Suara gaduh terdengar dari kamar Rahadyan. Agasta dan Danica pun melangkah gegas melihat apa yang terjadi di sana. Rahadyan berusaha berdiri, lelaki paruh baya itu sudah berada di lantai dengan posisi duduk yang aneh. Wajahnya mengernyit dalam dan dari bibirnya keluar desis kesakitan. Agasta mencelat mendekati Rahadyan dengan kepanikannya. Meski begitu, dia tetap lembut saat membantu Rahadyan berdiri. Dituntunnya pria renta itu sampai ke tempat tidur. Danica bergegas merapikan bantal, menumpuknya menjadi dua di bagian sandaran tempat tidur. Rahadyan duduk dengan posisi sedikit merebah. Posisi yang santai. “Bapak butuh apa? Kenapa turun dari tempat tidur? Kan Bapak bisa panggil saya atau Mbok Min,” ucap Agasta dengan nada khawatir yang tidak bisa disamarkan. Danica menatap Agasta denga

