Lady Queen sedang makan di kantin. Mereka sedang bercanda-canda, banyak yang diam-diam melirik mereka terpesona karena melihat Lady Queen yang biasa memasang wajah triplek mereka tiba-tiba tertawa lepas disana. Mereka semua terlihat sangat cantik.
Terutama Aletha, dia yang paling sering memasang wajah tripleknya. Kali ini ia bisa tersenyum bahkan tertawa. Jarang sekali seorang Aletha mau tertawa lepas seperti itu, sebuah kemajuan yang sangat pesat.
Tiba-tiba kantin langsung hening, kecuali Lady Queen tentunya, karena para Lord King datang ke kantin dan langsung duduk di meja yang diduduki Lady Queen. David langsung duduk di samping Aletha. Aletha menoleh sebentar lalu kembali bercanda lagi dengan ketiga temannya. Merasa diabaikan, David memakan bakso Aletha dengan santainya.
"Dave jangan dimakan sih. Beli sendiri sana!" dengus Aletha kesal dengan David.
"Makanya gue jangan dicuekin." David merajuk pada Aletha. Aletha memutar bola matanya malas. Sedangkan Lady Queen dan Lord King terkikik melihat kelakuan dua ketua mereka.
"Plis deh Dave jangan kaya anak kecil."
"Letha jahat sama Dave. Hati Dave serasa kegores beribu-ribu belati." Ucap Dave mendramatisir.
Fix kali ini Lady Queen dan Lord King tidak bisa menahan tawa mereka melihat David yang biasa terlihat cool tiba-tiba menjadi kekanakan di depan Aletha.
Seluruh murid di penjuru kantin melihat mereka aneh dan kagum. Aneh karena biasanya Lady Queen dan Lord King yang biasanya tidak pernah akur malah sekarang terlihat sangat akrab, terutama ketua dari masing-masing geng tersebut.
Kagum karena kecantikan dan ketampanan mereka yang bertambah karena mereka tertawa.
Disela orang-orang yang terpana melihat mereka, ada satu orang yang terlihat sangat benci pada satu titik, yaitu Aletha.
'Lo udah berani deketin orang yang gue suka. Awas lo Aletha!' Batin seseorang itu.
"Oh iya Leth, hari ini lo ada pemotretan sore nanti. Bareng gue aja ya,” ucap David tiba-tiba yang dihadiahi pelototan oleh Aletha.
"Pemotretan?" Nando mengerutkan keningnya.
"Letha pemotretan?" Glen juga melakukan hal yang sama dengan Nando.
"Emang Letha model?" Tambah Dimas.
David menatap Aletha polos, Aletha mendengus kesal. Sedangkan Lady Queen bersikap biasa saja karena mereka sudah tau jika Aletha adalah seorang model.
"Iya, gue model." Aletha menghela nafasnya karena mau tau mau ia harus mengaku pada ketiga makhluk kasat mata didepannya itu.
"Kok gue gak pernah liat ya." Ucap Dimas.
"Sama, gue juga." Tambah Nando.
"Etapi kok muka Aletha kaya familiar ya, mirip model siapa gitu gue lupa." Glen mencoba menggali ingatannya.
"Letha itu Enzy." Celetuk Oliv.
"Nah iya dia! Letha mirip banget sama model yang namanya Enzy." Ucap Glen berbinar saat berhasil mengingat nama model tersebut walaupun dibantu oleh celetukan Oliv.
"Dasar telmi banget dih." Serena menjitak Glen.
"Tau tuh padahal tadi udah dibilang sama Oliv." Audy memutar bola matanya malas.
"Nah kalian udah tau kan? Jadi bisa dirahasiain dong ya?"
"Tenang aja Leth, pasti kita rahasiain kok."
"Good."
~~~
Saat ini Aletha dan David sedang berada di tempat pemotretan. David yang masih setia memotret Aletha dan Aletha yang masih berpose. Aletha adalah model yang sangat profesional jadi David tidak perlu susah payah untuk mengatur pose yang bagus untuk Aletha karena Aletha sendiri sudah mengetahui pose yang bagus.
Klik klik klik
"Ok Leth angkat dagunya sedikit, ya bagus. Nengok ke kiri Leth."
Klik klik klik
"Yap selesai, makasih semua buat kerja kerasnya hari ini." David tersenyum pada semua staff lalu melihat hasil jepretannya dengan senyum yang terukir di bibirnya.
'Kamu cantik banget Leth.' Batin David.
"Gimana Dave?" Aletha menghampiri David yang sedang melihat hasil jepretannya.
"Bagus Leth, seperti biasa posse lo keliatan natural banget. Doh jadi makin sayang." David mengedipkan sebelah matanya yang dibalas dengusan oleh Aletha.
"Iya dong, gue kan udah profesional. Siapa sih yang gak kenal model cantik yang namanya Enzy? Pasti pada kenal semua lah." Aletha membanggakan dirinya.
"Itu jatohnya sombong Leth." David mencubit pelan hidung Aletha.
"Yee sirik aja sih." Aletha memeletkan lidahnya.
"Kalo gitu gue juga dong, kan gue yang ambil gambarnya." Dave ikut membanggakan dirinya.
"Tapi tetep aja yang terkenal itu modelnya."
"Kalo gak ada gue juga lo gak akan dipotret, Leth."
"Masih banyak kok fotografer profesional yang mau motret gue."
"Ya ya ya gue bakal selalu kalah kalo debat sama ketuanya Lady Queen yang bawel ini." David mengelus rambut Aletha.
"Iya dong, mana mungkin Lord King bisa ngalahin Lady Queen yang kece ini."
"Mulai deh pedenya." Cibir David.
"Biarin yee."
"Iya iya, yaudah gue anter pulang ya? Kan gue gak mau kalo kesayangan gue diculik gimana?" Aletha terkikik lalu mengiyakan ajakan David.
Mereka berjalan menuju mobil David bersama. David memeluk pinggang Aletha posesif. Biasanya Aletha akan merasa risih jika dipeluk seperti itu, tapi tidak untuk sekarang. Dia malah merasa ... nyaman? Benarkah?.
~~~
Mereka sudah sampai di rumah keluarga Storm. Rumah yang sebenarnya sangat ingin dihinari oleh Aletha. Tapi mau tidak mau ia harus pulang.
"Leth, gue langsung balik aja ya. Lo jangan lupa istirahat."
"Iya, lo juga ya." David mengangguk lalu mencium kening Aletha.
Aletha memejamkan matanya sambil tersenyum. Entah kenapa ia merasa nyaman dan bahagia. Apa dia menyukai David? Atau bahkan sudah menyayanginya? Entahlah ia masih bingung dengan perasaannya sendiri.
David tersenyum dan mengelus rambut Aletha lalu segera masuk ke dalam mobilnya. Aletha menatap kepergian David sambil tersenyum. Hari ini Aletha banyak tersenyum. Apa karna David yang selalu disampingnya? Mungkin bisa jadi. Yang penting hari ini Aletha Bahagia dan semoga tidak ada yang merusaknya.
Aletha memasuki rumah dengan hati gembira. Saat ia ingin membuka pintu, pintu itu sudah dibuka oleh Alexa. Baru saja dibilang semoga tidak ada yang merusak kesenangan Aletha, tapi perusaknya sudah muncul dihadapannya.
"Wah enak ya jalan bareng sama most wanted guy di sekolah. Pake pelet apa lo hah sampe lo bisa deket banget sama pacar gue?" Sinis Alexa.
"Pacar lo? Gak salah? Sedangkan Dave sendiri pernah bilang ke gue kalo dia muak banget sama kelakuan lo," ucap Aletha dingin.
"Lo! Berani lo ya!"
"Jangan mentang-mentang lo disayang sama kedua orangtua lo, lo bisa seenaknya gitu sama gue. Gue gak pernah takut sama lo walaupun lo ngumpet di ketiak mereka. Selama ini gue udah cukup sabar sama kelakuan lo, tapi inget sabar itu ada batasnya. Dan kalo sampe kesabaran gue abis, gue bisa ngelakuin apa yang gak bisa lo bayangin ke lo. Lo pasti tau kelakuan gue gimana bukan di sekolah? Dan gue gak keberatan buat lakuin apa yang gue suka. Camkan itu." Aletha melewati Alexa sambil tersenyum sinis.
~~~
Saat ini Aletha sudah siap dengan dress peach selutut dibalut blazer hitam dengan heels 7cm warna hitam. Ia memoles wajahnya dengan make up natural dan tak lupa ia menata rambutnya dengan rapi.
Hari ini ia ada pertemuan dengan DN Group untuk membicarakan kontrak kerja mereka. Kali ini ia yang akan langsung menemui CEO mereka, karena pertemuan sebelumnya dilakukan oleh sekretarisnya saja karena CEO mereka sedang ada keperluan mendesak.
Saat ini Aletha sedang berada di apartement miliknya dan apartemen ini salah satu dari LA Group. Untung saja tempat pertemuan dengan clientnya dekat situ. Jadi ia tidak perlu terlalu terburu-buru berangkatnya.
Drrttt drrttt
Sinta's Calling
"Ya Sinta?" Aletha mengangkat panggilan yang ternyata dari sekretarisnya.
'Bu, saya sudah siapkan berkas meeting bersama DN Group. Sekitar 30 menit lagi mereka sampai disini.'
"Yaudah kamu tunggu saya, saya berangkat sekarang."
'Iya Bu.'
Klik
Aletha memutuskan panggilannya lalu langsung pergi menuju LA Corp, tempat mereka meeting. Untung saja jalanan tidak terlalu macet jadi hanya membutuhkan waktu 20 menit.
Saat sampai di perusahaan, Aletha langsung disambut oleh sekretarisnya.
"Berkasnya udah siap Sinta?"
"Udah Bu, ada di ruangan Ibu." Aletha mengangguk lalu langsung berjalan menuju ruangannya diikuti oleh Sinta.
Client dari DN Group sudah datang dan menunggu si ruang meeting. Aletha berjalan menuju ruang meeting dengan Sinta di belakangnya.
Terlihat dua orang laki-laki sedang duduk di ruang meeting sambil memunggungi mereka. Aletha melongo melihat siapa clientnya. Benarkah apa yang dilihat kedua bola matanya saat ini? Atau ia harus membuktikannya dengan melempar sepatu ke orang itu?
"Selamat siang, nama saya Sinta, sekretaris dari Letha Aurelia, CEO dari LA Group.” Ucap Sinta memperkenalkan Aletha.
"Selamat siang, nama saya Indra, sekretaris dari Nicholas David Alexander, CEO DN Group." Salah satu laki-laki memperkenalkan CEO DN Group yang ternyata dia adalah David yang Aletha kenal.