Di dalam rumah nomor 7 Blok E, Eva berdiri di depan ring light ukuran besar, wajah sudah full makeup sejak pukul tujuh pagi. Background-nya: tirai beludru ungu yang dibelinya diskon dari online shop tetangga. Di rak gantungan belakangnya, berjajar rapi berbagai jenis “pakaian dinas” untuk para wanita mandiri—daster seksi, blazer ketat, hingga seragam perawat dengan detail belahan mencurigakan.
“Assalamualaikum, cantiiik-cantiiik semuanya! Welcome back di LIVE EvaSexyStyle—tempat kalian belanja sambil tertawa, tanpa takut ditinggal mantan!” serunya lantang, bibir merah menyala dan tawa manja sudah jadi ciri khasnya.
Komentar masuk deras:
🩷 “Kak Evaaaa makin glowing ajaa”
💄 “Itu yang seragam perawat kak, bisa COD?”
🔥 “Minta yang warna olive dong, yang bisa goyang juga~”
Eva mengangkat satu baju ke kamera—daster satin merah dengan potongan bahu terbuka dan pita di d**a. “Nah ini nih, cocok buat kamu yang mau keliatan 'niat' masak mie instan tapi tetap berkelas. Bayangkan, kamu nyambut suami... eh, mantan suami... atau tetangga barumu yang masih single 🤭”
Sambil tertawa, dia pose sedikit ke kiri, angkat kaki, dan menjepit ujung daster. Seksi tapi tetap lucu. Itulah gaya Eva: gak pernah setengah-setengah.
Tiba-tiba, notifikasi WA muncul di layar ponselnya:
📥 Suci: "Kita jadi bikin lomba masak. Siapin outfit andalan. Jangan norak, ya."
Eva menjulingkan mata ke layar. “Tsk. Norak katanya...” gumamnya. Lalu ia angkat baju baru lagi—blazer ketat warna putih gading dengan rok pensil mini.
“Ini, ciwi-ciwi... kalau kalian mau masak sambil tetap keliatan kayak sekretaris pribadi Pak Rian, ini pilihan yang pas banget!”
LIVE makin panas, orderan makin masuk. Tapi jauh di dalam dirinya, Eva tahu satu hal: semua ini bukan cuma jualan. Ini perang wibawa antar janda. Siapa paling modis, paling lucu, paling cepat viral—dialah yang punya peluang menaklukkan Rian.
Setelah satu jam penuh, Eva mengakhiri live-nya.
“Jangan lupa follow, klik love, dan stay sexy—karena kita gak butuh validasi, cuma butuh pencahayaan yang bagus. Byeee!”
Begitu live selesai, Eva duduk dan melepas wig poni sampingnya. Dia menatap cermin.
Sebentar lagi lomba masak. Tapi buat Eva, itu bukan sekadar kompetisi dapur. Itu catwalk. Dan dia akan pastikan: spotlight tidak akan pernah meninggalkannya.
***
Baru saja Eva selesai membereskan baju-baju yang tadi ia tampilkan di live, notifikasi berbunyi.
Bukan dari s****e. Bukan dari grup “Janda Sexy Blok E.”
Tapi dari satu nama yang tidak pernah ia simpan sebagai “Mr. X” — hanya simbol 💼❌.
📥 💼❌: “Butuh kamu malam ini. Hotel biasa. Jangan bilang siapa-siapa.”
Eva menatap layar ponsel itu lama. Bukan karena kaget—karena pesan seperti itu selalu datang rutin. Tapi karena rasa aneh yang muncul setelahnya: capek. Campur getir. Dan sedikit... kosong.
Ia tidak pernah cerita tentang Mr. X ke geng-nya. Tidak ke Suci, padahal Suci selalu merasa tahu segalanya. Tidak ke Nurlita, walau mereka sering share skincare. Dan apalagi ke Lestari—yang belakangan makin jarang bergosip dan mulai terlihat 'damai' entah karena siapa.
Mr. X adalah pria mapan. Punya perusahaan distribusi alat berat, rumah tiga lantai di Jakarta Selatan, dan... istri sah yang dikenal anggun dan aktif sosialita. Tapi di balik layar, dia punya Eva. Atau mungkin, Eva-lah yang diam-diam menyerahkan sebagian dirinya ke Mr. X—untuk sentuhan, untuk pelukan saat sunyi, dan untuk rasa 'dibutuhkan' yang tidak bisa ia dapatkan dari dunia panggung janda sexy.
Eva berdiri. Membuka lemari kecil di samping tempat tidurnya. Di sana ada satu kotak berisi parfum mahal, lipstik merah tua, dan lingerie hitam tipis yang hanya ia pakai saat bersama Mr. X.
Ia ragu sejenak.
Tangan kirinya memegang ponsel. Tangan kanannya menyentuh pakaian itu.
Lalu, seakan mendengar suara dari balik dinding, ia teringat tawa Suci di pagi tadi.
“Yang buru-buru biasanya cuma lapar, bukan cinta.”
Eva menghela napas.
Lalu membalas pesan itu:
📤 💼❌: “Oke. Jam berapa?”
Beberapa detik, tak ada balasan.
Lalu...
📥 💼❌: “20.00. Aku butuh kamu. Seperti biasa.”
Eva menutup layar ponsel, berdiri, dan berkata ke bayangannya di cermin, “Oke, sayang. Tapi besok, aku tetap bakal menangin lomba masak itu.”
Karena Eva tahu satu hal:
Dalam hidup, kadang cinta harus dijual mahal... dan belaian bisa jadi senjata. Tapi harga diri? Harus tetap dipilih dengan sadar.
Suara notifikasi kembali terdengar.
📥 💼❌: “Sudah aku transfer. Kamar 709. Kartu akses ada di resepsionis atas namamu.”
Eva membuka aplikasi mobile banking.
Angka itu muncul seperti mantra: cukup besar untuk satu bulan belanja, cukup manis untuk menipu hati yang mulai lelah.
Ia tersenyum kecil. “Ah, kamu memang tahu caranya membuat wanita merasa... penting.”
Setengah jam kemudian, Eva memasuki lobi hotel mewah yang terletak di tengah kota. Sepatunya berdetak pelan di lantai marmer, parfum yang dikenalnya sebagai “senjata rahasia” sudah menyelimuti kulitnya. Gaun hitamnya pas di tubuh, tidak terlalu terbuka, tapi cukup untuk membuat kepala menoleh.
Resepsionis hanya mengangguk saat melihat KTP dan menyerahkan kartu kamar.
Di dalam lift, Eva melihat pantulan dirinya di dinding stainless.
“Bukan cinta,” gumamnya, “tapi cukup untuk bertahan malam ini.”
---
Pintu kamar terbuka dengan klik sunyi. Aroma ruangan dingin langsung menyambutnya—wangi lavender dan linen mahal. Lampu temaram menciptakan bayangan lembut di dinding. Di dalam, pria itu sudah menunggu. Kemeja putih digulung ke siku, rambutnya sedikit acak, wajahnya lelah tapi mata tetap menyala saat melihat Eva masuk.
“Lama,” katanya pelan.
Eva hanya tersenyum, melepaskan tasnya ke sofa, lalu duduk di pinggir ranjang. “Aku harus ganti lipstik tiga kali. Kamu tahu preferensimu terlalu spesifik.”
Dia tertawa kecil. Langkahnya pelan mendekat. Hanya satu meter di antara mereka, tapi terasa seperti medan yang penuh dengan rahasia. Tangan Mr. X menyentuh pipi Eva—bukan terburu-buru, tapi seperti menghafal tekstur kenangan.
“Malam ini aku butuh kamu,” bisiknya.
Eva tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata sesaat. Membiarkan detik-detik itu bergulir perlahan, sampai sentuhan jadi isyarat, dan keheningan jadi bahasa yang paling jujur.
Dalam remang cahaya, dua sosok itu larut dalam kebisuan yang tak membutuhkan banyak kata—bukan karena cinta, tapi karena keterhubungan yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan. Bukan gairah sesaat, tapi tempat pulang yang tak pernah benar-benar jadi rumah.
Di sela napas yang saling menempel, Eva berbisik, “Kamu tahu aku gak bisa nunggu kamu selamanya, kan?”
Mr. X diam. Tapi genggamannya erat. Dan malam pun terus berjalan—lambat, sunyi, dan penuh kesepakatan tak tertulis.