Bu Maryam memandang padaku dengan tatapan menyelidik. Ya tuhan, aku memang tak pandai berbohong. Tapi, haruskah aku menceritakan padanya tentang ancaman Kania padaku? *** "Kau ada masalah, nak?" tanya Bu Maryam. Aku menelan salivaku, ada rasa ingin menceritakannya, tapi, di sisi lain aku takut membuatnya emosi dan kembali terkenang akan putrinya saat nama Kania kusebutkan di hadapannya. Kuputuskan untuk diam saja dan tak menceritakan pada beliau soal ancaman ini. Namun tiba-tiba ponselku kembali berbunyi. Karena takut pembicaraanku nanti akan terdengar, aku memutuskan untuk kembali keluar dari ruangan ini, namun saat hendak membalikkan badan. Bu Maryam langsung mendelik padaku. "Kau merahasiakan sesuatu dariku, Alina?" desaknya. Aku menggigit bibirku, akhirnya hanya anggukan kepala

