"Apa maksud kalian?" tanya Aletha dingin pada Farah dan Dedi.
‘Demi kerang ajaib, baru juga pulang. Kayaknya gue gak boleh banget nafas barang sebentar aja,’ batin Aletha lelah.
"Kamu itu tuh emang dasar gak tau malu apa gimana? Gak bosen ya kamu ngambil kebahagiaan Alexa?!" Farah meninggikan suaranya.
Aletha benar-benar lalah dan memijit pelipisnya, “Bisa jelasin maksud kalian apa? Ngambil kebahagiaan Alexa? Apa gak kebalik?” Sepertinya Aletha harus memperbanyak stok kesabarannya lagi.
"Kamu rebut David dari Alexa kan? Harusnya kamu tuh sadar kalo David itu kekasih kembaran kamu sendiri. Kok bisa tega sih kamu rebut kebahagiaan orang lain,” jelas Dedi dengan tidak habis pikir dengan kelakuan Aletha.
Ingin sekali Aletha membenturkan kepalanya ke tembok. Ayolah, apa ini benar-benar bukan membalikkan fakta? Bagaimana bisa Aletha memiliki saudara kembar seperti Alexa. Sungguh licik dan selalu berlindung dimanjakan kedua orangtua mereka.
Alexa menyeka air mata yang terus keluar dari matanya, “Kok lo jahat sih Leth? David itu cowok gue, gimana bisa lo rebut dia dari gue? Gue udah sayang banget sama David.” Farah menarik Alexa ke pelukannya, ia sungguh tidak tega melihat anak kesayangannya menangis seperti ini.
"Udah ngomongnya?" tanya Aletha tenang dan dingin. Dia benar-benar sudah lelah dengan orang-orang yang sebenarnya keluarga kandungnya sendiri.
"Makin dewasa makin berani ngelawan orangtua ya kamu? Nyesel Papa ngehidupin kamu selama ini.”
"Mama juga ngelahirin kamu ke dunia ini. Kalo tau kamu bakalan ngebangkang kaya gini mending dari dulu tuh kamu ditaro di panti asuhan. Daripada cuma nyusahin aja kerjaannya!"
"Ok sekarang saya yang bicara ya Nyonya dan Tuan Storm. Kalian bilang dari tadi bilang saya ngerebut kebahagiaan orang lain? Kalian bilang saya rebut David dari Lexa tanpa denger dulu penjelasan saya yang jelas-jelas David itu kekasih saya?
Kalo kaya gini aja kalian nganggep saya ngambil kebahagiaan orang lain, lah apa kabarnya anak kalian? Berapa kali dia ngambil kebahagiaan saya? Gary, mantan kekasih saya saja anak kalian deketin, padahal dia tau kalo saya sudah jalanin hubungan selama empat tahun. Saya ingetin ya, empat tahun itu bukan waktu yang singkat. Tapi ya gak papa juga sih, kalian cocok kok sama-sama gak tau diri.
Dan untuk lo yang katanya sodara kembar gue. Jangan sok-sok berlagak tersakiti gitu padahal hati lo busuk. Apa yang lo bisa itu Cuma berlindung dibalik ketiak orangtua lo aja? Apa lo itu sebenernya punya obsesi milikin semua cowok gue ya? Dasar murahan. Kemaren Gary, sekarang David juga ikutan? Lo gak laku apa gimana? Gak habis pikir sih gue. Padahal cantik ya, tapi kok gini banget sih.
Buat yang terakhir, kalo saya bisa milih mending saya di panti asuhan. Kayaknya lebih nyaman disbanding disini. Isinya bikin emosi semua,” ucap Aletha dingin sambil memasang wajah yang terlihat sangat muak dengan ketiga orang di depannya.
"Gue deketin Gary? Gak mungkin lah, gue masih bisa dapetin yang lebih dari dia. Emang dasar cowok lo aja tuh yang gatel. Dan lo tuh harusnya ngaca, lo itu gak pantes buat David. David cuma pantes buat orang kaya gue, jadi gue harap lo jauhin David. Kalo lo nolak, gue bakal buat hidup lo gak tenang." Alexa meremehkan Aletha.
Aletha menatap Alexa seperti melihat orang terbodoh di dunia. Benarkah Alexa bisa membuat hidupnya tidak tenang? Apa tidak terbalik? Atau mungkin Alexa lupa citranya di sekolah? Ayolah, Aletha tidak akan keberatan jika harus menyiksa Alexa di sekolah. Toh itu pasti menyenangkan.
"Tau tuh, apa sih bagusnya kamu? Udah bodoh, troublemaker, gak tau diri, malu-maluin, pembuat onar. Mana mungkin seorang David mau sama kamu," cibir Farah tidak habis pikir apa yang dilihat David dari Aletha.
"Kamu itu gak bakal bisa dibandingin sama Alexa. Alexa itu udah pinter, anggun, cantik, berprestasi, punya banyak piala, piagam, medali sama penghargaan yang lain, selalu buat bangga keluarga. Sedangkan kamu? Kamu itu cuma buat malu nama baik keluarga. Mana pernah kamu bikin orangtua bangga? Yang ada Cuma nyusahin dan bikin sakit kapala. Kamu itu bodoh jadi mana mungkin punya hal yang membanggakan keluarga." Dedi menatap Aletha sinis.
"Ini nih yang ngaku-ngaku jadi orangtua saya? Kalian bahkan gak tau apa-apa tentang saya. Gak pinter, gak ada yang membanggakan, prestasi? Keberatan buat nunggu sebentar? Saya mau ngasih liat kalian sesuatu. Dan siapin diri buat gak kaget dan narik kembali ucapan kalian." Aletha berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Ia memasukkan semua piala, piagam, medali dan penghargaan lainnya yang ia dapat ke dalam tiga karung besar. Setelah selesai, ia menyeret tiga karung besar itu ke halaman depan rumah.
Alexa dan kedua orang tuanya bingung melihat karung-karung itu. Mereka mengikuti Aletha ke halaman depan dan melihat Aletha menuangkan isi ketiga karung tersebut. Dan seperti dugaan Aletha, kedua orangtuanya terkejut melihat banyaknya penghargaan yang dimiliki oleh Aletha dan itu lebih banyak dari milik Alexa.
Aletha menyeringai lalu masuk lagi ke dalam rumahnya mengambil minyak tanah serta korek. Ia menuangkan minyak tanah itu ke semua penghargaannya lalu membakarnya di hadapan kedua orang tuanya dan Alexa. Sungguh pemandangan indah saat melihat ekspresi terkejut kedua orangtuanya.
"Gak punya hal yang dibanggakan eh? Siapa bilang? Kalian yang gak tau apapun tentang saya. Jadi kalo punya mulut jangan asal ngomong dan asal nilai sembarangan. Kalo dibandingin sama anak kesayangan kalian, prestasi dia gak ada apa-apanya disbanding milik saya." Aletha langsung pergi dari hadapan mereka bertiga.
"Mau kemana kamu hah?! Mama belom selesai ngomongnya!" teriak Farah menahan kepergian Aletha.
"Bukan urusan kalian." Jawab Aletha dingin tanpa menoleh kearah mereka bertiga.
"Loh dek kamu mau kemana?" Nathan yang baru pulang dari rumah temannya melihat Aletha yang akan pergi.
"Letha mau pergi bang, Letha gak kuat tinggal disini. Bisa gila nanti Letha kalo kelamaan disini nahan emosi."
"Kamu mau pergi? Pergi kemana hah? Emang punya tujuan? Duit aja gak megang. Paling kurang dari 24 jam juga balik lagi ke rumah ini." Sinis Dedi.
"Iya-iya saya gak punya uang, nanti saya bisa ngamen atau mulung kok." Aletha sudah cukup bersabar saat ini. Dia harus segera pergi agar kepalanya tidak pecah.
"Terus kamu nanti tinggal dimana dek? Biar abang bisa nengokin kamu." Nathan mengelus rambut Aletha.
"Letha tinggal di apartemen Letha, nanti Letha kirimin alamatnya ke Abang," bisik Aletha karena tidak ingin kedua orang tuanya mendengar. Nathan hanya menganggukkan kepalanya.
"Yaudah Letha pergi ya." Aletha memeluk Nathan lalu mencium pipinya.
"Iya, hati-hati Dek, jaga diri kamu. Atau perlu Abang anter aja?"
"Gak usah bang. Letha naik taksi aja." Nathan mengangguk. Aletha langsung pergi meninggalkan rumah itu.
~~~
Aletha memasuki sekolah menggunakan Audi R8 miliknya. Ia mengabaikan semua tatapan para murid yang terkejut melihatnya. Ia berjalan di koridor dengan wajah datarnya. Banyak yang memperhatikan Aletha tapi Aletha tidak menghiraukan mereka semua.
"Wow dateng ke sekolah pake mobil mahal. Dibayar berapa lo sama om om?" Alexa dan dua pengikut setianya menghadang Aletha. Aletha tidak menanggapi ucapan Alexa, ia langsung pergi meninggalkan Alexa dan kedua temannya.
Alexa yang geram karena tidak ditanggapi oleh Aletha langsung mengejar dan menjambak rambut Aletha. Aletha tetap diam dan tidak melawan saat dijambak ia tetap memasang wajah datarnya. Bahkan meringis kesakitan pun tidak.
"Udah?" tanya Aletha dingin.
"Lo! Berani lo ya!" teriak Alexa dan melayangkan tangannya untuk menampar Aletha, tapi segera ditepis. Aletha menarik kerah seragam Alexa lalu memojokkan Alexa ke dinding.
"Lo tau gimana gue di sekolah ini kan? Lo tau gimana gue kalo bully orang kan? Lo gak mau bernasib sama kaya mereka dong pastinya, lo kan anak manja. Gue gak ngebully lo karna gue masih nganggap lo kembaran gue walaupun lo enggak. Jadi jangan pernah nyari gara-gara sama gue. Tapi kalo lo mau coba dibully sama Lady Queen bisa dicoba tuh, apalagi ditambah sama Lord King yang notabenya ketuanya itu pacar gue. Bakal jadi apa ya lo nantinya? Ah pasti seru banget. Dan lebih serunya lagi gue gak bakal dikeluarin dari sekolah ini walaupun gue udah bully siapapun disini,” bisik Aletha di telinga Alexa lalu pergi dari hadapan Alexa.
Alexa bergidik ngeri. Ia lupa bahwa saudara kembarnya itu orang yang seperti ini.
Aletha memasuki kelasnya lalu duduk di samping Serena lalu menaruh kepalanya di meja. Hari masih pagi tapi sudah ada yang membuatnya emosi. Semoga nanti siang tidak ada lagi yang menyulut emosinya.
"Lo kenapa Leth?" Tanya Serena.
"Gue gapapa Ser, cuma mau gila aja ini gue kayaknya," jawab Aletha sambil memejamkan matanya.
"Walaupun gue udah tau kalo lo emang gila dari lahir, tapi tetep gue tawarin, lo mau ke UKS gak? Gue anterin deh,” tawar Audy.
"Gak usah Dy, gue cuma butuh tidur doang kok."
"Yakin Leth? Gue khawatir nih," bahkan Oliv yang biasanya paling tidak peka dengan keadaanpun mengkhawatirkan Aletha.
"Iya Liv, udah ah kalian ganggu terus. Gue mau tidur gak jadi-jadi ini." Dengus Aletha.
"Iya iya."
~~~
Kriing kriing
Bel istirahat sudah berbunyi, Aletha masih tertidur pulas. Dan pastinya tidur saat jam pelajaran.
"Kalian gak ke kantin?" Lord King memasuki kelas Aletha.
"Engga Vid, Letha lagi kaya gitu, kita gak bisa ninggalin dia." Ucap Audy.
David langsung menghampiri meja Aletha dan Serena, “Letha sakit apa?”
"Katanya dia kecapean tapi dia gak mau dibawa ke UKS." Keluh Serena.
"Tau tuh gue kan gak tega kalo Letha sakit gitu." Tambah Oliv.
"Yaudah gue yang jagain Letha, kalian ke kantin aja." Ucap David.
"Gapapa nih Vid? Tapi gue laper nih." Oliv memegangi perutnya.
"Yee emang dasar perut karet." Serena dan Audy menjitak Oliv.
"Iya gapapa, kalian sama Lord King aja sana. Eh para curut lo anter Lady Queen sono ke kantin." Perintah David.
"Iye iye." Lord King dan Lady Queen pergi ke kantin meninggalkan Aletha dan David.
"Kamu kenapa sayang? Ada masalah? Cepet sembuh ya." David mengelus rambut Aletha lalu mencium keningnya.