Semesta ke-Dua Puluh Satu

1968 Kata

Alika beberapa kali melirik ke depan. Sekarang ia sedang makan siang bersama keluarga Kalani dan Saka, orang yang paling ingin dihindarinya, kini duduk persis di depannya. "Nggak dimakan, Lik?" tanya Cakra. Alika hanya tersenyum tipis dan melanjutkan makannya. "Nanti Alika SMA langsung di sekolah yang sekarang atau mau pindah?" Alika melirik ke Lina. "Belum tahu." "Kalau langsung lanjut di sana, berarti nanti jadi adik kelasnya Saka, dong. Maksudnya, nggak beda gedung juga." "Tapi kan Sakanya udah lulus," ujar Saka. "Oh, iya." Cakra mengangguk pelan. Saka kemudian melirik ke Alika dan tersenyum miring, membuat Alika berdecak. Kenapa dia harus bertemu cowok itu di sini. Usai makan, Alika langsung kabur ke teras. Dia duduk di kursi dekat kolam kecil di taman depan. Matanya meng

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN