Setelah menempuh perjalan Selama 1 jam 30 menit di dalam pesawat akhirnya mereka sampai di Bandara International Changi Singapore (SIN).
Saat ini mereka ber-lima sedang berkeliling di bandara yang masuk dalam jajaran bandara terbaik di dunia.
“mama mama” panggil Aydin menggoyangkan tangan Selena yang dia genggam, membuat Selena dan Xavier yang sedang membahas pekerjaan langsung berhenti dan mengalihkan perhatiannya kepada si bungsu.
“there’s bookstore” ucap Aydin menunjuk toko buku yang bernama Times Junior.
“Aydin mau kesana?” tanya Selena yang di balas anggukan oleh Aydin.
“okay, ayo kita liat-liat kesana” ajak Selena langsung berjalan menuju Times Junior, salah satu bookstore khusus anak-anak yang bertempatan di Jewel Changi Airport terminal 1 lantai 4, Selena pernah kesini satu kali ketika mantan atasannya dulu membelikan oleh-oleh untuk anaknya dan tempat ini menurut Selena sangat recomended untuk para orangtua yang ingin menyenangkan anaknya karena di dalamnya cukup lengkap dan bisa dikatakan ini adalah surga anak-anak.
“mama mama, Aslan mau ini” semangat Aslan mengambil mainan mobil-mobilan dan juga pesawat yang berada di rak terdepan, sedangkan Kanzie dan Aydin sudah pergi mencari buku yang mereka inginkan.
“no, kita kesini nyari buku bukan mainan” ucap Selena menggelengkan kepalanya. Aslan yang mendengar larangan dari Selena langsung menatap Xavier dengan mata memohonnya.
“okay” jawab Xavier cepat yang langsung di balas tatapan tajam oleh Selena.
“yess” senang Aslan
“kenapa? Aslan mau dan saya punya uang” ucap Xavier tanpa rasa bersalah.
“Aslan sayang” panggil Selena membuat Aslan yang memeluk mainannya langsung berhenti dan beralih menatap Selena.
“Aslan, menurut Aslan lebih penting buku apa mainan?” tanya Selena berjongkok menghadap Aslan dan mengelus kepalanya lembut sambil menatapnya dengan penuh kasih sayang.
“buku” jawab Aslan menundukkan kepalanya.
“Aslan lebih butuh Buku apa mainan?” tanya Selena lagi sambil mendongakkan wajah Aslan dengan kedua tangannya agar menatapnya.
“buku mama” jawab Aslan menatap Selena
“buku? Tapi kenapa Aslan ambil mainan? Mama nggak ngelarang Aslan beli mainan, Aslan boleh kok beli mainan tapikan sekarang Aslan lebih butuh buku. Dari awal juga bilangnya Aslan kepengen beli buku bukan mainan” Xavier yang melihat Aslan sedih dengan penolakan yang dia dapat sedikit merasa kesal kepada Selena karena dia bahkan bukan siapa-siapa, Selena tidak berhak mendidik anaknya apalagi melarang anak-anaknya karena dia bukan ibunya tapi ntah kenapa Xavier tidak bisa menghentikannya otaknya menyuruh dia untuk menyadarkan Selena akan posisi wanita itu tapi hatinya menyuruhnya untuk diam dan tidak ikut campur atas pembicaraan mereka berdua.
“jadi gimana? Aslan mau tetep ambil mainan atau ambil buku kayak kakak sama adek?” tanya Selena memberikan Aslan pilIhan
“Aslan lebih butuh buku, jadi Aslan mau ambil buku” pilih Aslan menatap Selena yakin meskipun dimatanya masih menunjukkan ketidak relaan.
“good boy, sekarang taruh mainan yang Aslan ambil ke tempatnya.” perintah Selena yang di turuti oleh Aslan, langsung berlari menuju rak dan menaruh kembali mainan yang dia ambil.
“kamu terlalu berlebihan” protes Xavier setelah kepergian Aslan.
“kenapa tadi bapak nggak negur saya?” tanya Selena menatap Xavier tepat di matanya membuat Xavier tertegun.
“kan bapak yang bilang kalau saya tidak boleh memanjakan mereka dan yang tadi saya ingin Aslan bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan.” jawab Selena
“he’s just a kids Selena, kita bisa didik mereka tentang itu nanti” bantah Xavier yang tanpa sadar menyebutkan kata “kita” membuat Selena tertegun sebentar tetapi dia langsung menyadarkan dirinya lagi bahwa Xavier hanya salah sebut saja.
“pak, itu adalah hal dasar yang harus di tanamkan pada anak sejak dini karena pembentukan karakter anak itu dimulai ketika anak masih kecil bukan ketika besar” Jawab Selena menimpali perkataan Xavier. Xavier yang mendengar perkataan Selena hanya bisa terdiam karena itu memang tidak salah.
“Dan juga pak…” lanjut Selena sambil mendekatkan tubuhnya membuat Xavier menatap Selena. “…bukan Kita, tapi bapak yang mendidik mereka saya hanya membantu” ucap Selena setelah itu pergi menuju tiga krucilnya dan itu sukses membuat Xavier speechless di buatnya.
“shitt--- why she’s so cute” ucap Xavier setelah tersadar lalu menatap punggung Selena yang mulai menjauh darinya.
“sayang, udah belom?” tanya Selena mengelus kepala Kanzie yang berdiri di belakang Aslan dan Aydin.
“udah ma tinggal nunggu Aslan sama Aydin” jawab Kanzie sambil menunjuk Aslan dan Aydin yang sedang berdebat.
“kenapa?” tanya Selena menyentuh pundak Aslan dan Aydin
“buku Aslan di ambil Aydin” adu Aslan sambil memeluk buku yang dia mau.
“tapi Aydin yang liat duluan mama, waktu Aydin mau ambil kak Aslan ambil duluan” jelas Aydin menunjuk buku yang di peluk Aslan.
“bukunya buat tante, kalian pilih yang lain. kalau kalian mau baca yang ini izin ke tante dulu” omel Selena mengambil buku yang di pegang Aslan, membuat mereka berdua cemberut dan pergi mencari buku yang lain.
“Kanzie nggak mau ambil lagi?” tanya Selena mengelus pipi Kanzie halus.
“enggak ma, satu aja cukup” jawab Kanzie
“yakin? Aslan sama Aydin aja udah dapet dua loh” ucap Selena
“Kanzie mau ambil lagi, tapi buku disini mahal ma” jawab Kanzie membuat Selena tersenyum.
“ambil aja yang Kanzie mau, jangan bingung uang kalo uang tante habis uang papa kamu masih banyak” ucap Selena sambil bercanda membuat Kenzie tersenyum senang.
“okay, Kanzie mau ambil buku yang tadi nggak jadi Kanzie ambil” ucap Kanzie senang langsung berlari menuju rak yang berada di pojok sendiri.
“anak-anak masih belum Selesai juga?” tanya Xavier yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Selena.
“belum pak, sabar aja” jawab Selena menatap Xavier.
“suruh cepetan jangan sampe nanti malem di acara baru dateng mereka langsung rewel minta pulang karena ke capek an” perintah Xavier kepada Selena yang sedang mengawasi gerak-gerik Kanzie, Aslan dan Aydin.
“10 menit lagi pak, kasian mereka jarang bisa main keluar” Xavier yang mendengar jawaban Selena langsung terdiam menatap perempuan di depannya dengan tatpan yang dalam. “kamu nggak mau jadi mama mereka?” tanya Xavier tiba-tiba tanpa sadar membuat Selena terkejut sekaligus bingung dengan pertanyaan spontan atasannya ini.
“maksud saya mereka panggil kamu mama-mama terus sedangkan kamu panggil diri sendiri tante, saya kasian sama mereka karena itu saya tanya kamu begitu. Kamu boleh anggap mereka anak kamu sendiri kalau kamu mau” ucap Xavier yang segera tersadar dari pertanyaannya, meskipun di otaknya dia pernah berfikir dan membayangkan untuk menjaDikan Selena Mama untuk anak-anaknya.
Apa terlalu cepat untuknya berfikir begitu? Love first sight sangat menyusahkan padahal umurnya sudah memasuki kepala tiga.
“pak, bapak sakit ya?” tanya Selena heran memegang kening Xavier untuk mengecek suhunya. “normal kok pak” ucap Selena menatap Xavier tepat di matanya.
“saya nggak sakit, saya sehat” ucap Xavier menjauhkan tangan Selena dari dahinya.
“ya habisnya, bapak tiba-tiba bicara begitu kan saya jadi takut pak” Xavier yang mendengar hanya bisa menaikkan satu alisnya ke atas. “sebelum saya ketemu bapak saya sudah lebih dulu ketemu anak-anak bapak setiap malem dan waktu lunch juga kita Selalu vidio call bareng, di awal saya udah anggap mereka anak saya sendiri yaa… meskipun harus pikir ulang setelah saya tau kalau mereka anak bapak” ucap Selena membuat Xavier penasaran.
“kenapa?” tanya Xavier menatap Selena dengan mengerutkan dahinya.
“ya gimana ya pak…nggak enak gitu masa anak atasan panggil saya mama kan saya bukan ibunya, ditambah belum tentu bapak suka saya takut bapak marah terus saya di pecat karena di nilai tidak sopan karena sudah ngaku-ngaku jadi mamanya. Kan anak bapak juga atasan saya jadi saya takut pak” jelas Selena dengan senyuman tidak enak nya.
Xavier yang mendengar penjelasan Selena tersenyum geli mendengarnya, terlambat sekali Selena berfikir seperti itu padahal setiap hari Selena Selalu mengomelinya dan kerap kali berbicara bahasa informal bahkan beberapa kali dia memergoki Selena mengumpatinya ketika merasa kesal. Oh, dan jangan lupakan bagaimana dia mengomeli anak-anaknya bahkan di hadapannya sendiri.
“kamu boleh jadi mama anak-anak saya anggap aja saya yang nyuruh kamu, santai saja. Lagi pula mereka sudah menganggap kamu mamanya jadi sudah terlambat juga saya melarang” jawab Xavier dengan senyumannya membuat Selena juga tersenyum.
“saya boleh ngatur mereka?” tanya Selena yang dibalas anggukan oleh Xavier.
“nyuruh mereka?” Xavier menjawab dengan anggukan lagi.
“gimana kalau marahin mereka?” tanya Selena
“Selagi mereka yang salah nggak papa” jawab Xavier
“bawa mereka buat tinggal kerumah saya?”
“iy--nggak, inget mereka anak-anak saya” jawab Xavier datar membuat Selena tertawa.
“bercanda kok pak hehehe…” jawab Selena dengan tertawa.
“sopan kamu bercanda gini sama atasan?” tanya Xavier datar menunduk menatap Selena yang hanya setinggi dadanya saja.
“kan udah bukan jam kerja pak” jawab Selena membuat Xavier menaikkan satu alisnya
“kamu sekertaris saya” jawab Xavier
“tapi saya bukan asisten pribadi bapak, dan sesuai perjanjian tugas saya Selesai jam empat sore” bantah Selena
“pinter banget ngeles nya, gini mau dibilang sopan” cibir Xavier membuat Selena tersenyum dengan bodohnya.
“sana panggil anak-anak, saya nggak mau kita terlambat” perintah Xavier yang di balas anggukan oleh Selena.
“oh iya Selena” panggil Xavier membuat Selena yang sudah berjalan menjauh membalikkan badannya menghadap Xavier.
“kamu boleh panggil saya Xavier ketika jam kerja Selesai” ucap Xavier, membuat Selena mengernyitkan dahinya bingung tapi setelah itu tersenyum.
“anda yang suruh saya begitu, jadi jangan menyesal dan berubah pikiran” jawab Selena tersenyum sambil menatap Xavier dengan tatapan jailnya.
Bersambung....