"Bu, sepertinya ada kurir ingin mengantar barang di depan." Suara Mbak Sita kembali terdengar, entah mengapa tubuhku seketika menggigil. Tuhan, jangan sampai terjadi hal buruk di rumahku. Lindungilah anakku. *** Beberapa menit sebelumnya. PoV. Bayu. Ponselku tiba tiba berdering saat rapat ini tengah berlangsung, pandangan mata sang pemimpin rapat membeliak lebar padaku, karena dering ponselku yang menginterupsi ucapannya saat rapat bulanan ini, membuatku terpaksa mengukir seringai tipis di wajah. Rapat internal divisi ini adalah rapat penting yang mewajibkanku harus hadir dan menyimak. Untunglah rapat ini sudah hampir selesai, hingga membuatku memiliki keberanian meminta izin untuk meninggalkan ruangan ini lebih dulu. Aku berjalan dan memilih berdiri di salah satu sudut kantor ini.

