Tujuh

1460 Kata
"Selamat siang Miss Letha, bisa kita mulai meeting nya hari ini?" David mengedipkan sebelah matanya pada Aletha. Aletha memutar bola matanya malas melihat kelakuan David. "Siang Mr. Alexander, tentu saja bisa. Dan saya harap anda bisa bersikap professional selama meeting berlangsung." Ucap Aletha sambil menekankan kata 'profesional'. "Tentu saja Mrs. Alexander, saya akan profesional walaupun saya adalah kekasih anda sendiri." Ucap David sambil menekankan kata 'Mrs. Alexander' dan 'kekasih' tak lupa dengan seringaian yang tercetak di wajah tampannya. Aletha melongo dan ingin sekali menelan David hidup-hidup. Sinta dan sekretaris David terkikik melihat kedua bos mereka yang menurut mereka sangat lucu. "Dave sialan, Dave k*****t, Dave b**o, Dave sinting, Dave s***p, mati aja kek lo sialan!" gerutu Aletha pelan yang masih bisa didengar dengan jelas oleh David. "Gue denger loh Leth." David terkikik melihat kelakuan Aletha. "Mati ae lo sono k*****t!" teriak Aletha frustasi seraya melempar pulpen yang ada di meja meeting, tapi sayang David sudah lebih dulu menghindari lemparannya. "I love you too stupid Leth." Ucap David kalem. "Ehem Mr dan Mrs. Alexander bisa kita mulai meetingnya sekarang?" Sinta berdehem sambil tersenyum jahil pada Aletha. "Sinta, gaji kamu saya potong setahun mau?” Aletha tersenyum manis menatap sekretarisnya. Sinta hanya mengeluarkan cengirannya, karena tahu bahwa Aletha tidak mungkin melakukan hal itu. "Ehem bisa kita mulai?" Tanya sekretaris David yang cukup tampan membuat Aletha sadar akan kebodohannya. "Ehehe bisa kok bisa maaf tadi kkebablasan, lagian situ punya bos kok ngeslin banget." Aletha mengeluarkan cengirannya lalu memasang wajah serius. "Baik jadi ...." Aletha berdiri dan menjelaskan program kerja sama mereka dengan serius dan profesional. Tidak ada Aletha yang bar-bar dan troublemaker saat meeting, yang ada hanya Aletha yang dewasa dan pandai. Ia menjelaskan program kerja sama dengan sangat teliti hingga membuat David kagum. Bahkan saat ini David tidak percaya bahwa orang di hadapannya ini adalah Aletha. David tidak berhenti menatap ke arah Aletha. Ia sangat terpesona pada Aletha. Bahkan sekretaris David yang ada di sebelahnya ingin sekali memukul kepala bosnya itu, tapi diurungkannya karena dirinya masih sayang gajinya. "Saya rasa cukup untuk penjelasan dari saya. Apakah kalian setuju dan jika ada yang kurang jelas bisa ditanyakan pada saya." Aletha menyelesaikan pemaparannya tentang proyek dan program kerja sama antara dua perusahaan besar itu. "Saya rasa penjelasan anda sudah cukup rinci jadi saya tidak ada pertanyaan lagi. Baiklah semoga kita bisa bekerja sama dengan baik Miss Letha." David mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Aletha. "Saya harap juga begitu Mr. Alexander." Aletha menerima uluran tangan itu. "Baiklah meeting kita akhiri sekarang. Selamat siang." Semuanya berdiri lalu meninggalkan ruang meeting kecuali Aletha dan David. Aletha sedang membereskan berkas bekas meeting sedangkan David sedang sibuk, sibuk memperhatikan Aletha maksudnya. "Loh Dave kok gak pergi?" Aletha mengerutkan keningnya ketika menyadari bahwa David masih ada di ruang meeting. "Nanti aja ah, gue masih mau sama lo." David berjalan ke arah Aletha lalu memeluknya dari belakang. Ia menenggelamkan kepalanya di lekukan leher Aletha. "Dave apaan sih? Ini lagi di kantor gue, nanti kalo ada yang liat gimana? Gak enak kan," dengus Aletha sambil mencoba melepaskan pelukan mereka tapi David malah mengeratkan pelukannya. "Gue sayang sama lo Leth. Dari dulu sampe sekarang." David mengecup leher Aletha. "D-Dave jangan bercanda deh, gak lucu tau." Aletha tiba-tiba gugup, karena entah sejak kapan Aletha juga mulai menaruh hati pada David. Perasaan itu datang dan mengalir begitu saja. "Gue gak bercanda Leth, gue serius sayang lo. Gue bukan tipe orang yang romantis, gue juga bukan orang yang suka ngumbar kata cinta, gue tau kalo gue dianggep playboy tapi yang harus lo tau, gue sayang sama lo, gue cinta sama lo. Aletha McKenzie Storm, would you be mine?" Dave melepaskan pelukan mereka lalu memutar tubuh Aletha menghadapnya dan menetap mata Aletha. 'Tatapan mata Dave penuh ketulusan.' Batin Aletha. "Yap, I’m already yours." Jawab Aletha sambil tersenyum. Senyum David merekah. "Beneran? Thank you Mrs. Alexander." David memeluk Aletha erat dan mencium puncak kepala Aletha. Ia sangat bahagia karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Aletha tersenyum dalam dekapan David. Ia juga merasa senang, hatinya serasa berbunga-bunga. Ayolah, siapa yang tidak senang jika cintanya diterima oleh orang yang ditunggu setelah sekian lama? "Habis ini kamu mau kemana?" tanya David sambil menggenggam tangan Aletha. "Balik ke apartemen kayaknya, aku males di rumah. Berasa neraka rumah tuh." "Aku anter mau? Harus mau sih sebenernya. Aku maksa soalnya." David menaik-turunkan kedua alisnya. Aletha memutar bola matanya malas, ia tidak bisa menolak, bukan? "Yaudah ayo, lagian gak bisa nolak juga kan." Aletha dan David berjalan keluar ruang meeting dengan David yang selalu memeluk pinggang Aletha posesif. Ia ingin menunjukkan pada semua orang bahwa Aletha adalah miliknya. Ia juga benci banyak pria di kantor itu yang menatap Aletha kagum. ~~~ Aletha dan David sudah sampai di apartemen Aletha. Aletha menekan password lalu segera masuk diikuti David. David melihat apartemen Aletha yang bisa dibilang mewah. Jelas saja mewah, apartemen itu bagian dari LA Group. David duduk di sofa diikuti Aletha disampingnya. Rasanya lelah padahal Aletha hanya mengikuti satu meeting karena tidak ada jadwal lagi. Paling hanya beberapa pekerjaan yang saat ini diambil alih oleh sekretarisnya. "Aku bikin minum dulu. Jus jeruk aja gak papa ya? Soalnya cuma ada jeruk di kulkas, belom sempet beli apa-apa." David tersenyum lalu mengangguk. Aletha segera beranjak ke dapur dan membuatkan David jus jeruk. Beberapa menit kemudian Aletha membawa jus jeruk di tangannya. Satu untuk David, dan satu lagi untuk dirinya. "Ini minumnya." Aletha memberi jus jeruk itu pada David yang langsung diterimanya. Aletha juga meminum jus miliknya. "Kamu rada gak naro sianida, baygon, racun, karbol, atau spesies lainnya kan?" "Engga kok, tapi kalo tiba-tiba kamu muntah paku ya berarti santetnya berhasil,” ucap Aletha santai. "Wah, ternyata kamu ada bakat tersembunyi ya. Boleh tuh kita pake buat ngilangin saingan bisnis kita." David mencubit pipi Aletha menggunakan tangan kirinya karena yang kanan sedang memegang jus jeruk. "Ih sakit jangan dicubit." David melepaskan cubitannya. "Iya iya maaf." David mengelus pipi Aletha yang sedikit merah karena ia cubit barusan. Aletha mengerucutkan bibirnya. "Udah jangan ngambek deh." David mengacak rambut Aletha gemas karena kekasihnya sangat lucu menurutnya. "Dave!" Teriak Aletha kesal lalu meminumkan jus itu dengan paksa ke mulut David hingga sedikit belepotan di samping bibir dan juga tumpah ke bajunya. Aletha tersenyum penuh kemenangan sambil memeletkan lidahnya. Sekarang malah David yang mengerucutkan bibirnya. Untung saja David selalu membawa baju ganti di mobilnya, jadi ia bisa segera mengganti bajunya. Karena tidak mungkin ia terus memakai baju yang terkena tumpahan jus. Mereka berdua bermain di apartemen Aletha. Permainan anak-anak tentunya seperti monopoli, ular tangga, hingga game aneh yang membuat hampir seluruh wajah Dave dan Aletha dipenuhi oleh jepitan baju dan coretan lipstick milik Aletha. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. "Dave, pulang yuk? Udah jam segini soalnya." "Yaudah ayo." "Aku ganti baju dulu tapi, gak enak banget masih pake kemeja gini." Aletha memang masih memakai kemeja saat meeting tadi, ia malas mengganti pakaian tadi, karena dia kita tidak akan lama di apartemennya, tapi kenyataannya lumayan lama. David  mengangguk lalu Aletha langsung masuk ke kamarnya untuk berganti kaos oblong serta celana jeans pendek serta jaket baseball. Untuk sepatu ia lebih suka menggunakan flat shoes sehingga perbandingan tinggi antara Aletha dan David cukup jauh karena Aletha bisa dibilang cukup pendek, berbanding terbalik dengan David yang bisa dibilang cukup tinggi. ~~~ Mereka sudah sampai di rumah keluarga Storm. David keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Aletha. "Dih sejak kapan kamu jadi spesies gentle gini?" Aletha menaikkan sebelah alisnya. "Biarin sih, sama pacar sendiri ini. Daripada gentle sama pacar orang lain? Kamu mau emang?" David memeletkan lidahnya. "Ya gak papa juga sih, tapi kalo misalnya kamu besok muntah beling itu aku yang buat ya." Aletha menyeringai. David bergidik ngeri membayangkan apa yang diucapkan kekasihnya itu, “Kok kamu horror sih.” Aletha menaikkan sebelah alisnya, “Dih baik gini juga, lagian pacar kamu siapa coba?” "Itu loh Aletha McKenzie Storm, Enzy, Aletha Aurelia, Letha Aurelia,” jawab David sambil menghitung menggunakan jari tangannya. "Hmm pacar kamu banyak juga ya dasar genit ckck dasar cowok." "Tau tuh padahal pacar cuma satu loh tapi namanya banyak banget berasa kaya teroris." Pletak Pletak Aletha dengan senang hati menjitak David, "Enak aja dih pacar sendiri dibilang teroris." "Sakit Sayang ih masa aku dijitak." "Makanya jangan asal ngomong,” Aletha memutar bola matanya malas tapi tetap mengusap kening David yang baru saja ia jitak. "Udah enggak, kan udah dielus sama kamu." David mengedipkan sebelah matanya. "Genit banget ya kamu. Awas ya kalo kamu gini ke cewek lain nanti aku mutilasi kamu terus dagingnya aku buang ke Danau Toba buat makanan piranha." Seketika David berpikir apa di Danau Toba ada piranha atau tidak. "Horror ya kamu, lagian aku gak bakal genit kok. Aku masih cukup waras dan masih mau idup. Lagian buat apa coba genit ke yang lain, kalo yang di depan mata aja udah nyenengin.” David memeluk Aletha dan mengecup keningnya. Aletha mencubit kedua pipi David, "Bagus. Yaudah aku masuk ya. Inget kamu langsung pulang, jangan kelayapan nyari cabe-cabean di lampu merah." "Iya iya Letha sayang." David mencium kening Aletha lagi. "Bye." Aletha mencium pipi David lalu langsung masuk ke dalam rumahnya. "Oh jadi ini toh w************n yang ngambil pacar Alexa, anak saya?" "Padahal David itu pacar kakaknya sendiri tapi masih diambil juga. Kekurangan stok laki-laki apa gimana?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN