Farah merasa tubuhnya sedang disambar petir yang sangat dahsyat. Bukan hanya suara menggelegarnya yang membuat tubuh Farah tersentak dan kemudian bergetar, tetapi hunjaman mata Yuni yang seperti sebilah belati yang bersiap menyerang jika sedikit saja Farah menyampaikan kata penolakan. Farah benar-benar terkejut hingga tubuhnya tegang. Bahkan menangis pun tidak bisa, air mata hanya menetap di pelupuk mata, takut untuk luruh. "Ma...ma...maksud Tante...?" tanya Farah dengan suara gemetaran. "Jangan salah paham." Wajah Yuni menjadi sangat lembut. Ia meraih jemari Farah dan menangkup di atas jemarinya sendiri. Dibelainya sayang punggung tangan Farah. Yuni harus bisa membuat Farah nyaman. Memastikan Farah mau menganggapnya sebagai ibu peri. "Farah..., ayahmu dan keluargamu kan bukan orang ya

