Rian berdiri di depan kaca dapur, menyeduh kopi pagi dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya sibuk membalas email kantor lewat ponsel. Sejak pindah ke rumah pojok Blok E, suasana hidupnya memang jadi… tidak sesepi yang ia kira. Bahkan pagi ini saja, saat dia membuka pagar, sudah terdengar suara dari seberang jalan: “Eh, Mas Rian udah jogging belum?” Suara centil itu jelas milik Eva, yang kebetulan “live” di teras dengan pakaian olahraga ketat warna neon, sambil pura-pura membetulkan tripod. Rian tersenyum sopan. “Belum, Mbak. Baru mau ngopi dulu.” Lestari, yang sedang lewat sambil bawa totebag belanja, langsung nimbrung, “Kopi tuh enaknya diminum rame-rame, Mas. Gak baik sendiri terus.” Rian hanya mengangguk kecil. “Nanti saya undang satu komplek buat ngopi deh, biar adil.” Su

