Aku memandang layar ponselku. Setidaknya perasaanku kini sedikit lega karena Mas Adi sudah mengetahui masalahku. Ku usap kasar wajahku. Masih berharap jika semua ini hanyalah mimpi. Aku menoleh saat kudengar suara langkah kaki mendekat. Tampak Mbak Sita yang datang menghampiriku. "Kau sudah makan, mbak?" Tanyaku mengkhawatirkannya. Ia mengangguk, lalu duduk di dekatku. "Ibu sendiri?" Ia balik bertanya. "Aku belum sempat makan. Nanti saja," jawabku. "Setidaknya ibu makan dulu, meski sedikit. Jika ibu sakit, bagaimana dengan Diyara bu? Jam segini biasanya sebentar lagi ada penjual nasi goreng yang lewat. Aku pesankan satu ya bu," ucapnya. Aku menggeleng, disaat-saat begini. Ia masih bisa mencoba menghibur dan menguatkanku. Padahal ia sendiri juga takut, tak ubahnya denganku. "Terima

