Agasta jadi merasa bersalah karena menanyakan hubungan Danica dan Prasaja yang justru merembet pada kisah sedih atara Danica dan ibunya. Sedikitnya Agasta menyalahkan dirinya sendiri yang bodoh. Padahal dengan melihat tanggal meninggalnya Manika di batu nisan, harusnya Agasta sudah bisa mengira-ngira bahwa ada hal tragis dalam kehidupan Danica. Saat remaja sebayanya, bersorak dengan kelulusan, Danica justru digelung dengan kedukaan. Reaksi alam manusia, ketika kedukaan menerjang, dan ada seseorang di dekatnya, maka keberadaannya bukan hanya sekedar ada, tetapi dibutuhkan. Danica menyandarkan kepalanya di lengan Agasta dan pria itu mengusap pipi Danica. Yang satu membutuhkan kekuatan, satunya memberikan tak hanya kekuatan, tetapi juga perlindungan. "Eh..., aduh..., salah...." Mbok Min ya

