Bab 88

972 Kata

Kania meringis, wajahnya kini tampak sayu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menggigit bibir bawahnya. Sikapnya terlihat tidak nyaman saat menceritakan luka lama yang tersimpan dalam hatinya itu. Beberapa saat berlalu dalam kebungkaman. Aku melirik Mas Bayu yang kini fokus memandang Kania. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, karena sepertinya ia nampak begitu tertarik dengan kisah masa lalu Kania. Kania memejamkan matanya sejenak, angin lembut nampak membelai lembut wajahnya, menggoyangkan dan menerbangkan surai hitamnya yang lebat. Seakan mencoba untuk menenangkan suasana hatinya yang masih bergejolak amarah saat ini. Beberapa saat kemudian ia kembali bicara. "Saat mengenal Jeni, aku merasa memiliki seorang teman, entahlah, mungkin karena kami sama-sama kehilangan seorang ayah. Denga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN