Monolog batin Suci: > “Doni. Laki-laki yang selalu merasa berhak karena pernah bantu. Yang mengira aku harus membayar dengan kesetiaan, padahal dia sendiri tak pernah berani terang-terangan mengikatku. Dan sekarang... saat aku mulai bicara dengan seseorang yang melihatku bukan karena utang budi, tapi karena aku Suci—dia marah?” Suci menaruh ponselnya. Matanya tajam, tapi bibirnya tenang. “Kalau ini perang… aku gak akan jadi korban.” --- Di tempat lain, Doni duduk di dalam mobil mewahnya, mengamati rumah Suci dari kejauhan. Di sampingnya, sopirnya berkata pelan, “Pak, ini kita lanjut ke tempat meeting atau...?” Doni tidak menjawab langsung. Matanya masih tertuju ke rumah kecil di Blok E. > “Kalau Suci milih Rian... kita lihat seberapa jauh dia bisa main aman. Saya juga bis

