"Kuberi kesempatan terakhir padamu, mas. Ikut denganku sekarang atau kubawa istrimu." "Pilihannya ada di tanganmu." *** PoV. Bayu. "Sial!" Umpatku dalam hati. Aku bergegas mengambil ponselku yang dilemparnya tadi, sayang, layar ponsel ini retak parah. Dan juga mati. Kucoba menyalakan kembali. Meski akhirnya masih bisa menyala, namun baterainya sudah hampir habis. Kucoba menelpon Alina. Syukurlah, panggilanku akhirnya terhubung. Suara Alina yang cemas kini terdengar. "M-mas, tadi Kania menelponku, ia mengancam akan menculik Diyara jika aku tak ..." Belum selesai Alina bicara, dengan cepat aku memotongnya. "Kau masih dirumah sakit." "I-iya mas." "Dengarkan aku, Alina. Jangan keluar dari rumah sakit. Aku akan pastikan kalian berdua akan baik baik saja. Karena tujuan Kania yang seb

