantung dari siapa pemiliknya.” Ragnar tersenyum tipis. “Aku akan turun tangan. Mungkin penyihir muda ini bisa menjadi salah satu kekuatan yang bisa kita manfaatkan — atau, jika tidak, aku bisa memastikan dia tidak menjadi ancaman.” Bab 20: Lennos di Bawah Pengawasan Di desa, Lennos tidak menyadari bahwa tiga penyihir terkuat di ibu kota telah memperhatikan keberadaannya. Lennos masih sibuk berlatih bersama Zuna dan Felza, berusaha mengasah kemampuannya tanpa mengungkapkan elemen hitam dan petir yang ia miliki. Namun, sejak kejadian pertemuan dengan monster, Lennos merasakan sesuatu yang tidak nyaman, seolah-olah ada seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan. Suatu sore, saat ia dan teman-temannya selesai berlatih, Lennos berbicara kepada Zuna dan Felza. “Apakah kalian merasa ada sesuatu yang aneh?” tanya Lennos, suara hatinya dipenuhi kecemasan yang tidak bisa dijelaskan. “Tidak juga… kenapa kau bertanya begitu?” jawab Felza, menatapnya dengan bingung. “Entahlah. Mungkin aku hanya merasa gelisah tanpa alasan,” jawab Lennos sambil mencoba tersenyum, meskipun di dalam hatinya ia merasa bahwa ada sesuatu yang sedang mendekati mereka. Bab 21: Perintah Tersembunyi Di dalam menara ibu kota, Ragnar menerima perintah rahasia dari Dewan Penyihir untuk menyelidiki Lennos. Dewan tidak ingin mengambil risiko jika kekuatan baru yang mereka deteksi adalah ancaman bagi ibu kota. Oleh karena itu, Ragnar diberi wewenang penuh untuk menyelidiki dan menguji Lennos. “Ragnar, kau punya izin penuh. Temui penyihir muda ini dan bawa dia ke ibu kota jika dia menunjukkan potensi. Jika dia berbahaya, kita tahu kau dapat menanganinya,” kata salah satu anggota Dewan. Ragnar mengangguk. “Aku akan memastikan bahwa tidak ada ancaman bagi Zefeal,” katanya dengan senyum tipis. Bab 22: Pertemuan Tak Terduga Beberapa hari kemudian, Lennos sedang berada di hutan untuk mengumpulkan tanaman herbal. Saat itu senja, dan ia merasa bahwa ada seseorang yang mendekatinya. Saat ia menoleh, seorang pria tinggi dengan aura menakutkan berdiri di hadapannya. “Kau… siapa kau?” Lennos bertanya, hatinya berdebar. Pria itu tersenyum dingin. “Namaku Ragnar. Aku datang dari ibu kota.” “Ibu kota?” Lennos tertegun. “Apa yang kau lakukan di sini?” “Aku hanya ingin mengenal siapa pemilik energi luar biasa yang kami rasakan dari sini. Apakah itu kau, Lennos?” Ragnar berkata dengan nada dingin, matanya tajam meneliti Lennos. Lennos merasa terkejut. Ia berusaha menyembunyikan ketakutannya. “Aku… aku hanya seorang penyihir desa. Aku tidak tahu apa yang kau maksud.” Namun, Ragnar hanya tertawa kecil. “Tidak usah berpura-pura. Kami bisa merasakan energi hitam dan petir darimu. Kekuatan seperti ini sangat jarang, dan kami tidak bisa membiarkan sesuatu yang tidak kami ketahui berkeliaran bebas. Jadi, aku ingin mengujimu.” Ragnar mengangkat tangannya, mengeluarkan api yang menyala-nyala. Lennos merasa terpojok, tetapi dalam hatinya, ada sesuatu yang bergejolak — kekuatannya bangkit. “Jika kau berhasil bertahan, mungkin kau bisa menjadi sekutu kami. Jika tidak… maka, anggap ini sebagai pelajaran,” Ragnar berkata, mulai menyerang. Lennos menghindari serangan api Ragnar dengan cepat, tetapi ia tahu bahwa kekuatannya masih belum cukup untuk melawan penyihir level S. Namun, saat serangan berikutnya datang, Lennos tak sengaja mengaktifkan kekuatan petirnya. Sebuah petir menyambar dari tangannya, mengarah ke Ragnar. Ragnar terkejut, tetapi ia segera mengelak. “Menarik… jadi kau memang memiliki kekuatan petir. Namun, aku tahu kau juga memiliki elemen hitam. Tunjukkan padaku apa yang bisa kau lakukan!” desak Ragnar. Lennos merasa berada di bawah tekanan luar biasa. Ia takut menggunakan elemen hitamnya, khawatir akan dianggap sebagai ancaman dan dijauhi oleh teman-temannya. Tetapi, dalam situasi seperti ini, ia tidak punya pilihan lain. Dengan tekad yang semakin kuat, Lennos membiarkan kekuatan hitamnya keluar, menciptakan aura kegelapan di sekelilingnya. Ragnar menyeringai, terkesan dengan keberanian Lennos. “Bagus… kau memang berbeda dari penyihir desa biasa. Kau bisa menjadi sekutu yang kuat bagi kami di ibu kota, jika kau belajar mengendalikan kekuatanmu,” Ragnar berkata sambil menurunkan tangannya. “Apa maksudmu?” Lennos bertanya dengan suara gemetar. “Kau punya pilihan, Lennos. Kau bisa tinggal di desa ini dan terus menjadi penyihir desa biasa, atau ikut bersamaku ke ibu kota dan berlatih untuk menjadi lebih kuat,” Ragnar menjelaskan. “Dengan kekuatanmu, kau bisa menjadi pahlawan atau… penguasa. Pilihan ada padamu.” Lennos terdiam, terkejut dengan tawaran tersebut. Ia memikirkan teman-temannya dan kakeknya, tetapi juga terbayang peluang untuk menjadi lebih kuat dan mungkin mewujudkan impiannya. Bab ini berakhir di tengah keraguan Lennos: akankah ia mengikuti Ragnar ke ibu kota, atau tetap tinggal di desanya bersama kakeknya dan sahabat-sahabatnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN