Bab 23: Pilihan Lennos
Lennos menatap Ragnar dengan penuh tekad. Tawaran untuk berlatih di ibu kota adalah kesempatan yang tak mungkin ia tolak, tetapi ada satu syarat yang ia tahu akan menentukan segalanya.
“Aku akan ikut denganmu ke ibu kota,” kata Lennos. “Tapi, aku punya syarat.”
Ragnar menaikkan alisnya, tampak terkejut namun penasaran. “Syarat? Kau berada di posisi yang sulit, Lennos. Syarat apa yang kau maksud?”
“Sahabat-sahabatku, Zuna dan Felza, harus ikut bersamaku. Mereka juga memiliki elemen cahaya, dan mereka bercita-cita untuk menjadi pahlawan. Jika aku harus meninggalkan desaku, aku ingin mereka juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk berlatih di ibu kota,” jawab Lennos, suaranya tegas.
Ragnar menyeringai. “Menarik. Kau tahu, tidak mudah memasukkan penyihir desa ke ibu kota, apalagi sekolah sihir. Tapi, jika teman-temanmu memiliki elemen cahaya, mungkin ada pengecualian. Tentu saja, mereka harus menunjukkan potensi mereka.”
“Dan satu lagi,” Lennos melanjutkan. “Aku ingin belajar di sekolah sihir terbaik di ibu kota.”
Ragnar terdiam sejenak, seolah-olah sedang menimbang permintaan Lennos. Akhirnya, ia mengangguk perlahan. “Baiklah, Lennos. Aku bisa mengatur agar kalian diterima di sekolah sihir. Tapi ingat, sekolah sihir di ibu kota bukan tempat yang mudah. Di sana hanya yang terkuat yang mampu bertahan, dan mereka yang lemah akan tersingkir.”
“Terima kasih, Ragnar. Aku siap menerima tantangan apa pun untuk menjadi lebih kuat,” jawab Lennos dengan mantap.
Bab 24: Persiapan Perpisahan
Keesokan harinya, Lennos memberitahukan kabar ini kepada kakeknya dan teman-temannya. Zuna dan Felza terkejut, tetapi mereka sangat senang dengan kesempatan untuk belajar di ibu kota bersama Lennos. Mereka tahu, kesempatan ini adalah awal dari petualangan baru.
“Kakek,” kata Lennos, “aku akan pergi ke ibu kota untuk belajar sihir dan menjadi lebih kuat. Aku ingin membanggakanmu dan membalas semua yang kau ajarkan.”
Kakeknya terdiam, lalu tersenyum dengan bangga. “Lennos, aku tahu kau sudah siap. Ingatlah, dunia di luar sana sangat berbeda dari desa ini. Berhati-hatilah dan tetap jaga dirimu.”
“Terima kasih, Kakek. Aku akan kembali suatu hari nanti dan menceritakan semua pengalaman yang kutemui,” ujar Lennos dengan mata berkaca-kaca.
Zuna dan Felza juga berpamitan kepada keluarga mereka masing-masing, dan meski berat, mereka tahu perjalanan ini adalah langkah penting menuju impian mereka.
Bab 25: Memasuki Ibu Kota Zefeal
Setelah persiapan selesai, Ragnar membawa Lennos, Zuna, dan Felza menuju ibu kota. Saat mereka mendekati kota, ketiganya terkagum-kagum dengan pemandangan bangunan megah dan menara tinggi yang menjulang di langit. Di sini, para penyihir elit dari seluruh negeri berkumpul dan berlatih, dan ketiganya menyadari betapa besar tantangan yang akan mereka hadapi.
“Selamat datang di ibu kota, Zefeal,” kata Ragnar. “Di sini, tidak ada tempat bagi yang lemah. Kalian harus menunjukkan nilai kalian atau akan segera dikeluarkan dari sekolah.”
Lennos menatap kota besar itu dengan mata penuh tekad. “Aku akan membuktikan bahwa aku bisa. Aku datang ke sini untuk menjadi yang terkuat.”
Ragnar tersenyum kecil. “Kita lihat saja. Besok, kalian akan menjalani tes penerimaan di Akademi Sihir Arcanum. Di sana, kalian akan diuji dan dinilai apakah kalian layak belajar di akademi ini.”
Zuna dan Felza tampak tegang, tetapi Lennos meletakkan tangan di pundak mereka. “Kita datang ke sini bersama, dan kita akan menghadapi ini bersama.”
Mereka bertiga menatap ibu kota dengan penuh semangat, siap menghadapi tantangan yang ada. Petualangan mereka di dunia sihir baru saja dimulai, dan masa depan penuh misteri menanti mereka di Akademi Sihir Arcanum.