"Kau benar benar sakit, Kania. Kau gila." Aku mengusap bibirku kasar. "Bagaimana rasanya ciumanku tadi, mas? Panas atau membuatmu b*******h?" Ucapnya dengan senyum yang terlihat mengerikan itu. *** POV. Bayu. "Tutup mulutmu, Kania." Hardikku kasar padanya. "Jika kau menikahiku, aku bisa memberikan yang lebih dari ciuman tadi. Apa kau tidak tertarik menghabiskan malam malam penuh gairah bersamaku, mas?" Godanya sambil memainkan dan menjilati jari telunjuknya. Drrtttt .... Ponselku berbunyi, segera saja aku merogoh saku celanaku, mengambil benda pipih itu dari sana. Tangan Kania dengan cepat merebutnya dari ku. Wajahnya tersenyum sumringah. Saat melihat ke layar pipih di tangannya. "Lihat mas, siapa yang sedang meneleponmu," ucap Kania. Ta ... Raaaa! "Lihat Mas, istrimu menelpon.

