"Jawab mama, Kania! Mengapa sampai kau berbuat nekat seperti ini. Apa kau sadar bahwa ini semua salah?" **** Bu Delia memandang murka pada putrinya, kemarahannya sangat jelas terlihat begitu juga dengan kekecewaan. Aku merasa mungkin ia tak menyangka jika putri kebanggaannya bisa melakukan hal serendah itu. Kania bungkam, ia masih meringis menahan perih sambil memegang pipinya yang memerah. Mata itu mendelik tajam pada ibunya. Seakan tak bisa menerima tudingan tersebut. Aku, Mas Bayu, Mbak Lisa, dan Mas Reyhan masih terlihat memusatkan perhatian pada ibu dan anak itu. Sepertinya tak ada seorang pun dari kami yang akan menyela pembicaraan mereka berdua karena itu diluar kewenangan. Wajah Keysa terlihat tegang, sesekali ia melempar pandangan ke arah mereka berdua secara bergantian. Meli

